Saat Akhir Zaman Datang (1)

Bacaan Kitab Suci hari ini nampaknya bicara tentang Akhir Zaman. Sepanjang sejarah Gereja, orang sangat suka dengan Akhir Zaman.

Mereka membahasnya dengan sangat mendalam. Dengan memakai kitab Daniel dan Wahyu mereka mencocokkan semua tanda yang disebut untuk mencari tahu kapan Akhir Zaman akan datang.

Dan setiap pergantian abad, selalu ada gerakan yang menyatakan sekarang ini saatnya akhir jaman. Gerakan itu dalam Gereja disebut Milleniarisme, dari kata milenium, 1000 tahun.

Pewartaan tentang akhir Jaman seringkali merupakan pesan yang menakutkan: akan ada bencana yang mengerikan, lekas bertobat supaya tidak masuk neraka! Padahal pesan Kitab Suci itu bukan sekedar janji untuk Masa depan yang entah kapan, tapi pesan untuk saat ini.

Pesan Kitab Suci hari ini ialah untuk mereka yang pada saat beban hidup menekan dan nampaknya tiada jalan keluar, menemukan ada tanda-tanda harapan yang memberi kita kekuatan untuk bertahan dan setia kepada Tuhan.

Jadi jangan sibuk mencari kapan waktunya, karena tentang hari atau saat itu tidak ada yang tahu. Malaikat di surga, Putra Manusia tidak tahu, hanya Bapa saja yang tahu.

Nasrudin sedang merangkak-rangkak mencari sesuatu. Tetangganya yang melihat lalu membantu mencari. “Apa yang hilang?” “Kunciku, jatuh.” Setelah beberapa saat ia bertanya lagi: “Jatuhnya dimana?” “Di rumah.” “Astaga, kenapa mencarinya disini?“ “Karena disini lebih terang.”

Orang yang sibuk dengan mencari kapan Akhir Jaman, tidak menangkap pesan Kitab Suci. Mereka mencari kepastian untuk masa depan mereka. Mereka tidak menemukan bahwa Tuhan hadir disini, sekarang ini, tetapi mereka butuh ancaman di masa depan untuk mengatur hidup mereka sekarang.

Tetapi apa yang sebenarnya dikatakan Kitab Suci tentang Akhir Jaman itu? Nabi Daniel menulis untuk orang Yahudi di pembuangan yang sudah puluhan tahun hidup sebagai jajahan bangsa Babel, Media, Persia dan Yunani. Mereka kehilangan iman mereka kepada Allah yang Mahaesa dan Maha kuasa.

Pada saat Markus menulis Injilnya, Gereja sedang mengalami penindasan kaisar Roma. Banyak orang Kristen ditangkap, disiksa dan dibunuh sehingga banyak orang menjadi goyah imannya.

Terhadap situasi tersebut, Daniel dan Markus menegaskan hal yang sama: Allah tidak tinggal diam. Allah perduli akan penderitaan umatNya. Dan siapa yang setia dan bertahan akan diselamatkan. Bagaimana cara Allah bertindak? Dengan mengutus PuteraNya, Yesus. Apa yang dilakukan Yesus?

Mengajarkan pertobatan Mrk 1:15a. Langkah berikutnya, mendengarkan, memandangi, mengikuti Yesus sebagai Mesias yang diutus Allah. Yesus sendiri memakai ungkapan Anak Manusia untuk menjelaskan ke-Mesias-annya. Ia mendekatkan kembali manusia dengan Allah, ia bukan Mesias politik.

Kedatangan kembali Yesus dalam kemuliaannya digambarkan oleh Markus (juga oleh Matius dan Lukas) dengan memakai gambaran dari Dan 7:13, yakni tokoh Anak Manusia yang datang menghadap Allah untuk memperoleh anugerah kuasa atas seluruh alam semesta.

Anak Manusia di situ dipakai melukiskan kemanusiaan baru yang hidup merdeka di hadapan Allah. Di situlah kebesarannya. Bila diterapkan kepada Yesus, kedatangannya kembali mewujudkan kemanusiaan yang baru ini. Kemanusiaan baru itulah wujud utuh Kerajaan Allah.

Manusia tidak lagi buta, tidak lagi lumpuh, tidak lagi sakit, tidak kerasukan roh jahat, tapi yang merdeka di hadapan Allah, seperti Yesus sendiri di hadapan Allah, Bapa yang maharahim itu. Seperti dalam Kitab Daniel tadi, kehadiran manusia baru itu berkontras dengan zaman kekacauan yang mendahuluinya.
bersambung

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: