Sabda Hidup: Jumat, 24 Oktober 2014

Antonio_Claret

PESTA St. Antonius Maria Claret, Aloisius Guanella

Warna liturgi Hijau

Bacaan: Ef. 4:1-6; Mzm. 24:1-2,3-4ab,5-6; Luk. 12:54-59.

BcO Sir. 42:15-25; 43:27-33

Bacaan Injil Luk. 12:54-59:
54 Yesus berkata pula kepada orang banyak: “Apabila kamu melihat awan naik di sebelah barat, segera kamu berkata: Akan datang hujan, dan hal itu memang terjadi. 55 Dan apabila kamu melihat angin selatan bertiup, kamu berkata: Hari akan panas terik, dan hal itu memang terjadi. 56 Hai orang-orang munafik, rupa bumi dan langit kamu tahu menilainya, mengapakah kamu tidak dapat menilai zaman ini?

57 Dan mengapakah engkau juga tidak memutuskan sendiri apa yang benar? 58 Sebab, jikalau engkau dengan lawanmu pergi menghadap pemerintah, berusahalah berdamai dengan dia selama di tengah jalan, supaya jangan engkau diseretnya kepada hakim dan hakim menyerahkan engkau kepada pembantunya dan pembantu itu melemparkan engkau ke dalam penjara. 59 Aku berkata kepadamu: Engkau tidak akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar hutangmu sampai lunas.”

Renungan:
Yesus mengajarkan kepada kita untuk berdamai daripada membawa perkara kepada pemerintah, “jikalau engkau dengan lawanmu pergi menghadap pemerintah, berusahalah berdamai dengan dia selama di tengah jalan” (Luk 12:58). Perdamaian ini akan jauh lebih melegakan daripada melanjutkan perselisihan. Perselihan yang dibawa kepada hukum pasti akan membawa kerugian dan luka pada masing-masing pihak.

Memang sangat mungkin rasa luka dan sakit membuat seseorang tidak gampang untuk menerimanya. Kadang ada kecenderungan untuk membalas rasa itu. Tidak sedikit pula yang ingin membawanya pada pengadilan. Namun rasanya ketika persoalan seperti itu dibawa dalam ranah hukum, pasti setiap pihak akan sulit menyembuhkan luka yang ada dan malah-malah menghadirkan luka baru.

Marilah kita mencoba mengatasi dorongan bertengkar dan menguatkan gerakan berdamai. Kita sebagai sesama saudara yang hidup menghidupkan kenyataan dasar kita yaitu perdamaian. Perdamaian inilah yang membuat kita hidup. Ada berjuta laksa alasan untuk berdamai.

Kontemplasi:
Pejamkan sejenak matamu. Ingatlah satu orang yang sedang berselisih denganmu. Liatlah wajahnya. Temukan kebaikan-kebaikan pada orang itu dan masa-masa ketika anda berbaik-baik dengan orang itu. Sampaikan salam perdamaian padanya.

Refleksi: Tulislah beberapa alasan yang memungkinkanmu berdamai.

Doa: Tuhan, semoga jiwa berdamai melingkupi umatMu di dunia ini. Amin.

Perutusan:
Marilah kita hadir sebagai pembawa damai.

komsos kas
“melihat yang tak biasa terlihat”

Kredit foto: Santo Antonio Maria Claret

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: