Sadar Sepenuhnya (1)

0
10

Ayat bacaan: 1 Korintus 15:34
=======================
“Sadarlah kembali sebaik-baiknya dan jangan berbuat dosa lagi!”

Karena punya jadwal untuk bertemu seseorang pagi-pagi sekali, saya harus memasang alarm agar tidak terlambat. Kebetulan saya sedang banyak kerjaan sehingga malam sebelumnya saya bekerja terus sampai menjelang subuh. Ada sekitar 2 jam untuk tidur, saya pun berpikir itu lumayan cukup untuk ‘mengganjal’ kebutuhan tidur. Setidaknya setelah itu saya bisa kembali melunasi hutang tidur. Begitu pikir saya. Toh ada alarm yang saya letakkan tepat di samping kepala. Maka saya pun tidur. Saat alarm bunyi, saya merasa seolah jauh sekali dari posisi alarm. Kedengaran sayup-sayup pada awalnya lalu terdengar makin keras. Itu artinya saya sudah mulai tersadar dari tidur, tapi belum sepenuhnya. Saya sudah mendengar, tapi belum bereaksi. Lantas karena terlalu lelah, saya malah mematikan alarm. “Saya sudah dengar, jadi matikan saja. Saya akan bangun sebentar lagi setelah mengumpulkan tenaga sejenak.” Itu kira-kira yang muncul dalam pikiran saya. Yang terjadi adalah, saya tertidur lagi dan bangun pada saat waktu janji temu sudah lewat begitu lama. Ada banyak misscall dan pesan teks dalam telepon genggam saya dari pihak yang berjanji untuk bertemu. Aduh, betapa memalukan. Saya pun buru-buru menelepon dan minta maaf karena tidur kebablasan. Untunglah ia mengerti dan tidak mempermasalahkan kesalahan saya.

Ada ruang diantara sadar dan tidak sadar, yaitu fase setengah sadar. Selain contoh di atas yang mungkin saja pernah anda alami juga, dalam keadaan setengah sadar ketika baru bangun tidur kita bisa melakukan hal-hal lain yang konyol tapi bisa cukup menyusahkan. Misalnya menyenggol gelas, menjatuhkan jam weker, tersandung dan sebagainya. Itu contoh kecil saja yang mungkin tidak sampai membahayakan. Tapi fase setengah sadar alias sadar yang nanggung atau tidak sepenuhnya bisa membawa begitu banyak masalah yang bisa jadi mendatangkan kehancuran. Saat manusia dikuasai nafsu atau kehilangan kontrol diri, maka kesadaran pun berkurang jauh sehingga mereka bisa gelap mata lalu jatuh ke dalam berbagai dosa.

Banyak diantara dosa ini yang kemudian merusak masa depan korban dan kemudian mendatangkan konsekuensi berat bagi pelaku. Kalau memang melakukan dosa pada saat sedang sadar penuh itu memang keterlaluan dan harus berani terima konsekuensi atau hukuman, tapi alangkah sayangnya kalau kita terjatuh dalam perbuatan-perbuatan jahat karena kita kurang awas dalam menjaga kesadaran kita. Dan itulah yang justru menjadi sumber masalahnya bagi kebanyakan orang. Alangkah rawannya jika kita menjalani hidup dalam keadaan setengah sadar, karena ada banyak godaan dan jebakan yang akan selalu mengintip kita setiap saat. Sedikit saja lengah maka kita bisa tersandung dan jatuh.

Keinginan daging bisa setiap saat menjatuhkan kita. Iblis selalu berjalan berkeliling mencari mangsa. “Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya.” (1 Petrus 5:8). Iblis cuma bisa berputar-putar mencari celah untuk menelan kita. Kalau kita tidak buka celah, maka dia hanya akan bisa mengaum diluar pagar. Tapi kalau kita tidak hati-hati, celah sedikit saja bisa menjadi awal kehancuran kita. Karenanya Firman Tuhan bilang: “Sadarlah dan berjaga-jagalah!” Jangan setengah sadar apalagi tidak sadar, tapi sadarlah benar-benar, dan seriuslah untuk berjaga-jaga. Tanpa itu maka hidup kita akan menjadi lahan bermain yang sangat menyenangkan bagi iblis, dan disanalah hidup kita akan diporak-porandakannya sampai hancur berantakan.

Apabila roh kita lemah, maka daginglah yang akan berkuasa, dan lemahnya daging akan membuat kita rentan untuk diserang oleh rupa-rupa jebakan. Oleh karena itu Tuhan Yesus mengingatkan kita untuk senantiasa berjaga-jaga dan berdoa. “Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan; roh memang penurut, tetapi daging lemah.” (Matius 26:41, Markus 14:38). Berjaga-jaga tidak akan bisa dilakukan oleh orang yang setengah sadar. Itulah sebabnya Paulus mengingatkan kita agar bisa sadar sepenuhnya, dengan sebaik-baiknya. “Sadarlah kembali sebaik-baiknya dan jangan berbuat dosa lagi!” (1 Korintus 15:34). Pesannya sangat jelas. Paulus bilang kita harus sadar. Bukan sekedar sadar, bukan setengah sadar, bukan sadar ala kadarnya, bukan pura-pura sadar, tetapi sadar dengan sebaik-baiknya. Dan itu harus dilakukan mulai sekarang juga.

Pada kesempatan lain ada Firman yang berkata: “Hari sudah jauh malam, telah hampir siang. Sebab itu marilah kita menanggalkan perbuatan-perbuatan kegelapan dan mengenakan perlengkapan senjata terang!” (Roma 13:12). Kita wajib berhati-hati agar tidak menjalani hidup yang terbuai dalam mimpi atau keadaan tidak sadar. “Marilah kita hidup dengan sopan, seperti pada siang hari, jangan dalam pesta pora dan kemabukan, jangan dalam percabulan dan hawa nafsu, jangan dalam perselisihan dan iri hati.” (ay 13). Demikian bunyi ayat selanjutnya. Hiduplah terhormat seperti di siang hari ketika kita biasanya sadar, bukan pada saat malam dimana tubuh kita biasanya lelah dan pikiran kita pun berkurang tingkat kesadarannya.

(bersambung)

Loading...

Tulis gagasan

Please enter your comment!
Please enter your name here