Sajak Gundah Kemacetan, Sekaligus Berkah Keramahan

macet by nyunyuYA ampun ya Robbi kemacetan total menjebak perjalananku dari Malang ke Surabaya persis di dekat jembatan layang Lawang. Sudah empat jam sejak merayap sangat lambat, kini bonus satu jam lebih tak bergerak. Kutuliskan sajak gundah ini sementara matahari yang tadinya terik kini sudah bersembunyi dan menebarkan bayang-bayang kegelapan. Sementara yang namanya “virus hip” terus bergejolak […]

macet by nyunyu

YA ampun ya Robbi kemacetan total menjebak perjalananku dari Malang ke Surabaya persis di dekat jembatan layang Lawang. Sudah empat jam sejak merayap sangat lambat, kini bonus satu jam lebih tak bergerak. Kutuliskan sajak gundah ini sementara matahari yang tadinya terik kini sudah bersembunyi dan menebarkan bayang-bayang kegelapan.

Sementara yang namanya “virus hip” terus bergejolak yakni hasrat ingin pipis (maaf) terus mendesak. Kumelangkah mencari kamar mandi untuk pemberesan diri. Seorang nenek tertatih-tatih berjalan dari lawan arahku melangkah. “Mbah, maaf, di mana bisa kamar ikut kamar ke kamar mandi?” Pintaku penuh harapan.

“Kamar mandi? Saya pun nunut Mas…. Tidak tahu di mana ya?” Jawabnya jujur dan tulus lalu menghilang ditelan lorong gang kecil di tempat yang tidak kukenali itu. Sejumlah cemeng, anak-anak kucing, berlarian menghindariku di gang sempit itu

Kulihat ada pintu terbuka, seorang Ibu sedang menebarkan aroma atas ikan yang digorengnya. Saya pun bersapa, “Permisi…, apakah boleh ikut ke kamar mandi?” Pintaku penuh pengharapan. Puji Tuhan, alhamdulillah, jawaban sang Ibu yang tidak kukenal itu menjadi berlaksa-laksa cahaya sebab ia segera mempersilahkanku menggunakan kamar mandinya yang sudah beliau siapkan dengar air kran yang deras mengalir. Bahkan saat kumelepas sepatu, sang Ibu masih berseru: tidak usah dilepas Paaaak. Kotoooor!

Dan tetap kulepaslah sepatuku untuk menghargai kemurahan hatinya membiarkanku menggunakan kamar mandinya demi kelegaan manusiawiku hingga tuntas. “Matur sembah nuwun Ibu… Gusti amberkahi…” pungkasku sambil meninggalkan tempat itu seraya menikmati jawaban sang Ibu berjilbab hitam itu yang mengatakan “Amin!” kepadaku yang berbaju hitam dengan kolar melingkar di leher dan hatiku… Sajak gundah pun dihiasi Berkah keramahan

Truk sebesar muatan 25 ton terguling di jembatan layang Lawang sejak pukul 04.30 tadilah penyebab kemacetan itu. Terhitung sudah lebih dari 12 jam hingga kalimat-kalimat ini kutuliskan, persoalan itu belum terurai juga… Tak ada kata lain kecuali Sabar…

Lawang
07.09.2914

»̶•̵̭̌•̵̭̌✽̤̈̊•Ɓέяќǎђ•Đǎlєm•✽̤̥̈̊•̵̭̌•̵̭̌«̶
“abdi Dalem palawija”
Majalah INSPIRASI, Lentera yang Membebaskan
Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang

Kredit foto: Nyunyu

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply