Sambung Rasa Umat Paroki Santo Lukas Pemalang

pemalangMINGGU, 31 Agustus 2014 adalah pekan elima dalam bulan dan seperti biasanya kegiatan pelayanan misa di stasi ditiadakan dan diganti ibadat sabda. Pagi hari, pukul 07.15 wib satu bus 3/4 yang berisi rombongan umat bersama pastor paroki dan beberapa mobil lainnya berangkat dari depan gereja menuju Wisma Guci Kencana. Perjalanan ditempuh kurang dari 2 jam. […]

pemalang

MINGGU, 31 Agustus 2014 adalah pekan elima dalam bulan dan seperti biasanya kegiatan pelayanan misa di stasi ditiadakan dan diganti ibadat sabda. Pagi hari, pukul 07.15 wib satu bus 3/4 yang berisi rombongan umat bersama pastor paroki dan beberapa mobil lainnya berangkat dari depan gereja menuju Wisma Guci Kencana.

Perjalanan ditempuh kurang dari 2 jam. Mengapa harus jauh-jauh?

Seharusnya acara hari ini adalah pengganti rapat pleno DPP yang bulan lalu batal karena situasi Gunung Slamet yang cukup mengkhawatirkan sehingga banyak calon peserta mundur. Uang muka Rp 6 juta akan hangus bila batal dipakai. Maka “ngiras-ngirus” menggunakan tempat yang pernah dipesan 3 bulan lalu dan daripada uang muka hangus.

Acara berlangsung dengan lancar dan dihadiri oleh 42 orang yang berasal dari perwakilan lingkungan maupun stasi. Pertemuan pagi sampai siang hari membahas tentang “Tata Penggembalaan Umat”.

Pada bagian pertama ditampilkan profil lingkungan/stasi dengan kelemahan dan kekuatannya. Dari paparan mereka diharapkan warga lingkungan lain bisa belajar sesuai dengan kondisi masing-masing.

Pada bagian kedua dipergunakan untuk sambung rasa didasari cinta pada Gereja dan gembala, memberi masukan, ungkapan maupun kesan demi perkembangan hidup Gereja dan kelangsungan tata penggembalaan umat.

Kedua romo menanggapi beberapa hal yang terungkap sambil memberi penegasan maupun solusi yang bisa ditindak lanjuti.

Masalah bersama

Beberapa hal yang muncul antara lain: keprihatinan terhadap karya pendidikan katolik yang tidak lagi diminati umat katolik, pembinaan iman di sekolah negeri dan di keluarga-keluarga katolik yang perlu ditingkatkan, pembinaan iman anak di gereja kristen yang lebih menarik anak-anak katolik bahkan dengan pemberian bantuan biaya sekolah, lalu mengenai kegiatan non liturgis yang dirasa perlu dikembangkan di lingkungan paroki misalnya olahraga, tentang penggantian kantong kolekte ke kotak kolekte yang dirasa lebih kurang praktis, dan lahan halama gereja yang sering dipergunakan untuk sepakbola anak-anak dari kampung sebelah.

Semua persoalan yang terungkap justru makin memperlihatkan Gereja yang hidup dan optimis dalam menghayatinya sebagai bagian dari paguyuban umat beriman. Gereja sebagai sebuah paguyuban mirip dengan rumah tangga yang komplit dengan permasalahannya mulai dari yang ringan ke yang berat.

Sambung rasa menjadi perlu dan menyehatkan selagi masing-masing komponen pastoral mau terbuka, dewasa dan bekerja sama untuk mewujudkan cita-cita bersama. Dari lereng Gunung Slamet sebelah utara, masih ada pemandangan hijau nan indah meski di pucuk gunung sana terlihat kawah Gunung Slamet yang mengasap, seperti kakek yang menunggui cucu-cucunya bermain, sementara sang kakek masih tetap mengisap cerutu dan menghembuskan nafasnya.

Kredit foto: Gereja Paroki Santo Lukas Pemalang, Tegal, Jawa Tengah (Ist)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply