Friday, 19 December 2014

Rubah dan Kelinci

Ayat bacaan: Kidung Agung 2:15
=======================
“Tangkaplah bagi kami rubah-rubah itu, rubah-rubah yang kecil, yang merusak kebun-kebun anggur, kebun-kebun anggur kami yang sedang berbunga!”

rubahAda sebuah dongeng bahasa Inggris berjudul Kelinci dan Rubah. Ada seekor kelinci yang sangat pintar, tetapi sangat gesit dan sulit ditangkap. Pada suatu hari, seekor serigala bersekongkol dengan rubah untuk menangkap dan memangsa kelinci itu. Serigala berkata kepada sang rubah: “Aku punya ide agar kita bisa menangkap kelinci itu. Kamu pulang dan naik ke tempat tidur dan pura-pura mati. Aku akan bilang kepada kelinci bahwa rubah sudah mati. Begitu ia datang melihat, terkam dan tangkap dia.” Rubah pun setuju dan melakukan persis seperti itu. Lalu serigala pun menjumpai kelinci untuk menjalankan rencananya. Kelinci itu pun datang ke rumah rubah dan mengintip dari jendela. Ternyata kelinci cukup cerdik. Ia memakai akalnya untuk menguji terlebih dahulu kebenaran dari apa yang dikatakan serigala. “Hai serigala, anda berkata bahwa rubah itu sudah mati, tapi dari apa yang aku lihat ia tidak tampak seperti rubah mati. Seekor rubah yang mati mulutnya selalu terbuka.” Sang rubah mendengar perkataan kelinci dan berpikir, “wah…begitu ya, kalau begitu aku harus buka mulut supaya ia benar-benar mengira bahwa aku sudah mati.” Begitu rubah itu membuka mulut, kelinci pun tahu bahwa semua itu hanyalah jebakan saja. Ia pun kemudian lari sekencang-kencangnya menjauh dari rumah itu.

Sebuah kisah yang singkat ini menggambarkan kecerdikan kelinci dalam menghindari jebakan rubah dan serigala. Rubah ukurannya tidaklah sebesar hewan buas di hutan seperti singa, harimau atau beruang misalnya. Tetapi meski kecil, rubah tergolong hewan yang cerdik dan cekatan. Rubah sanggup hidup dimana-mana dan gemar merusak apa saja yang ia lewati. Tidak jarang rubah memangsa bukan karena lapar, tetapi hanya karena ingin mempermainkan mangsanya sampai mati. Dalam Kidung Agung ada sebuah ayat unik yang tiba-tiba menyeruak ditengah rangkaian ayat-ayat yang indah menggambarkan kemesraan dan kebahagiaan sebuah hubungan. Ayat-ayat itu sambung menyambung dengan manis, tapi tiba-tiba ada ayat yang berbunyi: “Tangkaplah bagi kami rubah-rubah itu, rubah-rubah yang kecil, yang merusak kebun-kebun anggur, kebun-kebun anggur kami yang sedang berbunga!” (Kidung Agung 2:15).  Apa yang digambarkan ayat ini jelas. Ketika kita tengah membangun hubungan yang erat dengan Tuhan, kita tidak boleh mengabaikan hal-hal kecil yang bisa muncul setiap saat. Apa yang kecil di mata kita ini mampu merusak semua yang telah kita bangun dengan susah payah. Karena nila setitik rusak susu sebelanga, begitu kata pepatah. Dan lewat perumpamaan rubah dalam kitab Kidung Agung ini kita diingatkan untuk waspada terhadap dosa-dosa yang sepertinya sepele atau kita anggap kecil. Kita sudah sekian lama melatih diri kita untuk taat dan setia, kita mampu menghindari dosa-dosa yang kita anggap besar, tetapi kita menganggap remeh dosa-dosa kecil dan memberi toleransi akan hal tersebut. Kita tidak membunuh, tidak merampok bank, tapi sekali-kali bohong itu biasa, menipu orang tua untuk mendapat uang itu tidak apa-apa kalau cuma sesekali, itu contoh dari pembenaran yang kerap kita lakukan untuk membiarkan dosa-dosa kecil menjebak kita. Kita tidak membunuh siapa-siapa, tapi lewat gosip-gosip yang kita sampaikan kita tanpa sadar tengah merusak atau bahkan membunuh karakter seseorang. Kita lengah menghadapi masuknya jebakan dosa yang kita anggap sepele. Seperti rubah-rubah kecil, dosa-dosa kecil itu sanggup memporak-porandakan apa yang sudah kita bina selama ini. Kelinci dalam dongeng tadi cukup cerdik untuk menghindar dari jebakan rubah. Apakah kita sudah secerdik kelinci atau masih mudah termakan jebakan rubah?

Dalam menjalani kehidupan di dunia ini kita seringkali tidak menyadari adanya “duri-duri kecil” ini. Mungkin mudah bagi kita untuk tidak melakukan dosa-dosa yang kita anggap besar, tapi seringkali sulit bagi kita untuk menghindar dari hal-hal yang kita anggap sepele padahal itu sama seriusnya di mata Tuhan? Kita berkompromi karena menganggap itu hanyalah dosa kecil yang tidak beresiko apa-apa sama sekali. Tidak membunuh, tetapi kita mengolok-olok teman, bergosip, berkata kotor, menghujat dan sebagainya, atau ketika kita tidak tahan menolak ajakan dan turut serta melakukan hal yang buruk dalam lingkungan pergaulan yang tidak baik. Ah, hanya sekali-kali, itu kata kita. Tetapi Alkitab tidak pernah mengatakan bahwa kita sekali-kali boleh melanggar firman Tuhan. Atau bagaimana ketika kita membiarkan rasa benci, dendam, iri hati dan sejenisnya menguasai kita? Atau menipu orang lain dengan berbagai alasan? Inipun bisa menjadi masalah besar pada suatu saat. Dosa-dosa kecil yang kita anggap sepele dan kita beri toleransi seringkali menjadi awal untuk masuknya berbagai dosa yang akan meningkat intensitasnya, dan pada suatu ketika kita sudah terjerat sedemikian rupa sehingga ketika kita sadar, sudah sulit bagi kita untuk melepaskan diri dari semua itu.

Ketika pepatah mengatakan “karena nila setitik rusak susu sebelanga”, itu pun ada dalam firman Tuhan. “Sedikit ragi sudah mengkhamirkan seluruh adonan.” (Galatia 5:9). Perhatikan pula ayat berikut ini: “Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya. Dan apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa; dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut.” (Yakobus 1:14-15). Lihatlah bahwa dengan berkompromi terhadap hal-hal kecil, ketika kita membiarkan diri kita terpikat oleh keinginan-keinginan daging yang mungkin terlihat tidaklah seberat dosa seperti menghilangkan nyawa orang lain misalnya, itu bisa meningkat eskalasinya hingga melahirkan dosa dan berujung maut. Sedikit kesalahan kecil bisa menjadi pintu masuk iblis buat merusak tatanan kehidupan dalam Tuhan yang sudah kita bangun selama ini dengan susah payah. Karena itulah apabila kita selama ini awas dalam memperhatikan dosa-dosa besar, kini saatnya kita juga harus memperhatikan pelanggaran-pelanggaran yang mungkin kita anggap kecil. Semua dosa itu sama seriusnya di hadapan Tuhan, no matter how big or small. Semua harus kita pertanggungjawabkan nanti dan akan menentukan kemana kita selanjutnya. Apalagi dengan keberadaan kita sebagai anak-anak terang, kita harus pula menjaga diri kita baik-baik agar bisa sampai ke garis akhir dengan selamat dan tidak terjerembab jatuh ke dalam kegelapan. “Karena itu perhatikanlah supaya terang yang ada padamu jangan menjadi kegelapan.” (Matius 12:35).

Rubah-rubah kecil siap menutup pintu surga dan membuat kita kehilangan kesempatan untuk mendapatkan keselamatan. Berbagai duri-duri yang kecil yang tampaknya sepele bisa sangat menyakitkan dan menghambat langkah kita. Dongeng di atas hendaknya mengingatkan kita semua akan bahayanya jebakan rubah-rubah atau dosa-dosa kecil ini. Dosa sekecil apapun itu, bereskanlah segera. Mintalah pengampunan secepatnya kepada Tuhan dan selanjutnya berjaga-jagalah dengan waspada. Jangan beri toleransi apapun terhadap penyimpangan-penyimpangan dari firman Tuhan walau sekecil apapun itu. Berdoalah dan teruslah berjalan dalam tuntunan Roh Kudus agar tidak ada satupun yang bisa merusak semua yang telah kita bangun selama ini.

Bersikaplah cerdik seperti kelinci agar terhindar dari jebakan rubah

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Incoming search terms:

0saves


If you enjoyed this post, please consider leaving a comment or subscribing to the RSS feed to have future articles delivered to your feed reader.

Related Posts to "Rubah dan Kelinci"

Response on "Rubah dan Kelinci"