Satrawan Gerson Poyk Tergolek Sakit Tak Berdaya Numpang di Rumah Anaknya

gersonLAHIR di Namodale-Baa, Pulau Rote –gugusan daratan paling luar dan selatan dari wilayah Indonesia—tanggal 16 Juni 1931, kini sastrawan besar Gerson Poyk (83 tahun) tengah tergolek sakit tak berdaya. Selain tak punya uang untuk berobat, usia sepuh juga membuat sastrawan yang berhasil menyabet beberapa penghargaan ini hanya bisa tergolek lemas. Gerson Poyk sering dimasukkan dalam […]

gerson

LAHIR di Namodale-Baa, Pulau Rote –gugusan daratan paling luar dan selatan dari wilayah Indonesia—tanggal 16 Juni 1931, kini sastrawan besar Gerson Poyk (83 tahun) tengah tergolek sakit tak berdaya. Selain tak punya uang untuk berobat, usia sepuh juga membuat sastrawan yang berhasil menyabet beberapa penghargaan ini hanya bisa tergolek lemas.

Gerson Poyk sering dimasukkan dalam Angkatan 66 bersama rekan-rekan sastrawan sejawatnya yakni HB Jassin, Ajip Rosidi, dan lainnya.

Gerson mulai aktif menulis pada tahun 1950. Mula-mulai rajin menulis puisi dan baru kemudian prosa. Tahun 1961, cerpennya berjudul Mutiara di Tengah Sawah menyabet penghargaan majalah sastra.

Berikutnya, Si Keong masuk dalam antologi Cerpen Indonesian Modern yang disusun HB Jassin dalam bahasa Jerman.

Gerson Poyk pernah berkarir sebagai guru SMP dan SGA di Ternate (Maluku Utara) kurun waktu 1956-1958 dan di Bima (Sumbawa) kurun waktu 1958. Selanjutnya, juga berkarir sebagai wartawan Sinar Harapan tahun 1962-1970 dan memenangkan program Intertational Writing Program di Universitas Iowa di AS (tahun 1970-1971).

Saat berjumpa dengan Gerson Poyk tahun 1999 di sebuah acara seminar di Jakarta, saya masih menyaksikan Gerson terbilang gagah, dengan rambut sedikit jarang, namun masih punya daya ingat yang sangat kuat.

Tahun 1985 dan 1986, Gerson Poyk mendapatkan penghargaan Hadiah Adinegoro. Tahun 1989, menerima penghargaan sastra Sea Write Award dari ASEAN dan berikutnya Lifetime Achievement dari Kompas.

Namun, sejarah terus berjalan. Di usianya yang sudah sepuh ini, Gerson Poyk hanya bisa tergolek tak berdaya dan tak punya uang untuk berobat.

Kepada Sesawi.Net, seorang rekan wartawati mengabarkan, kondisi sastrawan dari kawasan NTT ini sangat memprihatinkan: sudah sakit serius karena usia tua dan –ini yang sering menyentuh hati—tidak punya uang untuk berobat dan keperluan hidup sehari-hari.

Menjawab Sesawi.Net, Ny. Fanny Poyk –salah satu anaknya—menuturkan, sekarang ini Gerson Poyk tinggal menumpang di rumahnya di kawasan Depok, Bogor, Jawa Barat. Sebelumnya, kata Ny. Fanny, “Bapak ikut tinggal di rumah salah satu adik saya.”

Para pembaca yang tergerak ingin membantu pengobatan Gerson Poyk, silakan menghubungi Ibu Fanny Poyk di HP: 81380118617.

Kredit foto: Gerson Poyk terbaring lemah di rumah Ny. Fanny Poyk (Dok. Keluarga)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply