Saat Dikelilingi Kegelapan (1)

Ayat bacaan: Kejadian 37:24
======================
“Dan mereka membawa dia dan melemparkan dia ke dalam sumur. Sumur itu kosong, tidak berair.”

Anda tentu familiar dengan nama Si Buta Dari Gua Hantu. Bagi yang masih muda, saya yakin setidaknya pernah mendengar nama ini. Sewaktu kecil saya suka membaca komiknya, dan belakangan pernah beberapa kali di filmkan. Apa yang menarik selain adegan-adegan laga dan penampilannya yang unik adalah bahwa kebutaannya ternyata membuatnya jauh lebih peka ketimbang orang yang bia melihat. Indra penglihatan mungkin tidak bisa melihat, semua gelap, tapi indra perasanya menjadi sangat tajam dibanding orang normal. Kalau di Indonesia ada figur Si Buta dari Gua Hantu, di Jepang ada sosok Zatoichi, pendekar samurai yang juga buta tapi sama-sama punya indra perasa yang tajam sehingga mampu melawan penjahat-penjahat yang bisa melihat meski matanya tidak berfungsi sama sekali. Ada restoran yang mengambil konsep kegelapan juga yang katanya bisa mempertajam indra perasa di mulut dan juga penciuman. Dan itu dipercaya bisa membuat kelezatan makanan akan maksimal. Ternyata ada hal positif yang bisa kita peroleh dari kegelapan, tetapi tentu saja kita tidak ingin berada terus menerus dalam kegelapan.

Saat hidup terasa gelap akibat tekanan dan penderitaan akibat masalah seringkali kita menjadi kehilangan sukacita. Kita merasa takut, cemas bahkan panik, gelisah, kuatir dan goyah. Bagai serangan kepada titik-titik penting, kita menjadi lemah dan berpotensi untuk hancur berantakan. Itu tidak boleh terjadi. Lantas apa yang bisa kita perbuat saat sekeliling kita terasa gelap? Mungkin sekeliling gelap, tapi jangan lupa bahwa selalu ada seberkas cahaya di atas yang siap menerangi hidup kita seperti sediakala.

Apa yang seringkali menjadi penyebabnya adalah kealpaan kita melihat ke cahaya terang di atas saat sedang panik melihat kegelapan di sekeliling kita. Kita lupa menengadah ke atas dan menyadari bahwa sebenarnya Terang itu selalu ada disana tak peduli sekelam apapun kegelapan yang tengah menyelimuti kita.
Yusuf pernah melalui kegelapan hidup dalam perjalanan hidupnya lewat serangkaian penderitaan. Mulai dari disakiti saudara-saudaranya sendiri, dijual dan dipenjara. Bahkan setelah lepas dari saudara-saudaranya, hidupnya masih belum menunjukkan perubahan yang baik buat sementara. Namun kita bisa melihat bagaimana Yusuf tidak pernah kehilangan pengharapan sedikit pun. Ia tetap setia dalam kesabarannya menanti janji Tuhan, dan pada akhirnya ia menerimanya dan menjadi seorang pemenang dengan gemilang.

Dari serangkaian kesulitan yang Yusuf alami, ada satu bagian yang buat saya selalu mengingatkan kita kemana kita harus memandang saat berada dalam kegelapan. Itu adalah saat ia dijebloskan ke dalam sumur kering. “Dan mereka membawa dia dan melemparkan dia ke dalam sumur. Sumur itu kosong, tidak berair.” (Kejadian 37:24). Bayangkan jika kita yang berada di posisi Yusuf. Sumur sempit dan dalam. Tidak ada yang bisa kita lihat di sekeliling kita, semuanya gelap. Hanya ada tembok yang mungkin lembab berlumut. Ketika anda memandang ke kiri, kanan, depan, belakang, anda hanya akan melihat kekelaman yang hitam. Tapi bagaimana jika anda melihat ke atas? Ya, ada cahaya di atas. Itu satu-satunya sumber cahaya di dalam sumur. Saya percaya Yusuf dikuatkan oleh cahaya yang tetap menyinarinya dari atas, karena dia tahu meski semuanya gelap disekelilingnya, tetapi ada Tuhan di atas sana yang tetap bersinar terang siap melimpahkan berkat untuk turun atasnya ketika waktunya tiba. Cara pandang Yusuf akan hidup dalam hubungannya dengan janji Tuhan membuat dia tetap berada bersama Roh Allah. Itu mendatangkan keberhasilan-keberhasilan meski dalam masa suram hingga pada akhirnya rencana Allah tergenapi.

Tidak hanya Yusuf, tapi tokoh-tokoh lain di alkitab pun pernah mengalami masa-masa suram. Misalnya Daud. Berkali-kali ia pun mengalami kesulitan dalam perjalanan hidupnya. Tapi sama seperti Yusuf, Daud memiliki pengharapan yang tidak bisa dipadamkan oleh masalah seberat apapun. Ia bahkan dengan yakin berkata “Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku.” (Mazmur 23:4). Daud tahu benar bahwa Tuhan adalah gembalanya yang akan memastikan bahwa ia tidak akan kekurangan suatu apapun. (ay 1). Ia tahu bahwa hanya kebajikan dan kemurahan belakalah yang akan mengikutinya seumur hidupnya, dan itulah yang akan ia peroleh apabila ia diam di dalam rumah Tuhan sepanjang masa. “Surely or only goodness, mercy, and unfailing love shall follow me all the days of my life, and through the length of my days the house of the Lord (and His presence) shall be my dwelling place.” (Mazmur 23:6).

(bersambung)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply