Sabda Hidup: Jumat, 13 Februari2015

mukijizat by Herald

PERINGATAN St. Kristina dr Spoleto, Yordanus dr Saksonia

Warna liturgi Hijau

Bacaan: Kej. 3:1-8; Mzm. 32:1-2,5,6,7; Mrk. 7:31-37.

BcO 1Kor. 5:1-13.

Markus 7:31-37:
31Kemudian Yesus meninggalkan pula daerah Tirus dan dengan melalui Sidon pergi ke danau Galilea, di tengah-tengah daerah Dekapolis.32Di situ orang membawa kepada-Nya seorang yang tuli dan yang gagap dan memohon kepada-Nya, supaya Ia meletakkan tangan-Nya atas orang itu.33Dan sesudah Yesus memisahkan dia dari orang banyak, sehingga mereka sendirian, Ia memasukkan jari-Nya ke telinga orang itu, lalu Ia meludah dan meraba lidah orang itu.

34Kemudian sambil menengadah ke langit Yesus menarik nafas dan berkata kepadanya: “Efata!”, artinya: Terbukalah!35Maka terbukalah telinga orang itu dan seketika itu terlepas pulalah pengikat lidahnya, lalu ia berkata-kata dengan baik.36Yesus berpesan kepada orang-orang yang ada di situ supaya jangan menceriterakannya kepada siapapun juga. Tetapi makin dilarang-Nya mereka, makin luas mereka memberitakannya.37Mereka takjub dan tercengang dan berkata: “Ia menjadikan segala-galanya baik, yang tuli dijadikan-Nya mendengar, yang bisu dijadikan-Nya berkata-kata.”

Renungan:
Saya terkesan dengan ayat ini, “Ia menjadikan segala-galanya baik, yang tuli dijadikan-Nya mendengar, yang bisu dijadikan-Nya berkata-kata” (Mrk 7:37). Orang-orang terkesan pada Yesus. Ia menjadikan segala-galanya baik. Ia membuka telinga orang tuli dan lidah orang bisu sehingga bisa mendengar dan berbicara.

Mendengar dan berbicara merupakan salah satu kemampuan yang dibutuhkan manusia. Kemampuan ini minimal membuat seseorang mudah berkomunikasi dengan sesamanya. Dengannya ia bisa bergaul, menyerap dan menyampaikan banyak hal. Hidupnya pun bisa bertumbuh selaras dengan majunya waktu. Ia pun bisa menyampaikan gagasan-gagasannya dengan lebih baik.

Yesus membuka si tuli dan si bisu sehingga mereka bisa mendengar dan berbicara. Yesus menjadikan segalanya menjadi baik. Umumnya dari kita memiliki kemampuan mendengar dan berbicara. Kalau Yesus dikatakan menjadikan segalanya menjadi baik, maka marilah kita juga menggunakan pendengaran dan kata-kata kita agar segalanya menjadi baik. Kita serap dengan telinga kita hal-hal baik dan kita bicarakan kata-kata baik demi menjaga kebaikan semuanya.

Kontemplasi: Pejamkan matamu sejenak. Lihatlah telinga dan lidahmu. Gunakan itu untuk menangkap dan mengatakan hal-hal baik.

Refleksi: Apa kebaikan biasa kaudengarkan dan kaukatan?

Doa: Tuhan bukalah telingaku dan mulutku untuk mendengar dan mengatakan hal-hal baik. Semoga kebaikanMu merasuki hidup manusia.Amin.

Perutusan: Aku akan mendengarkan dan berbicara tentang hal-hal baik.

Kredit foto: Ilustrasi (Herald)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: