Saat Mbah Suratman Mencariku

Saya dan Mbah Suratman

HARI masih pagi saat perutku terasa lapar dan berniat mencari sarapan di luar kantor. Karena gerimis, aku bawa mobil. Baru beberapa puluh meter aku jalan, aku lihat seorang sedang berdiri di pinggir jalan sambil menengadah memandangi gedung sekolah yang lokasinya bersebelahan dengan sekolah tempatku mengajar.

Aku sangat mengenal orang itu meski baru sekali bertemu. Mbah Suratman! Segera aku berhenti dan menembus gerimis untuk menghampirinya. Aku memanggil namanya tapi beliau tidak mengenaliku lagi.

Seorang Satpam di sekolah itu menjelaskan bahwa sudah beberapa hari ini bapak tua itu mondar-mandir dan ketika ditanya katanya ingin mencari Guru perempuan yang memakai bandul Nabi Isa Almasih. Aku pastikan bahwa akulah yang dicarinya. Tapi ketika aku katakan bahwa akulah orangnya, pak Suratman tidak percaya. Bahkan seolah mencurigaiku.

“Dulu orangnya tidak seperti ini” katanya. Aku berusaha mengingatkan beliau dengan menceritakan kisah hidup beliau yang diceritakan padaku lebih dari setahun lalu.

Beliau kaget dan bertanya:”kok sampeyan tahu?” tanyanya padaku.

“Iya Mbah… Dulu kan simbah yang ceritakan ke saya..” jawabku hampir putus asa. Beliau menggeleng perlahan. Ooooh…. Yak! Leontin itu!! Aku memang selalu memakai leontin itu sejak puluhan tahun lalu.

“Ini Mbah… Lihat yang di kalung saya ini” dengan penuh harap aku tunjukkan leontin Salibku kepada Mbah Suratman. Dan….. Beliau menatapnya tajam….. Kemudian tampak beliau sangat senang dan menepuk-nepuk pundakku sambil berkata.

“Iyo. Yo iki pengikute Nabi Isa Almasih. Tak golek’i kawit wingi…”
“Ada apa mencari saya Mbah… Ada yang bisa saya bantu?,” aku balik bertanya.

“Begini ceritanya. Saya melihat Pohon Cemara Terang sudah dipasang dimana-mana. Itu artinya hari Natal yaitu hari kelahiran Nabi Isa diperingati. Saya mau salaman sama kamu akan tetapi saya lupa namamu.” Dengan nafas agak tersengal Mbah Suratman menjelaskan.

Aku hanya terdiam mendengar penjelasannya. Seorang Kakek yang menurut pengakuannya berjalan kaki selama 2 jam pagi-pagi dari Semper ke Pulomas hanya untuk bersalaman denganku dan mengucapkan selamat Natal?

Aku hanya tertegun…. Apa yang sudah aku lakukan untuk menyambut kelahiran Sang Terang?

“Ayo kita sarapan Mbah… Perut saya lapar,” ajakku.

“Iya.. Tapi jangan makan di lestoran ya… Kita makan di dekat pool sampah yang dulu itu saja” pintanya. Dan…. Kami pun menikmati indahnya hari ini…

Keterangan foto:  Mbah Suratman dan penulis (Dok. pribadi)

 

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: