Romo N. Drijarkara SJ di Mata Orang Sedesanya (6)

NAMA besar atau lebih tepat karya besar seorang Nicolaus Drijarkara SJ pastilah lebih banyak diketahui oleh kalangan intelektual maupun pimpinan Gereja Katolik di Indonesia. Kelekatan itu lebih karena beliau adalah seorang Yesuit, filsuf , pendidik dan pemikir yang peduli dengan nasib bangsanya. Beliau lekat dengan IKIP (kini Universitas) Sanata Dharma Yogyakarta, karena beliau pernah ditugaskan Serikat Jesus berkarya di sana. Juga dengan  STF Drijarkara, karena namanya diabadikan menjadi label resmi nama lembaga pendidikan tinggi studi filsafat ini.

Pada intinya, sosok Drijarkara SJ jaul lebih dikenal luas di kalangan intelektual dan akademisi daripada orang-orang sekampungnya sendiri, bahkan kerabatnya pun tidak secara lengkap dapat menggambarkanya. Meski demikian, toh banyak warga sekampung saya di Kedunggubah, Kaligesing, Purworejo masih samar-samar bisa mengingat bagaimana sosok Romo N. Drijarkara SJ ini. Sudah barang tentu, para warga sepuh ini juga tak terlalu mengerti makna besar di balik arti kata ‘intelektualitas’ dan nama besar seorang putra desa bernama Drijarkara di percaturan intelektual bidang filsafat di Tanahair.

Dengan segala keterbatasan dan melakukan itu apa adanya, orang-orang desanya juga ingin mengenang dan mengabadikan namanya dengan berbagai cara.

Mengabadikan nama “Drijarkara”

Pertama, pada masa Orde Baru, nama Drijarkara SJ dipakai untuk memberi identitas pada sebuah kelompok informal “Kelompok Masyarakat Sadar Hukum Prof. Dr. N. Drijarkara SJ”. Nama kelompok tersebut sampai saat ini masih ada dan terpampang jelas di salah satu rumah seorang perangkat desa.

Lainnya memakai nama besar romo Jesuit ini sebagai label menamai “Gugus Depan Prof. Dr. N. Drijarkara SJ”. Ini tak lain adalah  salah satu kelompok gerakan pramuka tingkat SD Inpres di Kedunggubah.

Memang ada perbedaan penggunaan nama yakni mencantumkan SJ di belakang namanya dan ada yang tidak.

Di kalangan umat katolik setempat, nama kapel kecil stasi itu adalah St. Nicolaus. Konon nama ini diambil dari nama baptis Romo Drijarkara SJ. Pemberian nama tersebut atas saran (waktu itu) Romo Fransiskus Borgias Gunadi MSC (kini sudah almarhum) yang pada tahun 1990-an menjadi pastur Paroki Purworejo dan pihak paling berperan hingga bisa mewujudkan kapel kecil itu hingga bisa berdiri.

Kapel Nicolaus karya alm. FB Gunadi 

Belakangan, persis di depan kapel kecil itu tertanam patung Drijarkara SJ setinggi sekitar 1 meter lengkap dengan riwayat hidupnya (sebagaimana dikisahkan juga oleh Romo Sujoko MSC). Patung ini ada atas prakarsa seorang frater yang menjalani tahun pastoral di stasi kecil ini sekitar 5-6 tahun lalu.

Di balik penggunaan dan pencantuman nama Drijarkara SJ sebagai nama kelompok di desa kelahirannya, maka sepintas dapat ditafsirkan bahwa mereka merasa memiliki dan ingin memiliki seutuhnya sosok Drijarkara SJ sebagai bagian dari identitas geografisnya. Kasarnya, nunut katut nama besarnya.

Romo Nicolaus Drijarkara SJ bagi orang-orang sedesanya dimaknai sebagai figur nama besar dan berharap turut mengungkit sedikit saja kebesaran desa yang kecil dan miskin itu. Ini bisa saya maklumi, karena hingga hari ini  warga desa kelahiran saya ini masih sangat sedikit yang mampu melanjutkan sekolahnya hingga tahap perguruan tinggi.

Beruntung, saya sendiri sempat mencicipi pendidikan tinggi di USD selama hampir 6 tahun, yakni sebuah lembaga pendidikan Yesuit dimana cukup melekat erat spirit Drijarkara SJ.

Seingat saya hanya ada 4 generasi di Kedunggubah –termasuk saya– yang secara formal  berhasil bisa mengenyam pendidikan tinggi belajar di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta yang dirintis oleh Drijarkara SJ.  Mereka adalah Alm. Susi, alumnus Jurusan PGSD USD angkatan 1994, Aan dan Ari  angkatan 2000-an, cucu dari besan orang tua saya.

Susi sebetulnya masih terbilang anggota kerabat jauh Romo N. Drijarkara SJ sendiri. Sebagaimana diungkap oleh Romo Sujoko, tak pernah muncul lagi imam atau biarawan/wati dari generasi sekarang setelah alm. Romo N. Drijarkara SJ dan alm. Sr. Moeder Emanuella Sahati PBHK.

Menyedihkan memang. Siapa tahu, kalau kondisi alam yang kurang subur dan letaknya yang sangat terpencil dan perubahan zaman ini telah menjadi penyebab hingga panggilan menjadi religius menjadi sangat kecil.  (Bersambung)

Artikel terkait:

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: