Roti Hidup adalah Pribadi Kristus Sendiri: Yoh 6, 44-51

0
9

KEDATANGAN Yesus ke dunia untuk menyelamatkan Umat manusia belum selesai dengan kematianNya di kayu salib dan kebangkitan-Nya. Memang secara obyektif manusia telah ditebus, tetapi secara subyektif keselamatan itu baru akan terjadi bagi setiap orang secara pribadi, kalau orang itu percaya akan Tuhan Yesus, menerima FirmanNya dan lebih-lebih menerima kehadiranNya dalam hidup ini.

Itulah sebabnya Yesus mengadakan perjamuan Ekaristi agar orang dapat mengenang wafat dan kebangkitaNya, tetapi sekaligus Tuhan Yesus juga ingin hadir dalam diri orang yang percaya kepadaNya sebagai jaminan keselamatan-Nya.

Mengapa demikian? Secara sederhana dapat dikatakan demikian. Agar manusia itu dapat ditebus dari dosa-dosanya, maka orang itu perlu percaya dulu pada Tuhan Yesus dan bertobat. Dosa manusia itu tidak dapat hilang secara otomatis. Karena dosa manusa itu merupakan sikap serta perbuatan yang disengaja melawan Tuhan, maka supaya dapat bersih dari dosa, manusia juga harus secara sengaja menerima Kristus kembali dengan bertobat dan percaya.

Nah kalau orang percaya atau mempercayakan diri pada Kristus dengan bertobat dan menyambut Ekaristi, maka orang itu berarti mau menerima tarikan dari Allah sendiri dan akan mendapatkan buah penebusan, yaitu hidup abadi. Maka dengan menyambut Komuni orang beriman perlu menyadari bahwa yang diterima itu adalah Pribadi Kristus sendiri.

Manusia tak mampu menghadap Allah dengan mengandalkan kekuatannya sendiri. Tuhan Allahlah yang harus memulai lebih dulu. Hidup bersatu dengan Allah harus didukung rezeki ilahi. Karena kita bagaikan disuapi oleh Allah, maka kita dapat hidup. Ekaristi ini memang diberikan untuk meleestarikan hidup kita di dunia ini. Maka sebagaimana Tuhan telah menghidupi kita dengan kekuatan ilahi, kita diharapkan juga mau memperhatikan orang-orang disekitar kita yang memerlukan bantuan jasmani.

Kalau kita renungkan sungguh-sungguh untuk dapat menghayati Komuni Kudus yang kita sambut sebagai Pribadi Kristus sendiri itulah yang masih terlalu jauh ( sulit). Ibu Teresa dari Kalcuta dan Santo Yohanes Paulus II adalah tokoh yang mampu menunjukkan penghayatan Kristus hidup dalam dirinya. Hal ini nampak dalam cara berdoa, dan dalam sikapnya sewaktu menanggapi segala perma-salahan yang berat, dalam memberikan nasIhat, dalam pandangan mata dan seluruh wajahnya, seakan-akan Yesus sendiri menyatu dalam hidupnya.

Photo credit: Yesus Kristus (Ilustrasi/Fatima Portugal)

 

 

Loading...

Tulis gagasan

Please enter your comment!
Please enter your name here