Uskup Keuskupan Tanjungselor Mgr. Paulinus Yan Olla MSF. (Ist)

HARI Sabtu tanggal 5 Mei 2018 besok di Tanjungselor, Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara), Uskup Terpilih Keuskupan Tanjungselor Mgr. Paulinus Yan Olla MSF akan menerima tahbisan episkopalnya.


Bertindak sebagai Uskup Penahbis adalah Mgr. Yustinus Harjosusanto MSF  (Uskup Keuskupan Agung Samarinda) bersama dua uskup pendamping yakni Mgr. AM Sutrisnaatmaka MSF (Uskup Keuskupan Palangkaraya, Kalteng) dan Mgr. Petrus Boddeng Timang (Uskup Keuskupan Banjarmasin, Kalsel).


Prosesi tahbisan episkopal Mgr. Paulinus Yan Olla MSF akan berlangsung di Lapangan Agatis, Tanjungselor, Kaltara, mulai pukul 09.00 WITA.


Uskup kedua Keuskupan Tanjungselor


Mgr. Paulinus Yan Olla MSF resmi diangkat menjadi Uskup oleh Paus Fransiskus pada tanggal 22 Februari 2018 lalu. Sebelum memangku jabatan uskup di Keuskupan Tanjungselor, Mgr. Paulinus bertugas sebagai Rektor Skolastikat Sacra a Familia (MSF) di Malang – rumah residensial bagi para frater MSF Provinsi Kalimantan yang tengah belajar filsafat dan teologi di STFT Widya Sasana, Malang. Di Keuskupan Malang, Mgr. Paulinus mendapat tugas sebagai Ketua Komisi Keluarga.


Undangan Misa Tahbisan Uskup Keuskupan Tanjungselor, Kaltara. (Ist)

Mgr. Paulinus Yan Olla MSF akan menjadi uskup kedua di Keuskupan Tanjungselor. Ia meneruskan jejak uskup pertama Mgr. Yustinus Harjosusanto MSF yang selama tiga tahun terakhir ini telah dimutasi Vatikan menjadi Uskup Keuskupan Agung Samarinda.


Ibadat Salve


Pada hari Jumat (4/5) petang ini akan berlangsung ibadat petang (salve) mulai pukul 18.00 WITA di Gereja Katedral St. Maria Assumpta Tanjungselor di mana akan diadakan pemberkatan semua insignia uskup baru.


Misa stational perdana akan berlangsung di gereja sama pada hari Minggu, 6 Mei 2018.


Motto pastoral dan lambang uskup


Mgr. Paulinus Yan Olla mengambil motto pastoral yang berbunyi “Servus Veritatis” yang secara gramatikal berarti  “Pelayan Kebenaran” dengan acuan teks Injil Yohanes 14:6 dan Yohanes 8:32.


Ia memilih gambar visual sebagai lambang uskup yang memadukan tiga elemen yakni Kongregasi MSF, pengalaman pribadi dan nilai kearifan lokal. Yang terakhir adalah gambar burung enggang yang merupakan lambang yang disakralkan oleh semua orang Dayak.


Logo uskup baru Keuskupan Tanjungselor itu terbagi menjadi tiga bagian: satu di bagian atas dan dua di bagian bawah dengan mengambil posisi kiri dan kanan.


Di bagian atas ada lambang Kongregasi MSF (Missionariorum a Sacra Familia) berupa:

Bintang bersinar berwarna kuning keemasan dengan latar belakang merah yang melambangkan kedatangan Sang Juruselamat, misteri inkarnasi.Salib warna hitam yang mengacu pada tergenapinya  sejarah keselamatan dalam wafat dan kebangkitan Kristus.Lingkaran warna putih yang mengacu pada tugas misioner kepada semua orang beriman: “Pergilah ke seluruh dunia dan wartakanlah Injil.”Dua ekor burung rangkong atau enggang badak (disebut tingang dalam bahasa Dayak) yang mengapit semua elemen khas MSF.

Di bagian bawah kiri berlatar belakang warna putih ‘berisi’ gambar catut dan palu warna keperakan dengan pegangannya  berwarna cokelat kayu. Ini  adalah lambang St. melambangkan Maria  La Salette yang menerima penampakan Maria berkalung salib. Di sisi kiri Yesus terdapat palu, sedangkan sisi kanan-Nya adalah catut. Penampakan ini terjadi di Perancis tahun 1846.


Logo uskup Keuskupan Tanjungselor. Palu adalah lambang kejahatan sebagaimana terjadi dalam proses penyaliban Yesus yang dipaku dengan pukul palu.Catut adalah alat yang dipakai orang untuk mencabuti paku di tangan dan kaki Yesus ketika tubuh Yesus hendak diturunkan dari tiang salib. Maria La Salette sering menyerukan pertobatan dan karenanya sering disebut  Bunda Pendamai.

Di bagian bawah kanan berlatarbelakang hitam ada:

Gambar setangkai bunga lili dengan tiga kuntum warna putih.Sebuah siku, alat kerja tukang kayu, berwarna cokelat kayu yang melambangkan Yusuf, suami Maria, dan penjaga Keluarga Kudus.Di atas perisai ada sebuah galero atau topi khas klerus berwarna hijau dengan enam jumbai di masing-masing sisinya.Di bagian tengah belakang perisai adalah salib pancang warna kuning keemasan.Galero hijau dengan enam jumbai berikut salib pancang ini merupakan penanda bahwa sang empunya lambang adalah seorang uskup.

Di bagian bawah perisai terdapat pita kuning keemasan dengan tulisan motto penggembalaan “Servus Veritatis”. 


PS: bahan berita diolah dari Dokpen KWI (www.dokpenkwi.org)


Sumber: Sesawi

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.