Rubah Kecil yang Merusak Kebun Anggur (1)

Ayat bacaan: Kidung Agung 2:15
=======================
“Tangkaplah bagi kami rubah-rubah itu, rubah-rubah yang kecil, yang merusak kebun-kebun anggur, kebun-kebun anggur kami yang sedang berbunga!”

Rubah bukanlah hewan yang familiar di Indonesia, tetapi sering dijumpai di beberapa negara bagian Amerika dan juga sebagian negara-negara Eropa seperti Inggris dan Rusia. Ukuran rubah rata-rata sedikit lebih kecil dari anjing berukuran sedang, dan secara umum bukanlah hewan berbahaya meski dilaporkan sering memasuki halaman belakang rumah penduduk. Rubah biasanya memangsa hewan-hewan berukuran kecil seperti tikus, tetapi dalam beberapa kasus rubah pernah menggigit manusia, bayi yang tidak diawasi. Selain itu rubah kerap memangsa hewan ternak berukuran kecil seperti ayam, atau hewan peliharaan seperti kucing dan anjing-anjing ras kecil. Rubah bukanlah hewan berbahaya seperti harimau atau beruang yang bisa membunuh kita. Biasanya rubah akan segera kabur jika bertemu pandang dengan manusia, bahkan seringkali terlihat imut-imut seperti dalam banyak gambaran kartun. Tetapi rubah tetap tidak bisa dipercaya begitu saja karena pada suatu ketika bisa menimbulkan kerugian. Kalaupun tidak menyakiti manusia atau hewan peliharaan, kehadiran rubah bisa memporak-porandakan taman yang sudah kita tata baik.

Menarik apabila melihat bahwa dalam rangkaian syair romantis dalam Kidung Agung, dalam pasal 2 tiba-tiba ada ayat berubah mendadak dengan berseru agar mewaspadai rubah, termasuk rubah kecil. Ayatnya berbunyi sebagai berikut: “Tangkaplah bagi kami rubah-rubah itu, rubah-rubah yang kecil, yang merusak kebun-kebun anggur, kebun-kebun anggur kami yang sedang berbunga!” (Kidung Agung 2:15). Menangkap rubah-rubah kecil yang merusak kebun anggur yang sedang berbunga? Ayat ini bisa jadi sepertinya hanya selintas saja, tetapi sesungguhnya berisi pesan yang sangat penting bagi kita semua.

Sebelum kita melihat lebih jauh rubah-rubah termasuk yang masih kecil yang harus kita waspadai, ada baiknya untuk mengetahui terlebih dahulu kitab Kidung Agung tulisan Salomo ini. Tulisan romansa di dalam kitab ini melambangkan keindahan cinta yang teguh, lekat dan setia, tak tergoyahkan antara Kristus dan kita, mempelaiNya. Jadi jika serangkaian keindahan cinta tiba-tiba terpotong oleh satu ayat yang mengingatkan agar kita mewaspadai rubah-rubah baik yang sudah dewasa maupun yang masih kecil, tentu ini merupakan sesuatu yang dapat merusak hubungan indah yang sudah terjalin selama ini.

Akan halnya kebun anggur, mari kita lihat apa kata Yesus dalam Injil Yohanes. “Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku. Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.” (Yohanes 15:4-5). Yesus menggambarkan diriNya sebagai pohon anggur, dan kita adalah ranting-rantingnya. Bayangkan jika ranting dipotong, maka ranting tidak akan punya kemampuan apapun untuk menghasilkan buah. Tetapi jika ranting tetap bagian dari pohon, maka ranting akan bisa menghasilkan anggur-anggur yang ranum dalam jumlah banyak. Ranting tanpa pohon hanyalah akan berupa ranting kering, tidak lagi mampu berbuah, sehingga tidak ada lagi yang bisa diperbuat atasnya kecuali dikumpulkan dan dibuang ke dalam api (ay 6). Seperti itulah kita yang harus tinggal di dalam Yesus agar bisa menghasilkan buah-buah yang baik menurut perumpamaan Yesus ini.

Dengan mengerti gambaran dasar di atas, akan lebih mudah bagi kita untuk memahami pesan yang disampaikan dalam  Kidung Agung 2:15. Dalam bahasa sehari-hari ayat ini berkata: “Tangkaplah rubah-rubah itu, rubah-rubah kecil yang merusak kebun anggur, sebab anggur kami sedang berkembang.” Jadi anda bisa membayangkan ketika hubungan kita dengan Kristus sedang mekar, berkembang dengan indahnya, bagaikan kebun anggur yang tumbuh subur penuh buah, tiba-tiba datanglah ‘rubah-rubah kecil’ menghancurkan, mengobrak-abrik kebun yang sudah kita tanam dan rawat dengan baik itu. Bukankah itu hanya akan membuat segala usaha dan ketekunan kita sia-sia? Tidakkah itu hanya mendatangkan kerugian apabila tidak diwaspadai secara serius?

(bersambung)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: