Sabda Hidup: Sabtu, 25 Oktober 2014

klengkeng.jpgPESTA Santo Yohanes Ston. Warna liturgi Hijau Bacaan: Ef. 4:7-16; Mzm. 122:1-2,3-4a,4b-5; Luk. 13:1-9. BcO Sir. 51:1-12 Bacaan Injil Luk. 13:1-9: 1 Pada waktu itu datanglah kepada Yesus beberapa orang membawa kabar tentang orang-orang Galilea, yang darahnya dicampurkan Pilatus dengan darah korban yang mereka persembahkan. 2 Yesus menjawab mereka: “Sangkamu orang-orang Galilea ini lebih besar […]

klengkeng.jpg

PESTA Santo Yohanes Ston. Warna liturgi Hijau

Bacaan: Ef. 4:7-16; Mzm. 122:1-2,3-4a,4b-5; Luk. 13:1-9.

BcO Sir. 51:1-12

Bacaan Injil Luk. 13:1-9:
1 Pada waktu itu datanglah kepada Yesus beberapa orang membawa kabar tentang orang-orang Galilea, yang darahnya dicampurkan Pilatus dengan darah korban yang mereka persembahkan. 2 Yesus menjawab mereka: “Sangkamu orang-orang Galilea ini lebih besar dosanya dari pada dosa semua orang Galilea yang lain, karena mereka mengalami nasib itu? 3 Tidak! kata-Ku kepadamu.
Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian. 4 Atau sangkamu kedelapan belas orang, yang mati ditimpa menara dekat Siloam, lebih besar kesalahannya dari pada kesalahan semua orang lain yang diam di Yerusalem? 5 Tidak! kata-Ku kepadamu. Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian.”
6 Lalu Yesus mengatakan perumpamaan ini: “Seorang mempunyai pohon ara yang tumbuh di kebun anggurnya, dan ia datang untuk mencari buah pada pohon itu, tetapi ia tidak menemukannya. 7 Lalu ia berkata kepada pengurus kebun anggur itu: Sudah tiga tahun aku datang mencari buah pada pohon ara ini dan aku tidak menemukannya. Tebanglah pohon ini! Untuk apa ia hidup di tanah ini dengan percuma! 8 Jawab orang itu: Tuan, biarkanlah dia tumbuh tahun ini lagi, aku akan mencangkul tanah sekelilingnya dan memberi pupuk kepadanya, 9 mungkin tahun depan ia berbuah; jika tidak, tebanglah dia!”

Renungan:
Di Domus Pacis aku menanam 3 pohon kelengkeng jenis tertentu. Di tempat lain aku menanam jenis lain. Di tempat lain itu sudah berbuah, namun yang ditanam di domus belum berbuah. Aku coba tanya-tanya kepada yang berpengalaman, termasuk toko pertanian. Ada aneka macam jawaban, namun umumnya mengatakan bahwa untuk jenis tersebut memang harus ada perlakuan khusus.
Salah satunya adalah dengan pupuk khusus yang harganya lumayan. Sampai akhirnya ada seorang pelaku pertanian buah-buahan memberikan tips sederhana dan murah. Tips tersebut kutularkan ke pak Heru, karyawan, yang mengurusi. Tidak lama sesudahnya kelengkeng tersebut berbunga dan berbuah.
Pengurus kebun meminta pada pemilik kebun agar diberi waktu satu tahun untuk mengolah kembali pohon ara sampai berbuah (bdk. Luk 13:8-9). Melihat cinta dan kesungguhan pengurus kebun maka sang pemilik kebun pun memberi waktu.
Ada aneka kemungkinan agar hidup ini berbuah. Ketika kita mempunyai waktu dan kemauan mencari yang perlu maka kita akan mendapatkan. Dan ketika yang perlu itu dijalankan maka buah-buah itu akan bermunculan.

Kontemplasi:  Bayangkan dirimu sebagai pohon ara atau klengkeng yang tak kunjung berbuah. Rasakan kegelisahan tukang kebun dan tindakan yang akan dilakukan kepadamu.

Refleksi: Tulislah hal-hal yang perlu kaulakukan agar hidupmu berbunga dan berbuah.

Doa: Tuhan kalau Engkau berkenan berilah aku waktu menggarap kebunku agar tanaman kehidupanku berbunga dan berbuah. Amin.

Perutusan: Aku akan mengolah hidupku agar berbunga dan berbuah.

#sambil nunggui rekaman wayang kulit di acara Kongres Persaudaraan Sejati dan Hari Pangan Sedunia – lapangan Muntilan#

komsos kas
“melihat yang tak biasa terlihat”
Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply