Sabda Hidup: Jumat, 12 September 2014

buta nuntun buta by get the fivePESTA  Nama SP Maria yang Tersuci,  Petrus Tarentasiensis Warna liturgi Hijau Bacaan: 1Kor. 9:16-19,22b-27; Mzm. 84:3,4,5-6,12; Luk. 6:39-42. BcO 2Ptr. 3:11-18 Bacaan Injil Luk. 6:39-42: 39 Yesus mengatakan pula suatu perumpamaan kepada mereka: “Dapatkah orang buta menuntun orang buta? Bukankah keduanya akan jatuh ke dalam lobang? 40 Seorang murid tidak lebih dari pada gurunya, tetapi […]

buta nuntun buta by get the five

PESTA  Nama SP Maria yang Tersuci,  Petrus Tarentasiensis
Warna liturgi Hijau

Bacaan: 1Kor. 9:16-19,22b-27; Mzm. 84:3,4,5-6,12; Luk. 6:39-42.

BcO 2Ptr. 3:11-18

Bacaan Injil Luk. 6:39-42:
39 Yesus mengatakan pula suatu perumpamaan kepada mereka: “Dapatkah orang buta menuntun orang buta? Bukankah keduanya akan jatuh ke dalam lobang? 40 Seorang murid tidak lebih dari pada gurunya, tetapi barangsiapa yang telah tamat pelajarannya akan sama dengan gurunya. 41 Mengapakah engkau melihat selumbar di dalam mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu sendiri tidak engkau ketahui?

42 Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Saudara, biarlah aku mengeluarkan selumbar yang ada di dalam matamu, padahal balok yang di dalam matamu tidak engkau lihat? Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu.”

Renungan:
Di dalam perjalanan hidupnya tidak ada seorangpun yang lepas dari pengalaman dikritik dan mengkritik. Ada yang berani menyampaikan secara langsung namun tidak sedikit yang hanya berani ngomong di belakang, alias ngrasani. Kecenderungannya (semoga saya salah) mereka yang merasa hebat hanya berani ngomong di belakang.

Kritikannya kepada orang lain pun begitu tajam dan bahkan mungkin kejam. Pada mereka ini kita bisa mengatakan, “Mengapakah engkau melihat selumbar di dalam mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu sendiri tidak engkau ketahui?” (Luk 6:41).

Mengkritik orang lain sebenernya menuntut diri sendiri untuk menjadi lebih baik. Ketika kita mengkritik orang lain kita pun bertanya apakah aku tidak melakukan yang lebih buruk dari itu. Bahkan rasanya ketika kita memarahi orang lain kita pun memarahi diri kita sendiri. Jangan-jangan yang kita buat lebih buruk daripada yang diperbuat orang lain. Maka kiranya dalam kesempatan ini kita terus menerus melakukan introspeksi demi menjadi manusia yang beradab, memiliki habitus Yesus Kristus.

Kontemplasi: Pejamkan sejenak matamu. Hadirkan pengalamanmu ketika diajak ngrasani orang lain. Lihatlah sikapmu dan sikapnya. Lalu bayangkan orang yang lagi kauomongkan. Rasakan rasanya diomongin seperti itu.

Refleksi: Apa yang semestinya kaulakukan untuk menjadi manusia beradab dan memperbaiki sesamamu?

Doa: Tuhan semoga aku bertindak adil kepada sesamaku dan tidak membiarkan mereka yang lemah menjadi bulan-bulanan sesamanya. Amin.

Perutusan:
Aku akan menjaga kata dan tindakanku kala menilai sesamaku.

komsos kas
“melihat yang tak biasa terlihat”

Kredit foto: Si buta menuntun yang buta. (Get the Five)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply