Sahur Keliling Bu Shinta menguatkan ikatan tali persaudaraan sesama anak bangsa

sahur

Pelataran Pastoran Johannes Maria di kompleks Kampus Universitas Soegijapranata Semarang menjadi hingar bingar karena lantunan lagu-lagu Islami dan kebangsaan dengan iringan rebana anak-anak muda Muslim, 25 Mei 2018, dini hari.  Sementara itu warga sekitar mulai berdatangan di tempat itu untuk mengikuti sahur bersama istri mendiang Gus Dur, Shinta Nuriyah Abdurrahman Wahid. Lagu-lagu dan suara-suara musik memecah keheningan pagi yang masih terlalu pekat.

Sementara menanti kedatangan Bu Shinta, Ketua Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang Pastor Aloys Budi Purnomo Pr bersama Kiai Budi Harjono dan Gus Nuril Arifin menyanyikan beberapa lagu dengan iringan musik keroncong dari Gereja Isa Almasih. Pastor Budi mengiringinya dengan alunan saksofonnya. Beberapa saat kemudian, alunan rebana dari aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) menambah suara rancak yang dinamis.

Itu adegan yang memukau para pengunjung sesaat sebelum Bu Shinta, yang sepanjang bulan Ramadhan ini melakukan program sahur keliling, tiba di pelataran. Mereka dibuat terperangah karena beberapa orang dengan latar belakang agama yang berbeda berkolaborasi mempersembahkan pertunjukan seni yang memukau.

Beberapa saat kemudian, Bu Shinta tiba di lokasi kegiatan. Para pengunjung menyambutnya dengan penuh antusias. Beberapa hari sebelumnya hingga pagi itu, anak-anak muda dari berbagai latar belakang organisasi dan agama bahu membahu menyiapkan acara tersebut.

Melalui tausiah kepada pengunjung, wanita itu menyampaikan perihal kegiatan sahur kelilingnya. Dalam kegiatan itu, ia tidak ingin hanya sekadar sahur. “Saya sahur bersama mereka. Saya juga ingin langsung bertatap muka, berdialog bersama mereka, face to face, langsung tanpa ada tabir apa pun yang menghalangi antara saya dengan masyarakat semuanya. Karena itu, saya akan bersahur bersama mereka langsung di tempat masing-masing,” katanya.

Bu Shinta mengatakan, kegiatannya juga dilakukan untuk lebih menjalin ikatan tali persaudaraan di antara sesama anak bangsa. “Itu sangat penting, karena kita ini memang tinggalnya di sebuah negara yang disebut Indonesia dan penduduknya, masyarakatnya, adalah masyarakat yang majemuk yang terdiri dari berbagai suku bangsa, terdiri dari berbagai agama, berbagai bahasa, adat, budaya dan sebagainya,” katanya.

Ia menegaskan, dalam setiap penyelenggaraan sahur keliling, ia akan mengajak banyak pihak terlibat. “Saya akan selalu mengajak saudara-saudara kita sebangsa dan setanah air untuk bersama-sama menyelenggarakan acara sahur ini sebagai ungkapan rasa kasih, rasa persaudaraan, rasa saling menghormati, rasa saling menghargai, dan sebagai ungkapan kekeluargaan di antara kita sesama anak bangsa untuk membantu saudaranya yang beragama Islam agar bisa melaksanakan ibadah puasanya di bulan suci Ramadhan dengan sebaik-baiknya,” katanya dalam tausiah yang disampaikan dengan interaktif.

Dengan kebersamaan yang dialami melalui program sahur keliling yang diikuti dan didukung pihak-pihak dari berbagai agama dan suku yang ada di Indonesia, Bu Shinta merasa tenang dan merasa masih punya harapan besar. “Sesungguhnya orang Indonesia yang baik-baik ini bisa hidup rukun dan damai, bisa  saling bergotong royong. Bisa saling menghormati, saling menghargai, saling mengasihi dan saling tolong menolong,” katanya.

Namun, ia menyesalkan kondisi Indonesia akhir-akhir ini ketika banyak sesama anak bangsa mulai saling memfitnah di antara sesama anak bangsa. “Saling melontarkan hujatan ke mana-mana. Kotbah di mana-mana dengan penuh hujatan. Menebar kebohongan di media massa. Ke mana-mana. Kemudian menebar kata-kata yang menyakitkan, kata-kata kebencian di antara sesama anak bangsa. Bahkan lebih keji lagi, bom bunuh diri diledakkan di mana-mana,” katanya.

Ia menyesalkan semua itu terjadi mengingat Indonesia mempunyai semboyan Bhinneka Tunggal Ika, berbeda-beda tapi satu jua. “Artinya, kita bisa hidup rukun dan damai saling gotong royong saling menghormati dan menghargai, tapi kenapa terjadi hal-hal yang seperti ini? Apa yang terjadi di Indonesia? Apa yang harus kamu lakukan wahai anak-anak muda? Apa yang terjadi di Indonesia?”  tanyanya khusus kepada anak-anak muda. Hadirin pun sempat terhenyak. “Karena rakyat Indonesia sudah mulai kehilangan hati nuraninya,” jawabnya beberapa saat kemudian.

Selain kehilangan nurani, menurutnya, kepercayaan dan ketaatan kepada agama juga sudah mulai tergerus. Ikatan tali persaudaraan yang selama ini dibangun oleh para leluhur bangsa termasuk Gus Dur yang memperjuangkan ikatan tali persaudaraan itu, kian melonggar. “Benang-benang sulaman yang untuk merajut tali persaudaraan di antara sesama anak bangsa mulai tercerabut dari akarnya dan mulai tersebar di mana-mana. Kalau semua itu terjadi apa yang terjadi di Indonesia? Indonesia akan menjadi terpecah belah. Apakah ini yang kita inginkan? Kalau tidak lantas apa yang harus kita lakukan? Bersatu, caranya bersatu bagaimana?” katanya menantang pengunjung untuk berefleksi.

Ia pun mengajak pengunjung untuk mengembangkan kearifan. “Kita tumbuhkan, kita kembangkan kearifan kita untuk menghadapi semua itu. Kemudian kita jalin dengan kebenaran dan keadilan untuk menjaga, untuk menahan semua berita-berita yang tidak baik, kekerasan, kemunafikan dan sebagainya. Demi semuanya itu adalah untuk menjaga keutuhan dan kerukunan anak bangsa Indonesia dan negara Indonesia,” pungkasnya.

Pastor Aloys Budi Purnomo Pr selaku tuan rumah merasa senang karena Bu Shinta memberi contoh tentang kepedulian. “Seorang ibu yang peduli untuk anak-anak bangsa tanpa diskriminasi. Nah itu yang penting,” katanya.

Sahur yang dilakukan di halaman pastoran itu dihadiri setidaknya 750 orang dari berbagai komunitas dan tempat. Mereka mengikuti acara sahur tersebut dengan antusias. (Lukas Awi Tristanto)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: