Sabda Hidup: Jumat, 2 Januari 2015, PW St. Basilius Agung & Gregorius dr Nazianze

santo basiliusWARNA liturgi Putih Bacaan: 1Yoh. 2:22-28; Mzm. 98:1,2-3ab,3cd-4; Yoh. 1:19-28 BcO Kid. 4:1-5:1 Bacaan Injil Yoh. 1:19-28: 19 Dan inilah kesaksian Yohanes ketika orang Yahudi dari Yerusalem mengutus beberapa imam dan orang-orang Lewi kepadanya untuk menanyakan dia: “Siapakah engkau?” 20 Ia mengaku dan tidak berdusta, katanya: “Aku bukan Mesias.” 21 Lalu mereka bertanya kepadanya: “Kalau […]

santo basilius

WARNA liturgi Putih

Bacaan: 1Yoh. 2:22-28; Mzm. 98:1,2-3ab,3cd-4; Yoh. 1:19-28 BcO Kid. 4:1-5:1

Bacaan Injil Yoh. 1:19-28:
19 Dan inilah kesaksian Yohanes ketika orang Yahudi dari Yerusalem mengutus beberapa imam dan orang-orang Lewi kepadanya untuk menanyakan dia: “Siapakah engkau?” 20 Ia mengaku dan tidak berdusta, katanya: “Aku bukan Mesias.” 21 Lalu mereka bertanya kepadanya: “Kalau begitu, siapakah engkau? Elia?” Dan ia menjawab: “Bukan!” “Engkaukah nabi yang akan datang?” Dan ia menjawab: “Bukan!”

22 Maka kata mereka kepadanya: “Siapakah engkau? Sebab kami harus memberi jawab kepada mereka yang mengutus kami. Apakah katamu tentang dirimu sendiri?” 23 Jawabnya: “Akulah suara orang yang berseru-seru di padang gurun: Luruskanlah jalan Tuhan! seperti yang telah dikatakan nabi Yesaya.” 24 Dan di antara orang-orang yang diutus itu ada beberapa orang Farisi.

25 Mereka bertanya kepadanya, katanya: “Mengapakah engkau membaptis, jikalau engkau bukan Mesias, bukan Elia, dan bukan nabi yang akan datang?” 26 Yohanes menjawab mereka, katanya: “Aku membaptis dengan air; tetapi di tengah-tengah kamu berdiri Dia yang tidak kamu kenal, 27 yaitu Dia, yang datang kemudian dari padaku. Membuka tali kasut-Nyapun aku tidak layak.” 28 Hal itu terjadi di Betania yang di seberang sungai Yordan, di mana Yohanes membaptis.

Renungan:

Mengenali seseorang seringkali membutuhkan padanan dengan orang lain. Yohanes Pembaptis dipadankan dengan Mesias, Elia atau pun nabi yang lain. Pemadanan ini dilakukan untuk mempermudah pengenalan kita akan seseorang.

Sering dalam percakapan harian kita pun memadankan seseorang dengan orang lain entah orang tuanya, kakaknya, saudaranya atau pun dengan orang lain sama sekali. Pemadanan itu umumnya berdasarkan pada kondisi fisik seseorang, tapi bisa juga berdasar pada perilakunya.

Kita boleh-boleh saja membuat padanan atas seseorang, namun demikian orang tersebut adalah pribadi tersendiri. Ia unik, tidak ada yang menyamai dirinya. Ia mempunyai identitas dan perilaku yang khas. Semirip-miripnya dia dengan orang lain, dia tetaplah dia yang khas (bdk Yoh 1:23).

Kontemplasi:
Pejamkan sejenak matamu. Lihatlah dirimu sendiri. Temukan kekhasan dirimu dibanding dengan orang tua dan saudara-saudarimu.

Refleksi: Siapakah dirimu?

Doa: Ya Tuhan terima kasih atas keistimewaan yang kauberikan padaku. Aku mempunyai sesuatu yang khas jadi milikku dan tidak dimiliki orang lain. Semoga aku mampu menggunakannya untuk kebaikan bagi banyak orang. Amin.

Perutusan: Aku akan mendayakan kekhasanku menjadi kekuatan pengabdian pada banyak orang.

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply