Sunday, 21 December 2014

Salomo dan Hikmat

Ayat bacaan: Amsal 3:16
===================
“Umur panjang ada di tangan kanannya, di tangan kirinya kekayaan dan kehormatan.”

Life is full of choices. Hidup penuh dengan pilihan. Ini bukan cuma sekedar kata bijak karena rasanya kita semua tidak asing lagi dengan berbagai pilihan dan pengambilan keputusan setiap hari dalam hidup kita. Apakah besok pagi anda ingin meneruskan tidur sepuasnya atau segera bangun untuk memulai aktivitas anda,  apakah mau berdoa dan bersaat teduh terlebih dahulu atau langsung bersiap pergi kerja. Mau jujur atau curang dalam ujian atau bekerja, mau pakai baju yang kiri atau kanan, mau mengambil jalan yang terdekat tapi macet atau memutar sedikit dengan pertimbangan lebih lancar dan lain-lain, itu semua contoh hal ringan yang kita hadapi setiap harinya. Meski ringan, semua itu menunggu kita dalam mengambil keputusan, dan keputusan yang kita ambil akan membawa dampak tersendiri dalam setiap pilihan itu. Ada banyak pula pilihan-pilihan yang lebih serius seperti mau mengambil jurusan apa setelah tamat SMA, mau berkarir di mana atau di bidang apa, atau malah mau memilih untuk taat atau membangkang karena lebih tertarik dengan kenikmatan yang ditawarkan dunia dan orang-orang sesat di dalamnya. Sebagian di antara pilihan-pilihan itu bisa membawa dampak serius, apakah kita memilih madu yang manis dan menyehatkan atau racun yang pahit dan mematikan.

Seperti yang saya janjikan kemarin, hari ini mari kita lihat ketika Salomo dihadapkan kepada sebuah kesempatan dari Tuhan langsung untuk menetapkan pilihan. Jika seandainya anda diberi satu kesempatan untuk meminta sesuatu yang pasti akan dikabulkan saat ini juga, apa yang menjadi pilihan anda? Ini pertanyaan yang sangat sederhana namun akan sangat sulit untuk dijawab. Anda tentu akan bingung dalam mengambil satu pilihan dari sekian ribu pilihan yang akan muncul dengan mudah dalam benak anda. Jika memilih panjang umur, bagaimana jika sepanjang umur itu hidup miskin dan penuh masalah? Jika memilih kekayaan, bagaimana jika hidup bakalan singkat? Ini dua pilihan yang rasanya termasuk yang bakal paling banyak dipilih orang. Bagaimana jika kita memilih sesuatu yang salah, padahal kesempatan memilih cuma diberikan satu kali saja?

Salomo mendapatkan kesempatan seperti itu dari Tuhan. Semua berawal dari cara hidup Salomo yang seperti ayahnya Daud, cara hidup yang menunjukkan kasih kepada Tuhan dengan taat kepada ketetapan-ketetapan sang ayah. Itu adalah sebuah pola hidup yang terbukti berkenan di hadapan Tuhan. Pada suatu malam di Gibeon, Salomo diberikan sebuah kesempatan emas untuk meminta sesuatu dari Tuhan. “Di Gibeon itu TUHAN menampakkan diri kepada Salomo dalam mimpi pada waktu malam. Berfirmanlah Allah: “Mintalah apa yang hendak Kuberikan kepadamu.” (1 Raja-Raja 3:5). Ini jelas merupakan sebuah hadiah yang begitu besar dari Tuhan. Jika itu terjadi pada diri anda, apa yang akan anda minta? Salomo ternyata mengambil keputusan yang mengejutkan bagi kebanyakan orang, sesuatu yang mungkin tidak lazim dipilih ketika berhadapan dengan satu kesempatan seumur hidup untuk mendapatkan sebuah permintaan yang bisa langsung dikabulkan. Berhadapan dengan kesempatan seperti ini, Salomo ternyata tidak meminta kekayaan atau panjang umur. Ia tidak minta berkat materi dan tidak meminta hal-hal yang berhubungan dengan pemuasan dirinya sendiri. Apa yang ia minta ternyata adalah HIKMAT. Kita mungkin berpikir, lho, bisa minta kekayaan, kemakmuran, ketenaran atau umur panjang, masa yang diminta hikmat? Untuk apa? Jawabannya bisa kita lihat lewat perkataan Salomo langsung. “Maka sekarang, ya TUHAN, Allahku, Engkaulah yang mengangkat hamba-Mu ini menjadi raja menggantikan Daud, ayahku, sekalipun aku masih sangat muda dan belum berpengalaman. Demikianlah hamba-Mu ini berada di tengah-tengah umat-Mu yang Kaupilih, suatu umat yang besar, yang tidak terhitung dan tidak terkira banyaknya.Maka berikanlah kepada hamba-Mu ini hati yang faham menimbang perkara untuk menghakimi umat-Mu dengan dapat membedakan antara yang baik dan yang jahat, sebab siapakah yang sanggup menghakimi umat-Mu yang sangat besar ini?” (ay 7-9). Salomo tidak meminta untuk kepentingan dirinya, tapi apa yang ia minta adalah sesuatu yang berhubungan dengan apa yang digariskan Tuhan untuk ia kerjakan. Salomo meminta hikmat, meminta kebijaksanaan memenuhi dirinya ternyata bertujuan agar ia mampu membedakan mana yang baik dan jahat, benar dan salah, supaya ia mampu menimbang perkara dan memutuskan dengan benar. Ternyata itu adalah sebuah pilihan yang berkenan dan dikatakan baik di mata Tuhan. (ay 10). Tuhan pun memberikannya. Ia tumbuh menjadi seseorang yang begitu hebat dari segi hikmat, tak tertandingi oleh siapapun. “Dan Allah memberikan kepada Salomo hikmat dan pengertian yang amat besar, serta akal yang luas seperti dataran pasir di tepi laut sehingga hikmat Salomo melebihi hikmat segala bani Timur dan melebihi segala hikmat orang Mesir.” (1 Raja Raja 4:29-30). Tapi perhatikan fakta berikut. Ternyata pemberian Tuhan tidak berhenti sampai disitu saja. Pilihan yang diambil Salomo ternyata membawa berkat-berkat lain pula ke dalam hidupnya. Firman Tuhan berkata demikian: “Dan juga apa yang tidak kauminta Aku berikan kepadamu, baik kekayaan maupun kemuliaan, sehingga sepanjang umurmu takkan ada seorangpun seperti engkau di antara raja-raja. Dan jika engkau hidup menurut jalan yang Kutunjukkan dan tetap mengikuti segala ketetapan dan perintah-Ku, sama seperti ayahmu Daud, maka Aku akan memperpanjang umurmu.” (ay 13-14). Wah, bukankah itu luar biasa? Bukan saja hikmat, tapi juga kekayaan, kemuliaan dan umur yang panjang. Semua itu menjadi bagian Salomo. Maka kita tahu hari ini bahwa selain raja hikmat, Salomo adalah salah satu tokoh terkaya dalam alkitab, dan mungkin tidak akan pernah bisa tersaingi oleh orang terkaya dunia manapun sampai dunia ini berakhir. Kemahsyuran namanya pun melegenda, hingga hari ini kita mengenal namanya. Alkitab mencatat seperti ini: “Raja Salomo melebihi semua raja di bumi dalam hal kekayaan dan hikmat.” (1 Raja Raja 10:23). Sebuah pilihan yang luar biasa ketika ia bisa menekan egonya dan lebih memilih untuk kepentingan orang lain agar bisa mendapatkan pertimbangan/keputusan yang adil sesuai hikmat dari Tuhan. Dan itulah hasilnya, Salomo diberkati luar biasa dalam segala hal.

Di kemudian hari ketika Salomo menulis Amsal, ia kembali menyinggung hal mengenai hikmat ini berdasarkan pengalamannya sendiri. Demikian Salomo menulis: “Berbahagialah orang yang mendapat hikmat, orang yang memperoleh kepandaian, karena keuntungannya melebihi keuntungan perak, dan hasilnya melebihi emas.” (Amsal 3:13-14). Tidak saja melebihi emas dan perak, tapi juga lebih berharga dari permata, begitu berharganya seingga tidak ada sesuatu hal lain yang mampu menandingi nilai sebuah hikmat ini. (ay 15). Dan seperti apa yang dikatakan Tuhan, juga sesuai dengan kesaksiannya sendiri, Salomo pun mengatakan kembali apa yang difirmankan Tuhan. “Umur panjang ada di tangan kanannya, di tangan kirinya kekayaan dan kehormatan.” (ay 16). Pilihan yang tidak terpusat pada kepentingan sendiri, itulah ternyata yang berkenan di mata Tuhan.

Jika kita mundur melihat satu generasi sebelumnya, ternyata ayah Salomo, Daud, sudah mengetahui pentingnya hikmat ini dalam hidup. Dan bukan itu saja,ia malah sudah menuliskan dari mana hikmat itu bermula. “Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN, semua orang yang melakukannya berakal budi yang baik. Puji-pujian kepada-Nya tetap untuk selamanya.” (Mazmur 111:10). Dan hal ini diulangi kembali oleh Salomo dengan mengatakan “Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN, dan mengenal Yang Mahakudus adalah pengertian.” (Amsal 9:10). Dengan hikmat yang berawal dari takut akan Tuhan, kita akan mendapat pengertian, kita akan menjadi bijaksana dan bisa mengetahui mana yang benar dan mana yang salah, tidak peduli apapun bentuk kemasan awalnya. Samar atau kasat mata, kita akan bisa membedakan keduanya jika kita memiliki hikmat. Betapa pentingnya hikmat ini agar kita tidak salah jalan, terperangkap, tersandung dan jatuh. Itulah sebabnya mengapa hikmat ini jauh lebih bernilai ketimbang emas, perak, permata atau keinginan/kekayaan lainnya yang pernah kita impikan. Jika demikian, seandainya pilihan itu jatuh kepada anda, jangan sampai salah menentukan pilihan. Lupakan segala kenikmatan-kenikmatan daging karena semua itu bukanlah yang terutama, melainkan pilihlah sebuah pilihan yang berkenan bagi Kerajaan Sorga. Siapkah kita memilih yang terbaik? Jika siap, jangan salah pilih. Hikmat, itulah pilihan yang tepat.

Hikmat merupakan pilihan bijaksana yang bernilai tinggi di mata Tuhan. Karenanya berbahagialah orang yang mendapat hikmat

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

0saves


If you enjoyed this post, please consider leaving a comment or subscribing to the RSS feed to have future articles delivered to your feed reader.

Related Posts to "Salomo dan Hikmat"

Response on "Salomo dan Hikmat"