Sabda Hidup: Kamis, 4 Juni 2015

0
25

yesus dan orang farisi by Friedrich August Ludy

PERINGATAN St. Yakobus dr Viterbo

warna liturgi Hijau

Bacaan: Tob. 6:10-11; 7:1,6,8-13; 8:1,5-9a; Mzm. 128:1-2,3,4-5; Mrk. 12:28b-34. BcO Yak. 4:1-12

Bacaan Injil Mrk. 12:28b-34
28 Lalu seorang ahli Taurat, yang mendengar Yesus dan orang-orang Saduki bersoal jawab dan tahu, bahwa Yesus memberi jawab yang tepat kepada orang-orang itu, datang kepada-Nya dan bertanya: “Hukum manakah yang paling utama?” 29 Jawab Yesus: “Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa. 30 Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu.

31 Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini.” 32 Lalu kata ahli Taurat itu kepada Yesus: “Tepat sekali, Guru, benar kata-Mu itu, bahwa Dia esa, dan bahwa tidak ada yang lain kecuali Dia. 33 Memang mengasihi Dia dengan segenap hati dan dengan segenap pengertian dan dengan segenap kekuatan, dan juga mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri adalah jauh lebih utama dari pada semua korban bakaran dan korban sembelihan.”

34 Yesus melihat, bagaimana bijaksananya jawab orang itu, dan Ia berkata kepadanya: “Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah!” Dan seorangpun tidak berani lagi menanyakan sesuatu kepada Yesus.

Renungan:
Salah satu keutamaan dalam hidup adalah keberanian mengakui kebenaran orang lain, bahkan yang dianggap sebagai lawan yang layak dijatuhkan. Hal ini tidaklah mudah. Terhadap lawan kita sering lebih mudah menilai mereka buruk. Segala sesuatu dari lawan adalah buruk, walau sebenernya dalam hati kecil kita kita mengakui itu adalah hal baik. Maka mengakui kebenaran orang lain, juga lawan, adalah suatu keutamaan. Keutamaan itu membuahkan rahmat dalam hidupnya.

Ahli Taurat mengakui kebenaran dari Yesus, “Tepat sekali, Guru, benar kata-Mu itu, bahwa Dia esa, dan bahwa tidak ada yang lain kecuali Dia. Memang mengasihi Dia dengan segenap hati dan dengan segenap pengertian dan dengan segenap kekuatan, dan juga mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri adalah jauh lebih utama dari pada semua korban bakaran dan korban sembelihan” (Mrk 12:32-33). Pengakuan ini menghadirkan rahmat dalam dirinya, “Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah!” (Mrk 12:34).

Kontemplasi: Bayangkan kisah dalam Injil 12:28b-34. Bandingkan pengakuan ahli Taurat itu dengan pengalaman hidupmu.

Refleksi: Tulislah kebenaran-kebenaran yang pernah kaudapatkan dari orang-orang yang memusuhimu.

Doa: Tuhan aku ingin jujur mengakui kebenaran-kebenaran yang ada di sekitarku, juga yang muncul dari lawan-lawanku. Amin.

Perutusan: Aku akan jujur mengakui kebenaran sebagai kebenaran. -nasp-

Loading...

Tulis gagasan

Please enter your comment!
Please enter your name here