Sadar Sepenuhnya (2)

(sambungan)

Dalam Kolose pasal 2 Paulus menyatakan dengan jelas status kita setelah kita bertobat dan menerima Kristus. 
“Dalam Dia kamu telah disunat, bukan dengan sunat yang dilakukan oleh manusia, tetapi dengan sunat Kristus, yang terdiri dari penanggalan akan tubuh yang berdosa, karena dengan Dia kamu dikuburkan dalam baptisan, dan di dalam Dia kamu turut dibangkitkan juga oleh kepercayaanmu kepada kerja kuasa Allah, yang telah membangkitkan Dia dari orang mati. Kamu juga, meskipun dahulu mati oleh pelanggaranmu dan oleh karena tidak disunat secara lahiriah, telah dihidupkan Allah bersama-sama dengan Dia, sesudah Ia mengampuni segala pelanggaran kita, dengan menghapuskan surat hutang, yang oleh ketentuan-ketentuan hukum mendakwa dan mengancam kita. Dan itu ditiadakan-Nya dengan memakukannya pada kayu salib.” (Kolose 2:11-14).

Seperti itulah tepatnya kondisi atau keadaan kita setelah bertobat. Kita telah dilahirkan kembali dalam keadaan yang benar-benar bersih dan disiapkan untuk menuju kepada kehidupan kekal setelah fase kita di dunia ini berakhir. Tuhan Yesus sendiri yang telah melakukannya untuk kita. Seluruh “surat hutang” atau “surat dakwaan” telah dihapuskan lewat karya penebusan Yesus di atas kayu salib. Singkatnya, kita telah diampuni dan ditahirkan, bersih sepenuhnya. Tetapi kita seharusnya tidak berhenti berpuas diri sampai disitu saja, karena masih ada tugas selanjutnya yang menanti. Menjaga diri kita agar tetap bersih dan kudus setelah menjalani lahir baru menjadi tugas kita selanjutnya. Meski kita sudah menjadi ciptaan baru, kita bisa kembali kotor jika kita membiarkan diri kita tercemar lagi dengan berbagai penyimpangan. Maka dari itu, seberapa jauh kesadaran kita akan sangat menentukan hasil akhirnya.

Paulus dengan jelas mengingatkan kita agar tidak terbuai dan lengah terhadap kesadaran. “Sadarlah kembali sebaik-baiknya dan jangan berbuat dosa lagi!” (1 Korintus 15:34). Sadarlah kembali, dan sadarlah benar-benar, jangan setengah-setengah. Demikian peringatan Paulus, dan itulah yang bisa membuat kita awas akan jebakan-jebakan iblis agar kita kembali tercemar oleh berbagai dosa. Iblis akan terus berkeliling mengaum-aum mencari celah seperti yang disebutkan dalam 1 Petrus 5:8 kemarin, tetapi ia tidak akan bisa berbuat apa-apa jika kita tidak memberi celah sedikitpun baginya untuk masuk. Ia hanya bisa berkeliling tanpa bisa melakukan apapun. oleh karena itulah menjaga kesadaran sebaik-baiknya merupakan tugas yang sangat penting untuk kita ingat setiap saat. Hari ini, besok dan seterusnya, iblis akan terus berusaha tanpa lelah untuk menipu dan menjebak kita. Dia akan terus berusaha agar kita kembali menjadi hamba dosa. Tetapi iblis tidak akan sanggup berbuat apa-apa jika kita tetap berada dalam kondisi sadar penuh setiap hari, termasuk di dalamnya sadar sepenuhnya mengenai status atau jati diri kita sebenarnya di dalam Kristus seperti yang telah dinyatakan dalam rangkaian ayat 1 Korintus di atas. Yesus pun pernah beberapa kali mengatakan “jangan berbuat dosa lagi” secara langsung seperti dalam kisah “perempuan yang berzinah” (Yohanes 7:53-8:11). Ketika perempuan yang berzinah itu hampir dihakimi oleh para ahli Taurat dan orang Farisi dengan hukuman dirajam sampai mati akibat kesalahannya, Yesus datang memberikan pengampunan. Satu pesan yang disampaikan Yesus kepadanya: “..jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.” (8:11). Lalu pada kesempatan lain kita bisa mendapatkan pesan yang sama dengan sebuah tambahan dari Yesus, yaitu dalam kisah kesembuhan seorang yang sakit di kolam Betesda. (Yohanes 5:1-18). Kepada orang yang disembuhkan, Yesus berpesan hal yang sama: “Engkau telah sembuh; jangan berbuat dosa lagi”. Mengapa? “supaya padamu jangan terjadi yang lebih buruk.” (ay 14). Dosa yang dilakukan berulang-ulang bisa mendatangkan akibat yang semakin buruk. Begitulah berat resikonya apabila kita terus bermain-main dengan dosa. Oleh karena itulah kita harus mengingat betul pesan Paulus agar kita benar-benar memperhatikan kesadaran kita sebaik-baiknya.

Kesadaran yang sepenuhnya sangatlah penting dalam menentukan apakah kita bisa menjaga kekudusan diri kita atau tidak, apakah kita bisa tetap bersih atau kembali tercemar oleh banyak dosa. Apabila kita tahu apa yang salah namun kita terus melakukannya karena kita tidak serius dalam menjaga kesadaran, maka yang terjadi bisa lebih buruk dari yang kita duga, dari yang sebelumnya. Tidaklah cukup bagi kita untuk sekedar tahu saja akan mana yang baik dan buruk tanpa benar-benar menjaga kesadaran kita secara baik. Jika itu kita lakukan, itu hanya akan memperburuk status kita dan dengan sendirinya kita tengah mengeluarkan diri kita dari jalan keselamatan yang sudah dibukakan Kristus untuk kita. Kelengahan akan selalu menjadi celah yang lezat buat iblis untuk kembali menancapkan kukunya atas diri kita. Maka dari itu, pastikan diri kita untuk sadar sebaik-baiknya, sepenuhnya, tidak setengah-setengah setiap saat agar kita terhindar dari berbagai bahaya yang mengancam keselamatan kita bukan saja di dunia ini melainkan untuk sesuatu yang kekal nanti.

Tuhan telah mengampuni dan mentahirkan, tugas kita untuk menjaga dengan kesadaran yang sepenuhnya

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply