Roh Kudus: Penolong Dalam Hidup Setiap Hari

Roh Kudus: Penolong Dalam Hidup Setiap Hari

Roh Kudus: Penolong Dalam Hidup Setiap Hari

HARI ini, Hari Raya Pentakosta, kita akan merenungkan tentang Roh Kudus, Pribadi Ketiga Allah yang hampir tidak pernah kita bicarakan atau kita renungkan. Berdoa kepada Bapa, setiap kali kita berdoa Bapa Kami. Berdoa kepada Allah Putra, kita selalu menyebut nama Yesus Kristus. Berdoa mohon pertolongan Ibu Maria, kita masih dalam bulan Maria dengan berdoa rosario. Berdoa kepada Roh Kudus? Paling-paling setahun sekali, kalau kita ikut novena Roh Kudus sebelum hari raya Pentakosta. Karena Roh Kudus itu begitu tidak kita kenal, maka kita akan merenungkan makna Pentakosta dan Roh Kudus sendiri.

Pentakosta, awalnya merupakan pesta panen bangsa Yahudi yang dihubungkan dengan Perjanjian antara Allah dan bangsa Israel di Gunung Sinai. Disana umat menerima Hukum Taurat yang berupa Loh Batu, tanda perjanjian yang berisi Sepuluh Perintah Allah. Pentakosta dirayakan 50 hari sesudah Paskah, seperti yang kita rayakan sampai sekarang. Bagi Gereja, Pentakosta yang diceritakan dalam Kis. 2:1-11, mempunyai dua makna.  pada peristiwa Pentakosta, berkumpul bangsa manusia dari seluruh ‘dunia’ yang dikenal bangsa Yahudi waktu itu. Pada saat itu, bahasa bangsa manusia dipersatukan kembali dalam satu bahasa Roh, bahasa iman dan cinta. Hal ini untuk menunjukkan bahwa usaha persatuan manusia yang dibuat di Babel dengan membangun menara sampai ke langit (Kej. 11:1-9), hanya menyebabkan manusia bercerai berai. Karya Roh, mempersatukan bahasa manusia kembali. ‚ Pentakosta, dengan turunnya Roh Kudus, memberi hukum yang baru, hukum yang dipahat dalam hati, bukan pada batu.  Jadi karya Roh Kudus pada waktu itu ialah menanamkan hukum cinta Allah kepada manusia dan mempersatukan manusia dalam usaha bersama membaharui bumi dalam Kristus. Dalam Injil, Yesus menjanjikan Roh Kudus yang akan membuat kita bersaksi dan membawa kita dalam kebenaran, yaitu membuat kita taat akan karya kasih penyelamatan Allah. Dan hasilnya, manusia yang hidup dalam roh menghasilkan buah-buah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemah lembutan, penguasaan diri (Gal. 5:22-23). Jadi Roh Kudus berkarya di dalam Gereja dan hati manusia.

Itulah sebabnya kita jarang berdoa kepada Roh Kudus. Karena kita lebih mudah mencari Allah di luar diri kita. Allah Bapa sang Pencipta, Yesus Kristus sang Penyelamat, Bunda Maria, Ibu yang berbelas kasih. Tetapi Allah yang hidup dalam hati kita, jarang kita perhatikan. Padahal jika kita memperhatikan tanda-tanda 9 keutamaan buah roh: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemah lembutan dan penguasaan diri, maka jelas Roh Allah hidup dalam diri kita.

Seorang pemuda telah hadir pada suatu pendalaman Kitab Suci hari Rabu malam. Pemandu pertemuan telah berbicara tentang mendengarkan Allah dan mentaati suara Tuhan. Pemuda itu tercengang-cengang, “Masihkah Allah berbicara kepada manusia?”“ Usai pendalaman, ia pergi bersama beberapa rekannya untuk minum kopi, mereka mendiskusikan pendalaman tadi. Beberapa di antara mereka mengisahkan bagaimana Allah telah memimpin mereka di dalam cara yang  berbeda-beda. Sekitar jam sepuluh malam ketika pemuda itu mengendarai mobilnya pulang ke rumah; ia mulai berdoa, “Allah,“ kalau Engkau masih berbicara kepada manusia, maka berbicaralah kepadaku. Aku mau mendengar. Aku akan berusaha sedapat mungkin untuk taat.” Ketika ia sedang melaju di jalan protokol di kotanya, ia memperoleh pikiran yang paling aneh  “Berhentilah dan belilah satu gallon susu.” Ia menggelengkan kepalanya dan berkata dengan suara nyaring, “Allah, Engkaukah itu”“ Ia tidak memperoleh jawaban dan terus melaju pulang. Namun kembali pikiran tersebut terlintas, “Belilah satu gallon susu.” Pemuda itu teringat akan Samuel dan bagaimana Samuel tidak mengenali suara Allah dan bagaimana Samuel kecil berlari kepada Eli. “Baiklah Allah, apabila benar itu Engkau, maka aku mau membeli susu itu.” Tampaknya bukan ujian ketaatan yang terlalu sulit. Ia selalu dapat memanfaatkan susu yang dibelinya itu. Ia berhenti dan membeli satu gallon susu dan mulai melaju pulang. Ketika ia melalui sebuah jalan, kembali ia merasakan dorongan, “Beloklah ke jalan di depan itu.” Ini gila-gilaan, pikirnya, dan melaju melalui perempatan. Kembali ia merasa harus berbelok ke jalan tadi lagi. Pada perempatan berikutnya, ia berputar kembali ke jalan tadi. Setengah bergurau ia berkata dengan nyaring, “Baiklah Allah, aku mau.”  Ia melalui beberapa blok ketika tiba-tiba, ia merasa seakan-akan harus berhenti. Ia menghentikan mobilnya di tepi jalan dan memandang sekelilingnya. Ia sedang berada di dalam bagian kota yang semi komersial. Bukan hunian yang terbaik, namun bukan juga yang terburuk. Kantor-kantor sudah tutup dan sebagian besar rumah-rumah yang ada tampaknya gelap, sepertinya penghuninya telah tidur semua. Kembali, ia merasakan sesuatu, “Pergi dan berikan susu itu kepada orang yang berada di rumah seberang itu.” Pemuda itu memandang rumah itu. Gelap dan tampaknya penghuninya sedang pergi atau sudah tidur. Ia membuka pintu mobil dan duduk kembali di dalamnya. “Tuhan, ini tidak masuk akal. Orang-orang itu sudah tidur dan apabila aku membangunkan mereka, maka mereka akan menjadi marah dan aku akan tampak bodoh sekali.” Kembali ia merasa bahwa ia harus pergi dan memberikan susu itu. Akhirnya, ia membuka pintu mobilnya, “Baiklah Allah, apabila ini Engkau, aku bersedia pergi ke pintu depan dan memberikan susu itu. Apabila Engkau menghendaki aku tampak seperti orang kurang waras, baiklah. Aku mau taat. Aku akan mengetuk pintu, namun apabila mereka tidak langsung menjawab, aku akan pergi dari sini.” Ia berjalan ke seberang dan membunyikan bel. Ia dapat mendengar adanya suara-suara di dalam. Suara seorang pria berteriak,”Siapa itu” Mau apa!“ Kemudian pintu terbuka sebelum pemuda itu sempat pergi. Seorang bapak berdiri di situ dengan celana butut dan T-shirt. Tampaknya ia baru saja bangun dari tidurnya. Wajahnya tampaknya tidak terlalu suka melihat seorang asing berdiri di ambang pintunya. “Ada apa?” Pemuda itu mengacungkan gallon susu itu, “Ini, saya membawakan susu bagi anda.”  Bapak itu mengambil susu itu dan bergegas masuk ke dalam sambil berkata-kata dengan nyaring dalam bahasa daerah. Kemudian dari dalam ruangan muncullah seorang wanita yang membawa susu itu ke dapur. Bapak itu mengikutinya sambil menggendong bayi. Bayinya sedang menangis. Bapak itu bercucuran air mata dan mulai berbicara dengan setengah menangis, “Kami baru saja berdoa. Kami banyak tagihan bulan ini dan kehabisan uang. Kami tidak punya susu untuk bayi kami. Saya baru saja berdoa dan meminta Allah untuk menunjukkan caranya memperoleh susu.” Istrinya berkata dari dapur, “Saya meminta Allah mengirimkan malaikatNya untuk membawa susu; apakah anda seorang malaikat?“ Pemuda itu mengambil dompetnya dan mengeluarkan semua uang yang dibawanya dan memasukkannya ke dalam tangan Bapak itu. Ia berbalik dan berjalan kembali ke arah mobilnya dan air mata bercucuran di wajahnya. Ia tahu bahwa Allah masih menjawab doa dan bahwa Allah masih berbicara kepada umatNya.[1]

Sebuah cerita indah, yang mungkin sekali benar. Tetapi berapa diantara kita yang pernah mengalami hal seperti itu? Roh Kudus dalam bahasa Yunani, Parakletos, artinya Penolong. Allah Penolong adalah pengalaman iman bangsa Israel sepanjang sejarah mereka. Di padang gurun Allah menolong. Dalam kejatuhan bangsa dan Negara Israel, Allah menolong. Dalam Injil hari ini Yesus berpesan: Jika Penghibur/Penolong yang akan Kuutus dari Bapa datang, yaitu Roh Kebenaran yang keluar dari Bapa, Ia akan bersaksi tentang Aku. Tetapi kamu juga harus bersaksi, karena kamu dari semula bersama-sama dengan Aku. Para Rasul mengalami bahwa Roh Penolong sudah datang. Bukan hanya karena melihat apa yang dilakukan dan dialami bersama Tuhan Yesus yang sudah naik ke surga, tetapi karena mereka mengalami bahwa mereka terdorong untuk bersaksi..Mereka yang dulu mengalami Allah adalah Penolong dalam diri Yesus Kristus, sekarang mengalami bahwa Allah Penolong itu bekerja dalam dan melalui diri mereka. Mereka tidak hanya bersaksi dengan kata dan ajaran, tetapi juga mengalami mereka ikut menjadi penolong dengan kuasa perbuatan mereka, dengan membantu yang sakit, menghibur yang susah dan menyatukan mereka sebagai satu umat yang percaya kepada Tuhan Yesus.

Pengalaman kehadiran Roh Kudus sebagai Penolong yang dialami para rasul, juga masih kita alami sampai sekarang. Dorongan berbuat baik, selalu ada dalam hidup manusia. Allah menanamkan itu dalam hati kita, sebagai upaya menarik kita untuk kembali kepadaNya. Kedatangan Roh Kudus membuka dan membersihkan kembali dorongan berbuat baik itu. Dibersihkan dari kegelapan dosa dan egoisme, sehingga dorongan berbuat baik itu bukan hanya tertuju kepada lingkup sempit diantara mereka yang dekat dan akrab, tetapi juga memampukan untuk membuka hati kepada yang membutuhkan dan merangkul mereka yang jauh dan terpisah.

Roh Kudus adalah Roh Allah yang hadir di dalam diri kita dan mendampingi kita dalam perjalanan hidup kita setiap hari. Dia lah penolong, lewat sapaan seorang anak, teguran seorang teman, kelembutan pasangan, ajaran pemimpin agama dan dalam segala kesempatan dan tiap orang yang dikirimkanNya untuk hadir dalam hidup kita. Roh Allah bekerja bukan hanya saat kita menerima pertolonganNya, tetapi juga saat kita dipakaiNya menjadi penolong bagi sesama di sekitar kita. Setiap hari Tuhan mendampingi, membimbing dan mencoba mengarahkan hidup kita. Setiap hari Tuhan hadir bersama kita. Karena itu tepat sekali Pantekosta merupakan penutup masa Paskah. Roh Kudus adalah kehadiran Allah dalam hidup sehari-hari. Kristus yang bangkit dan menyelamatkan kita terus ada dan hadir dalam hidup sehari-hari. Kita dapat menjadi peka akan kehadiran Allah dalam hidup sehari-hari jika kita bertekun dalam doa. Entah itu doa pribadi, doa keluarga atau juga doa-doa dalam Lingkungan dan Basis. Apakah kita mau hidup bersama Tuhan setiap hari? Mari kita mohon kurnia terang hati dan ketekunan untuk dapat menemukan karya dan kehendakNya dalam hidup kita hari ini dan mohon kurnia keberanian untuk melaksanakannya. AMIN.


[1] Diana Calderon: Highways Of Hope

Picture credit: Holy Spirit Coming (painting by He Qi)

Artikel lain yang banyak dibaca:

5 pencarian oleh pembaca:

  1. contoh sifat tamak dalam kehidupan sehari-hari
Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: