Sabda Hidup: Selasa, 30 September 2014

PERINGATAN Wajib St. Hieronimus warna liturgi Putih Bacaan: Ayb. 3:1-3,11-17,20-23; Mzm. 88:2-3,4-5,6,7-8; Luk. 9:51-56. BcO Ydt. 6:1-21; 7:1,4-5 Bacaan Injil Luk. 9:51-56: 51 Ketika hampir genap waktunya Yesus diangkat ke sorga, Ia mengarahkan pandangan-Nya untuk pergi ke Yerusalem, 52 dan Ia mengirim beberapa utusan mendahului Dia. Mereka itu pergi, lalu masuk ke suatu desa orang […]

PERINGATAN Wajib St. Hieronimus
warna liturgi Putih

Bacaan: Ayb. 3:1-3,11-17,20-23; Mzm. 88:2-3,4-5,6,7-8; Luk. 9:51-56.

BcO Ydt. 6:1-21; 7:1,4-5

Bacaan Injil Luk. 9:51-56:
51 Ketika hampir genap waktunya Yesus diangkat ke sorga, Ia mengarahkan pandangan-Nya untuk pergi ke Yerusalem, 52 dan Ia mengirim beberapa utusan mendahului Dia. Mereka itu pergi, lalu masuk ke suatu desa orang Samaria untuk mempersiapkan segala sesuatu bagi-Nya. 53 Tetapi orang-orang Samaria itu tidak mau menerima Dia, karena perjalanan-Nya menuju Yerusalem. 54 Ketika dua murid-Nya, yaitu Yakobus dan Yohanes, melihat hal itu, mereka berkata: “Tuhan, apakah Engkau mau, supaya kami menyuruh api turun dari langit untuk membinasakan mereka?” 55 Akan tetapi Ia berpaling dan menegor mereka. 56 Lalu mereka pergi ke desa yang lain.

Renungan:
Penduduk Samaria tidak berkenan menerima Yesus karena Yesus mengarahkan pandangannya ke Yerusalem. Ada sentimen kesukuan antara Samaria dan Yerusalem. Sentimen ini terpelihara sejalan dengan sejarah bangsa tersebut. Tampaknya memang ada pewarisan yang dilakukan secara sengaja pada keturunan masing-masing. Maka tidak mengherankan juga kala Yakobus dan Yohanes bertanya, “Tuhan, apakah Engkau mau, supaya kami menyuruh api turun dari langit untuk membinasakan mereka?” (Luk 9:54).

Sentimen yang dilandasi oleh rasa iri, kecewa, kalah seringkali mendorong pada tindakan dendam dan keinginan menyingkirkan, atau minimal tidak mau bersentuhan. Mereka yang iri, merasa dikalahkan dan sentimen akan berusaha mencari celah untuk balas dendam. Kadang kalau sudah kepepet dan sangat dimakan angkara, dorongan balas dendam itu pun akan diwujudkan secara terbuka.
Maka marilah kita menjaga hati kita untuk tidak terjebak oleh rasa sentimen, iri dan dengki. Kita pun menjaga orang-orang di sekitar kita agar tidak jatuh dalam perangkap tersebut seperti Yesus yang tidak mengiyakan usulan Yakobus dan Yohanes bahkan berani, “Akan tetapi Ia berpaling dan menegor mereka” (Luk 9:55).

Kontemplasi:  Duduklah dengan tenang dan hadirkan kisah Luk. 9:51-56 dalam imaginasimu. Bayangkan dirimu kala menemui orang yang sedang dikuasai perasaan sentimen.

Refleksi: Tulislah pengalamanmu mengatasi rasa iri dan sentimen.

Doa: Ya Yesus, terima kasih karena Engkau selalu menjadi peganganku untuk kembali kepada jalan menuju kehendak Bapa kala aku digoda masuk dalam kekuasaan rasa iri dan sentimen. Amin.

Perutusan: Aku akan waspada terhadap dorongan melakukan tindakan berdasarkan sentimen dan iri. -nasp-

komsos kas
“melihat yang tak biasa terlihat”

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply