Saran Vikjen KAJ tentang Perayaan Imlek

gong-xi-fa-chaiGEREJA Katolik sangat mendukung makna peristiwa budaya Imlek yang masih dihayati oleh sebagian orang Tionghoa yang beragama Katolik. Ada makna hormat kepada Tuhan, leluhur dan sesama manusia (yang lebih tua), syukur, persaudaraan, berbagi dan solidaritas terhadap sesama yang menderita. “Bila bicara tentang malam Imlek, ada berbagai kebiasaan bagi penganut agama Konfusianisme. Ada yang berkumpul bersama keluarga di rumah untuk berdoa kepada Tien (Tuhan) bersyukur atas tahun yang berlalu dan mohon bimbingan untuk tahun mendatang. Sepanjang pengetahuan yang amat terbatas, biasanya orang Tionghoa pada malam itu ciacay tidak mengonsumsi makanan yang berjiwa (daging, dan lainnya),”ujar Vikjen Keuskupan Agung Jakarta, Rm. Samuel Pangestu Pr tentang Imlek 2015 dalam surat edaran yang diterima Sesawi.Net, Minggu (25/01/2015). Menurut Samuel, kenapa saat malam Imlek, pantang daging adalah supaya diri dibersihkan dalam rangka menyambut tahun baru. Dan saling mengucapkan tahun baru dilakukan pada hari raya (19 Februari 2015) keesokan harinya setelah sembahyang di klenteng-klenteng dan berbagi rezeki kepada kaum papa. Biasanya Imlek dirayakan dengan makan bersama keluarga besar di rumah orangtua atau anak tertua kalau orangtua sudah meninggal dan berbagi angpao. Mengenai kebiasaan makan bersama dengan keluarga di malam Imlek, tidak diketahui kapan kebiasaan itu muncul. “Diharapkan umat beriman mempertimbangkan untuk dialog dengan budaya Tionghoa ini,”kata Romo Samuel. Samuel mengharap agar umat beriman Katolik semakin dewasa dalam memilah mana yang bermakna dari suatu ajaran Gereja dan budaya. “Karena itu, kami menawarkan arahan sebagai berikut. Rabu Abu, 18 Februari 2015 tetap berjalan seperti biasa dan perayaan Imlek dirayakan pada keesokan harinya. Umat tetap berpuasa dan pantang. Makan kenyangnya di malam Imlek bersama keluarga dengan pantang daging atau rokok atau ikan atau jajan, silakan umat berdiskresi sendiri. Pada hari raya Imlek umat beriman bisa makan bersama keluarga dalam persaudaraan setelah beribadah.”ujar Samuel.

gong-xi-fa-chai

GEREJA Katolik sangat mendukung makna peristiwa budaya Imlek yang masih dihayati oleh sebagian orang Tionghoa yang beragama Katolik. Ada makna hormat kepada Tuhan, leluhur dan sesama manusia (yang lebih tua), syukur, persaudaraan, berbagi dan solidaritas terhadap sesama yang menderita.

“Bila bicara tentang malam Imlek, ada berbagai kebiasaan bagi penganut agama Konfusianisme. Ada yang berkumpul bersama keluarga di rumah untuk berdoa kepada Tien (Tuhan) bersyukur atas tahun yang berlalu dan mohon bimbingan untuk tahun mendatang. Sepanjang pengetahuan yang amat terbatas, biasanya orang Tionghoa pada malam itu ciacay tidak mengonsumsi makanan yang berjiwa (daging, dan lainnya),”ujar Vikjen Keuskupan Agung Jakarta, Rm. Samuel Pangestu Pr tentang Imlek 2015 dalam surat edaran yang diterima Sesawi.Net, Minggu (25/01/2015).

Menurut Samuel, kenapa saat malam Imlek, pantang daging adalah supaya diri dibersihkan dalam rangka menyambut tahun baru. Dan saling mengucapkan tahun baru dilakukan pada hari raya (19 Februari 2015) keesokan harinya setelah sembahyang di klenteng-klenteng dan berbagi rezeki kepada kaum papa.

Biasanya Imlek dirayakan dengan makan bersama keluarga besar di rumah orangtua atau anak tertua kalau orangtua sudah meninggal dan berbagi angpao. Mengenai kebiasaan makan bersama dengan keluarga di malam Imlek, tidak diketahui kapan kebiasaan itu muncul.

“Diharapkan umat beriman mempertimbangkan untuk dialog dengan budaya Tionghoa ini,”kata Romo Samuel. Samuel mengharap agar umat beriman Katolik semakin dewasa dalam memilah mana yang bermakna dari suatu ajaran Gereja dan budaya.

“Karena itu, kami menawarkan arahan sebagai berikut. Rabu Abu, 18 Februari 2015 tetap berjalan seperti biasa dan perayaan Imlek dirayakan pada keesokan harinya. Umat tetap berpuasa dan pantang. Makan kenyangnya di malam Imlek bersama keluarga dengan pantang daging atau rokok atau ikan atau jajan, silakan umat berdiskresi sendiri. Pada hari raya Imlek umat beriman bisa makan bersama keluarga dalam persaudaraan setelah beribadah.”ujar Samuel.

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply