Sabtu 30 Agustus 2014: Tanggungjawab dalam Perkara Kecil, Mat 25: 14-30

kemiskinan dalam wajah perempuanby IWDADA seorang ibu yang baru saja mengadakan syukuran sederhana, karena anak-anaknya baru saja menamatkan studinya dan ada satu yang baru saja nikah. Pada hal ibu bukan orang kaya, bahkan termasuk kekurangan yang perlu dibantu dan suaminya sudah lama menderita sakit jantung. Maka orang-orang kampung dan warga lingkungan memberi ucapan selamat kepada ibu ini. Pada umumnya […]

kemiskinan dalam wajah perempuanby IWD

ADA seorang ibu yang baru saja mengadakan syukuran sederhana, karena anak-anaknya baru saja menamatkan studinya dan ada satu yang baru saja nikah. Pada hal ibu bukan orang kaya, bahkan termasuk kekurangan yang perlu dibantu dan suaminya sudah lama menderita sakit jantung.

Maka orang-orang kampung dan warga lingkungan memberi ucapan selamat kepada ibu ini. Pada umumnya mereka kagum mengapa ibu ini dapat mengantarkan anak-anaknya sampai ke jenjang perguruan tinggi dan ada yang hidup berkeluarga?

Setelah upacara sembahyangan selesai, ibu itu menyampaikan pengalaman hidupnya dan pengalaman imannya kepada warga lingkungan dan warga kampung: ”Saudara-saudara saya mau bersyukur kepada Tuhan, sebab tanpa pertolongan Tuhan saya tidak bisa apa-apa. Sejak kecil saya itu hidup serba kekurangan. Orangtua saya juga miskin, sehingga tidak mampu mengongkosi sekolah saya. Saya cuma dinasehati agar menyerahkan diri kepada Tuhan. Maka tiap hari saya selalu berdoa, supaya Tuhan menolong saya.”

“Dalam doa itu seperti saya diingatkan Tuhan, bahwa saya telah diberi bakat oleh Tuhan yaitu menjahit. Maka hasil jahitan saya saya tunjukkan kepada ibu guru sekolah SMP. Ternyata guru-guru memuji saya dan bahkan ada mulai mempercayakan pada untuk membuat baju seragam. Ternyata guru yang lain pun pada iri dan juga ingin menjahitkan baju.”

“Saya juga tidak menyangka bahwa upah jahitan itu cukup untuk membiayai sekolah saya dan bahkan bisa sedikit membantu orang tua. Akhirnya saya disuruh melatih dan memberi kursus jahit. Dan bu guru pun ada yang ikut. Inilah anugerah Tuhan yang dulu tidak pernah saya pikir-kan. Dan ketika saya sudah berkeluarga, bakat menjahit inilah yang saya gunakan sebagai harapan saya untuk cari nafkah. Suami juga bantu-bantu sedikit-sedikit.”

“Dan biaya hidup anak-anak, untuk sekolah juga dari uang jahitan ini. Saya masih menyempatkan diri ke Gereja sampai anak-anak saya dapat baptis semua. Sayang suami saya sakit jantung, sehingga membutuhkan biaya dokter dan pengobatan yang cukup tinggi. Namun saya yakin sekali Tuhanlah yang menolong saya sampai saya bisa mengan-tarkan anak-anak saya ini.”

Saya ingat akan kata-kata Tuhan: “Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia, engkau telah setia memikul tanggung jawab dalam perkara yang kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung-jawab dalam perkara yang besar.”( Mat 25: 23)

Kredit foto: Kemiskinan dalam wajah perempuan (Courtesy of IWD)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply