Sabda Hidup: Kamis, 16 Oktober 2014

alacoquePERINGATAN St. Hedwig, Margarita Maria Alacoqu, Margarita Maria Alacoque, Gerardus Mayella Warna liturgi Hijau Bacaan: Ef. 1:1-10; Mzm. 98:1,2-3ab,3cd-4,5-6; Luk. 11:47-54; BcO Sir. 16:24 – 17:14 Bacaan Injil Luk. 11:47-54: 47 Celakalah kamu, sebab kamu membangun makam nabi-nabi, tetapi nenek moyangmu telah membunuh mereka. 48 Dengan demikian kamu mengaku, bahwa kamu membenarkan perbuatan-perbuatan nenek moyangmu, […]

alacoque

PERINGATAN St. Hedwig, Margarita Maria Alacoqu, Margarita Maria Alacoque, Gerardus Mayella

Warna liturgi Hijau

Bacaan: Ef. 1:1-10; Mzm. 98:1,2-3ab,3cd-4,5-6; Luk. 11:47-54;

BcO Sir. 16:24 – 17:14

Bacaan Injil Luk. 11:47-54:
47 Celakalah kamu, sebab kamu membangun makam nabi-nabi, tetapi nenek moyangmu telah membunuh mereka. 48 Dengan demikian kamu mengaku, bahwa kamu membenarkan perbuatan-perbuatan nenek moyangmu, sebab mereka telah membunuh nabi-nabi itu dan kamu membangun makamnya.

49 Sebab itu hikmat Allah berkata: Aku akan mengutus kepada mereka nabi-nabi dan rasul-rasul dan separuh dari antara nabi-nabi dan rasul-rasul itu akan mereka bunuh dan mereka aniaya, 50 supaya dari angkatan ini dituntut darah semua nabi yang telah tertumpah sejak dunia dijadikan, 51 mulai dari darah Habel sampai kepada darah Zakharia yang telah dibunuh di antara mezbah dan Rumah Allah.

Bahkan, Aku berkata kepadamu: Semuanya itu akan dituntut dari angkatan ini. 52 Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat, sebab kamu telah mengambil kunci pengetahuan; kamu sendiri tidak masuk ke dalam dan orang yang berusaha untuk masuk ke dalam kamu halang-halangi.” 53 Dan setelah Yesus berangkat dari tempat itu, ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi terus-menerus mengintai dan membanjiri-Nya dengan rupa-rupa soal. 54 Untuk itu mereka berusaha memancing-Nya, supaya mereka dapat menangkap-Nya berdasarkan sesuatu yang diucapkan-Nya.

Renungan:
Kata dan ucapan adalah sarana inti komunikasi diri manusia. Segala yang terkatakan menjadi bagian yang menyatu dalam diri sang pengucap. Ucapan yang baik dan benar dan sebaliknya yang jahat dan salah akan melekat pada sejarah hidup sang pengucap. Bahkan karakter seseorang sering tampak dalam ucapan-ucapan yang dilontarkan. Keras lembutnya kata yang terucap memberi dampak pada pendengarnya.

Orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat mengincar kesalahan Yesus dalam berucap. Bila mereka menemukan kesalahan ucap mereka bisa menggunakannya sebagai alat bukti untuk menangkap Yesus (bdk. Luk 11:54).
Walau mungkin kita bukanlah orang besar, kata-kata yang kita ucapkan pun seringkali terekam oleh pendengar kita. Syukur kalau yang terekam adalah kata-kata yang menghidupkan. Tidak jarang orang gampang merekam kata-kata yang kurang baik atau minimal dianggap menyakitkan. Bila hal tersebut terjadi maka pada saatnya mereka akan menggunakan sebagai alat untuk membalas. Marilah kita berhati-hati mengucapkan kata-kata supaya kita pun tidak terjebak oleh perangkap mereka yang ingin jahat kepada kita.

Kontemplasi:Duduklah dengan mata terpejam. Ingatlah bagaimana anda berucap. Perhatikan di titik-titik mana anda gampang berucap baik dan di titik mana anda gambang mengeluarkan kata-kata jahat.

Refleksi:Bagaimana caramu menjaga agar dirimu tidak terjebak oleh kata-kata yang pernah kauucapkan sendiri?

Doa:Tuhan sudilah menjaga mulutku agar aku tidak tergoda mengucapkan kata-kata yang jahat dan menyakiti sesamaku. Semoga aku pun gampang menghapus luka atas ucapan buruk yang ditimpakan kepadaku. Amin.

Perutusan:Aku akan berusaha untuk tidak melontarkan kata-kata yang bisa menyakiti dan menjerat diriku. -nasp-

komsos kas
“melihat yang tak biasa terlihat”

Kredit foto: Santa Maria Margaretha Alacoque

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply