Ruang Untuk Yesus (1)

Ayat bacaan: Lukas 2:7=================”dan ia melahirkan seorang anak laki-laki, anaknya yang sulung, lalu dibungkusnya dengan lampin dan dibaringkannya di dalam palungan, karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan.”Apa fungsi gereja saat…

Ayat bacaan: Lukas 2:7
=================
“dan ia melahirkan seorang anak laki-laki, anaknya yang sulung, lalu dibungkusnya dengan lampin dan dibaringkannya di dalam palungan, karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan.”

Apa fungsi gereja saat ini? Kita mungkin bisa menjawab gereja sebagai bait kudus dimana umatNya bersama-sama bersekutu dan menyembah Tuhan, lalu gereja seharusnya menjadi wakil Allah di dunia untuk memberitakan keselamatan dan menjalankan pelayanan bagi bangsa-bangsa di bumi. Gereja seharusnya sanggup memimpin orang kepada kebenaran dimana semua yang berjemaat bisa mengalami pemulihan dan pertumbuhan iman. Itu yang seharusnya. Sayangnya ada banyak orang yang kemudian keliru mengelola gereja sehingga prinsipnya lari dari semua itu. Iklan-iklan di koran yang mempromosikan pendeta terkenal/ternama, artis yang diundang kesana dengan iklan besar-besaran menggantikan fungsi gereja bagai ajang rebutan jemaat. Ada gereja yang membedakan jemaat berdasarkan ‘kasta’, yaitu donatur dan orang penting (VIP) lah yang boleh duduk di barisan depan sedang jemaat biasa hanya boleh mulai dari baris ke sekian, terpisah dari deretan utama. Meski orang-orang penting ini tidak datang, kursi lebih baik kosong ketimbang diisi oleh jemaat yang hadir.

Ada banyak gereja yang sibuk dengan program ketimbang menjadi wakil Tuhan secara nyata di dunia. Ketika terjadi situasi sulit, mereka sibuk dengan program dalam gereja masing-masing tetapi enggan untuk melangkah keluar. Mari kita bayangkan seandainya Yesus turun ke dunia saat ini. Yesus datang dengan mengambil rupa seorang hamba, menjadi sama seperti manusia (Filipi 2:6-7). Artinya, Yesus datang bukan sebagai selebritis, naik kendaraan mewah, harus mendapat fasilitas mewah, hanya mau berjalan di atas karpet merah dan sebagainya. Kalau Yesus datang lagi saat ini, Dia akan mengambil rupa orang biasa yang tidak menarik seperti nubuatan Yesaya dalam pasal 53. Jadi, bayangkan apabila Yesus datang ke tempat-tempat ibadah seperti itu. Jangan-jangan Yesus akan terpinggirkan dan tidak mendapat tempat, ironisnya justru di rumahNya sendiri, sejalan dengan melencengnya gereja dan fungsinya menjauh dari Yesus dan berpindah pusat kepada kepentingan-kepentingan pribadi atau golongan.

Itu sudah terjadi saat kedatangan Yesus pertama kali yang lahir sebagai bayi seperti manusia. Saat Yesus lahir di bumi, apakah Dia mendapat fasilitas terbaik yang ada di muka bumi ini? Pelayanan 24 jam? Adakah box bayi bertahta berlian dan berselimutkan emas, kain terlembut dan terhangat dengan mutu terbaik untuk membungkusnya? Tempat yang terbaik di dunia yang pernah ada? Sama sekali tidak. KedatanganNya yang menjadi anugerah kasih terbesar yang pernah ada, dengan tujuan yang luar biasa besar bagi umat manusia justru lewat cara yang terbilang menyedihkan atau bahkan tragis. Jangankan pelayanan super lengkap, sambutan hangat, fasilitas-fasilitas bintang lima, saat Yesus lahir, bahkan tidak ada satupun tempat penginapan yang ada pada waktu itu mau menampung kelahirannya berserta kedua orang tuaNya di bumi.

Mari kita lihat apa yang terjadi waktu itu. Yusuf saat itu pasti kelabakan membawa istri yang sedang hamil tua berkeliling dari satu tempat penginapan ke tempat penginapan lainnya untuk bisa merebahkan diri, beristirahat sekaligus mencari tempat yang layak bagi istrinya untuk bersalin. Bagi Maria sendiri situasi itu tentu sangat menyiksa. Selain tersiksa harus berjalan jauh kesana kemari di saat hampir melahirkan seperti itu, adakah seorang ibu yang bermimpi untuk meletakkan bayinya tidak di tempat yang pantas? Satu-satunya tempat yang mereka dapat adalah palungan yang notabene adalah tempat makanan ternak. Palungan jauh dari kondisi bersih dan bisa mendatangkan resiko kalau dipakai sebagai tempat melahirkan. Tapi itulah kondisi yang harus dihadapi Yusuf dan Maria, juga bayi Yesus. Alkitab mencatat jelas kondisi saat itu. “Dan ia melahirkan seorang anak laki-laki, anaknya yang sulung, lalu dibungkusnya dengan lampin dan dibaringkannya di dalam palungan, karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan.” (Lukas 2:7). Ironis sekali bukan? Disaat orang berebut menuntut fasilitas mewah dengan harga super mahal meski baru seumur jagung dikenal orang, Yesus justru sulit untuk sekedar mendapatkan tempat yang layak ketika lahir. Bagi orang lain dan hal-hal lain, ruang itu ada, tetapi bagi Yesus ternyata tidak ada. Bayangkan, Tuhan yang menciptakan seluruh dunia ini datang, tapi justru tidak ada sedikitpun ruang bagiNya.

Apa yang terjadi malam itu di Betlehem lebih dari dua ribu tahun lebih yang lalu masih saja sama hari ini. Ada banyak yang mengaku orang percaya, ada banyak yang mengaku melayani, tetapi sangatlah memprihatinkan ketika Kristus masih saja berada di bagian belakang atau terpinggirkan dalam kehidupan sebagian dari kita. Kita mengaku percaya, tetapi Dia hanya mendapat tempat jika kita butuh sesuatu saja, atau selama tidak mengganggu kesenangan kita. Ketika ada perintah-perintah dan larangan Tuhan yang terasa menghalangi kesenangan, maka dengan segera Tuhan pun dipinggirkan. Kita ingin Dia segera menolong kesesakan kita, tetapi begitu pertolongan itu tiba, secepat itu pula Dia kembali kita sisihkan. Tidak ada cukup tempat buat Yesus. Mungkin kita mengatakan ada, tetapi pada kenyataannya Yesus kalah bersaing dari segala kemewahan dunia, berbagai kepentingan pribadi, pamor, popularitas dan sebagainya di dalam diri kita.

(bersambung)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply