Sahabat Orang Berdosa

Ayat bacaan: Matius 9:12
=====================
“Yesus mendengarnya dan berkata: “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit.”

sahabat orang berdosa, tuhan tidak membenci orang berdosa

Kalau bicara soal pengabdian, saya selalu mengingat ayah saya. Ia seorang dokter yang sama sekali tidak pernah mementingkan bayaran. Saya ingat ketika saya kecil, ia selalu melayani pasien yang datang kapan saja. Bahkan tengah malam atau subuh sekalipun. Kami sekeluarga sering terbangun tengah malam ketika ada orang yang mengetuk pagar dan memanggil dokter. Ibu saya pun waktu itu sering merasa terganggu dan takut, kalau-kalau yang datang bukanlah pasien tetapi orang jahat. Bagaimana jika maling yang datang? Seringkali ibu saya bertanya seperti itu. Tapi jawaban ayah saya tetap sama. “ya, bisa saja maling.. tapi bagaimana jika yang datang adalah orang yang benar-benar butuh pertolongan?” Ia menyediakan waktunya secara total untuk siapa saja. Bahkan dulu ia sering tidak dibayar karena pasiennya orang yang tidak sanggup. Atau beberapa kali saya melihat ia dibayar tidak dengan uang, melainkan dengan sayur atau sedikit buah. Karena saya waktu itu masih kecil, saya belum mengerti mengapa ia tetap membantu orang walaupun terkadang tidak dibayar. Ia menjawab bahwa menjadi dokter adalah sebuah panggilan untuk menolong orang lain, dan bukan untuk mencari keuntungan. Sebuah keteladanan yang luar biasa, yang masih membekas hingga kini dalam diri saya.

Alkisah pada suatu kali Yesus melihat Matius, seorang pemungut cukai (penagih pajak) sedang duduk di kantornya. Yesus lalu mengajak Matius untuk ikut. (Matius 9:9). Yesus lalu duduk makan di rumah Matius bersama pemungut cukai lainnya dan orang-orang yang dianggap tidak baik oleh masyarakat. (ay 10). Orang Farisi melihat itu, dan bertanya pada murid-murid Yesus: “Mengapa gurumu makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?” (ay 11). Yesus mendengar hal tersebut dan kemudian menjawab: “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit.” (ay 12). Lalu melanjutkan perkataanNya: “Jadi pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.”(ay 13). Ini sebuah keteladanan dari Yesus yang tidak sungkan-sungkan untuk duduk bersama orang-orang yang dianggap tidak layak. Yesus menunjukkan bahwa siapapun itu layak untuk menerima diriNya.

Ada banyak orang yang terus terjerumus dalam dosa karena merasa bahwa mereka sudah terlalu jauh melenceng dari jalan Tuhan. Sudah terlanjur basah, ceburkan saja sekalian. Begitu kira-kira pandangan mereka. Ada banyak orang yang ragu terhadap keselamatan mereka nanti, karena banyaknya pelanggaran yang pernah mereka lakukan. Banyak orang mengira bahwa Yesus membenci orang berdosa. Tapi kisah hari ini menggambarkan sebaliknya. Yesus tidak membenci orang berdosa. Yang Dia benci adalah dosa, bukan orangnya. Justru kedatangan Yesus ke dunia ini adalah untuk menebus dosa-dosa kita dan menyelamatkan kita dari jurang maut. Kasih Allah sungguh tak terhingga buat kita. Begitu sayangnya hingga Yesus diutus datang ke dunia untuk menyelamatkan kita. “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia.” (Yohanes 3:16-17). Yesus sangat mengasihi manusia yang berlumur dosa. Begitu mengasihi hingga Dia rela meninggalkan 99 ekor domba untuk mencari seekor domba yang sesat. (Lukas 15:4). Kehadiran Yesus justru untuk menyelamatkan orang-orang yang sesat, agar tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal. Dalam kiasan yang mudah dimengerti, Yesus menggambarkannya dengan dibutuhkannya dokter bukan oleh orang sehat, melainkan oleh orang sakit.

“Marilah, baiklah kita berperkara! –firman TUHAN–Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba.” (Yesaya 1:18). Ayat ini dengan tegas menyatakan bahwa dosa yang sudah sangat banyak dan berat hingga “memerah” sekalipun bisa menjadi putih kembali seperti salju, atau seputih bulu domba jika kita mau bertobat dan berbalik dari jalan-jalan yang salah untuk kembali kepadaNya. Tuhan adalah Allah yang sangat penuh dengan kasih setia. Dia selalu menyediakan pengampunan bagi orang-orang berdosa yang mengakui dosa-dosanya. Ini janji Tuhan: “Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.” (1 Yohanes 1:19). Pengampunan total dan segera, disediakan Tuhan kepada orang yang mau datang dengan hati yang hancur, menyesali dan mengakui dosa-dosa mereka. Ketika kita bertobat dengan sungguh-sungguh, saat itu juga Tuhan memberikan pengampunan. Itulah sebentuk kasih karunia yang dianugrahkan Tuhan kepada kita semata-mata karena Dia teramat sangat mengasihi kita dan tidak menginginkan satupun dari kita untuk binasa.

Jika diantara teman-teman ada yang sat ini merasa tidak layak, ingatlah bahwa Yesus telah mengorbankan diriNya untuk menyelamatkan kita semua dari ketidaklayakan akibat dosa-dosa itu. Berbalik dari jalan-jalan sesat, dan terimalah Yesus sebagai Juru Selamat pribadi anda. “Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah.” (Yohanes 3:18). Tuhan tidak membenci orang berdosa. Yang Dia benci adalah dosa. Tuhan akan selalu membuka tanganNya lebar-lebar untuk menerima kembali orang berdosa yang mau datang kepadaNya.


Jadilah orang yang layak untuk menghampiri tahta kasih dengan membereskan seluruh dosa lewat pertobatan dalam nama Yesus

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply