Sabda Hidup: Selasa, 14 Oktober 2014

yesus tidak mencuci tangan by guttenberg

Bacaan: Gal. 4:31b – 5:6; Mzm. 119:41,43,44,45,47,48; Luk. 11:37-41.

BcO Sir. 14:20 – 15:10

Bacaan Injil Luk. 11:37-41:
37 Ketika Yesus selesai mengajar, seorang Farisi mengundang Dia untuk makan di rumahnya. Maka masuklah Ia ke rumah itu, lalu duduk makan. 38 Orang Farisi itu melihat hal itu dan ia heran, karena Yesus tidak mencuci tangan-Nya sebelum makan.

39 Tetapi Tuhan berkata kepadanya: “Kamu orang-orang Farisi, kamu membersihkan bagian luar dari cawan dan pinggan, tetapi bagian dalammu penuh rampasan dan kejahatan. 40 Hai orang-orang bodoh, bukankah Dia yang menjadikan bagian luar, Dia juga yang menjadikan bagian dalam? 41 Akan tetapi, berikanlah isinya sebagai sedekah dan sesungguhnya semuanya akan menjadi bersih bagimu.

Renungan:
Setiap tempat mempunyai tata cara khas dalam menikmati jamuan makan. Di tempat tertentu perjamuan makan dilakukan dengan makan dari satu tempat yang sama. Setiap peserta perjamuan mengambil makanan di suatu tempat itu dengan tangan mereka masing-masing. Bagi mereka yang berasal dari komunitas lain kemungkinan akan kesulitan dengan cara itu. Dan kala mereka melakukan dengan caranya komunitas itu pun bisa tersinggung atau merasa aneh.

Orang Farisi pun mempunyai kekhasan. Sebelum makan mereka tangan terlebih dahulu. Ketika Yesus melakukan tindakan berbeda, “Orang Farisi itu melihat hal itu dan ia heran, karena Yesus tidak mencuci tangan-Nya sebelum makan” (Luk 11:38).

Belajar dari pengalaman ini kiranya memang perbedaan memang merupakan kenyataan dasariah kehidupan umat manusia. Setiap pribadi, kelompok masyarakat mempunyai kekhasannya. Perjumpaan di antara pribadi-komunitas memungkinkan pengenalan dan meminimalkan kekagetan-kekagetan.

Kekagetan seringkali menimbulkan komentar spontan yang melukai. Maka marilah kita saling berjumpa agar kita pun bisa saling menghormati satu sama lain.

Kontemplasi: Bayangkan kisah dalam Injil . Bandingkan pengalamanmu ketika menemui orang yang mempunyai cara yang berbeda dengan cara komunitasmu.

Refleksi: Bagaimana membangun sikap menghargai mereka yang berbeda?

Doa: Tuhan kami percaya bahwa yang kami pilih adalah baik. Namun ajarilah juga supaya kami mampu menghormati mereka yang berbeda dengan kami. Amin.

Perutusan: Aku akan membangun perjumpaan dengan mereka yang berbeda denganku. -nasp-

komsos kas
“melihat yang tak biasa terlihat”

Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: