Resor

Ayat bacaan: Ibrani 4:1=================”Sebab itu, baiklah kita waspada, supaya jangan ada seorang di antara kamu yang dianggap ketinggalan, sekalipun janji akan masuk ke dalam perhentian-Nya masih berlaku.”Bekerja hampir tanpa henti selama 3 tahun te…

Ayat bacaan: Ibrani 4:1
=================
“Sebab itu, baiklah kita waspada, supaya jangan ada seorang di antara kamu yang dianggap ketinggalan, sekalipun janji akan masuk ke dalam perhentian-Nya masih berlaku.”

resor

Bekerja hampir tanpa henti selama 3 tahun terakhir, akhirnya saya punya kesempatan untuk menikmati liburan bersama istri selam 4 hari untuk pergi ke sebuah tempat wisata di negara tetangga. Itulah kali pertama selama beberapa tahun terakhir dimana saya bisa lepas dari berbagai deadline yang biasanya hadir setiap hari. Saya menikmati setiap detik liburan itu tanpa harus memikirkan pekerjaan. Dalam satu dari 4 hari liburan itu kami sampai ke sebuah resor pantai yang indah, menikmati deburan ombak sambil duduk di sebuah cafe dipinggir pantai. Benar-benar liburan yang sangat menyenangkan, terlebih karena selama tiga tahun baru ini liburan yang saya peroleh. Kita harus bekerja untuk hidup. Dan pekerjaan itu seringkali tidak mudah untuk diselesaikan. Ada banyak persoalan, ada banyak tugas yang harus dikerjakan, ada banyak tanggungjawab dan sebagainya, yang biasanya punya tenggat waktunya masing-masing. Tidak jarang kita stres memikirkan pekerjaan, sehingga tidak saja tubuh yang lelah, tapi pikiran pun sama lelahnya. Semua itu harus kita lakukan agar mampu menghidupi diri sendiri dan keluarga. Kalau mau sukses kita memang harus siap bersusah-payah sekuat tenaga kita. Itu sudah menjadi kewajiban yang harus dilewati semua orang. Bagi pekerja keras, kata perhentian, istirahat, alias waktu yang diberikan kepada kita untuk bebas dari tekanan dan beban hidup tentu sangat berarti dan indah untuk dibayangkan, apalagi ketika tengah dinikmati.

Jika kita menikmati liburan di sebuah resor yang penuh kenyamanan setelah bekerja keras untuk mencari nafkah, dalam menjalani kehidupan dari awal sampai akhir pun demikian. Life is certainly not easy. Indeed, it’s hard. Selalu ada masalah yang muncul silih berganti, ada kesedihan, duka lara dan penderitaan yang terkadang hadir dalam hidup kita. Hidup memang melelahkan. Di saat yang sama kita seringkali harus menghadapi beberapa persoalan sekaligus dalam berbagai aspek kehidupan kita, berbagai beban bisa menggelayut memberatkan pundak kita dalam memikulnya. Tapi seperti halnya liburan yang menyenangkan, kepada kita Tuhan menyediakan sebuah tempat perhentian, sebuah tempat dimana kita tidak lagi harus setengah mati bekerja, tidak lagi harus mengalami penderitaan, tidak ada lagi ratap tangis dan rasa sakit. Ini sebuah tempat yang luar biasa nyaman, damai, jauh lebih indah dari tempat liburan terindah manapun yang pernah anda datangi di dunia ini. Alkitab menggambarkannya demikian: “Lihatlah, kemah Allah ada di tengah-tengah manusia dan Ia akan diam bersama-sama dengan mereka. Mereka akan menjadi umat-Nya dan Ia akan menjadi Allah mereka. Dan Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita, sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu.” (Wahyu 21:3-4). It’s a place and time where “God will wipe away every tear from their eyes; and death shall be no more, neither shall there be anguish (sorrow and mourning) nor grief nor pain any more, for the old conditions and the former order of things have passed away.” Luar biasa indah bukan? Dan itu bukan hanya impian semata, tapi tempat seperti itu sudah Tuhan sediakan kepada kita. Semua orang tanpa terkecuali berkesempatan untuk masuk kesana. Tuhan memang menyediakan tempat perhentian, sebuah hari dimana semua penderitaan dan kesulitan hidup akhirnya lenyap. Tapi ingat, meski semua orang punya kesempatan, tidak semuanya akan berhasil mencapai tempat perhentian itu dan masuk di dalamnya.

Penulis kitab Ibrani menjelaskan panjang lebar mengenai tempat perhentian ini disertai tips agar kita tidak ketinggalan untuk mendapat bagian di dalamnya. Disana dikatakan “Sebab itu, baiklah kita waspada, supaya jangan ada seorang di antara kamu yang dianggap ketinggalan, sekalipun janji akan masuk ke dalam perhentian-Nya masih berlaku.” (Ibrani 4:1). Perhentian itu masih berlaku dan akan tetap berlaku bagi orang percaya. Apa yang harus kita lakukan adalah terus awas dan waspada, terus menjalani hidup dengan ketaatan yang sungguh-sungguh agar kita tidak sampai kehilangan tiket atau kesempatan untuk mencapai tempat yang penuh sukacita dan damai sejahtera itu. Kitab Ibrani mengingatkan kita agar jangan sampai melakukan kesalahan fatal seperti halnya bangsa Israel yang gagal mencapai tempat perhentian mereka, sebuah tanah terjanji yang berlimpah susu dan madunya. Bacalah Ibrani 3:7-19 untuk mendapatkan gambaran jelas akan hal ini. 40 tahun lamanya mereka ditempa dalam perjalanan memasuki sebuah tempat perhentian yang indah, namun mereka gagal dalam memanfaatkan kesempatan yang ada. Mereka terus saja menyakiti hati Tuhan, melakukan berbagai kesalahan seolah ingin menguji batas kesabaran Tuhan dan pada akhirnya mereka pun luput dari tempat itu. “..nenek moyangmu mencobai Aku dengan jalan menguji Aku, sekalipun mereka melihat perbuatan-perbuatan-Ku, empat puluh tahun lamanya. Itulah sebabnya Aku murka kepada angkatan itu, dan berkata: Selalu mereka sesat hati, dan mereka tidak mengenal jalan-Ku, sehingga Aku bersumpah dalam murka-Ku: Mereka takkan masuk ke tempat perhentian-Ku.” (ay 9-11). Kita harus belajar dari kegagalan bangsa Israel pada jaman itu agar kita tidak ikut-ikutan melakukan kesalahan yang sama lalu kehilangan kesempatan untuk masuk ke tempat perhentian yang sesungguhnya sudah disediakan Tuhan. Janji itu tetap sama berlaku, “Karena kita telah beroleh bagian di dalam Kristus, asal saja kita teguh berpegang sampai kepada akhirnya pada keyakinan iman kita yang semula.” (ay 14).

Apa yang dapat mmenggagalkan kita? “Waspadalah, hai saudara-saudara, supaya di antara kamu jangan terdapat seorang yang hatinya jahat dan yang tidak percaya oleh karena ia murtad dari Allah yang hidup.” (ay 12). Murtad dari Tuhan, memiliki hati yang jahat dan tidak percaya. Itu hal yang akan merintangi kita dan mengarahkan kita ke sudut yang salah, dimana masalah tidak saja terus berlangsung, malah intensitasnya bisa semakin tinggi. Dalam ayat 14 yang sudah saya kutip di atas kita melihat pula bahwa kita harus terus berpegang teguh kepada iman kita. Memulainya sudah baik, selanjutnya kita harus terus waspada dan berjaga-jaga senantiasa agar jangan sampai kita terjatuh di tengah jalan. Adalah penting bagi kita untuk terus berpegang kepada iman. Iman yang kuat, iman yang teguh, iman yang percaya penuh, iman yang penuh pengharapan, iman yang mampu melemparkan gunung ke laut. Secara jelas Penulis Ibrani mengatakan kategori orang yang akan tidak akan diikutsertakan untuk masuk ke dalam tempat perhentianNya. “Dan siapakah yang telah Ia sumpahi, bahwa mereka takkan masuk ke tempat perhentian-Nya? Bukankah mereka yang tidak taat? Demikianlah kita lihat, bahwa mereka tidak dapat masuk oleh karena ketidakpercayaan mereka. (ay 18-19).

Bagi semua orang janji ini berlaku. Kepada semua orang pula telah diberitakan kabar gembira seperti halnya kepada kita. Tapi bagi sebagian orang berita itu dibiarkan berlalu sia-sia, dan itu artinya mereka membuang kesempatan untuk menikmati janji ini. “Karena kepada kita diberitakan juga kabar kesukaan sama seperti kepada mereka, tetapi firman pemberitaan itu tidak berguna bagi mereka, karena tidak bertumbuh bersama-sama oleh iman dengan mereka yang mendengarnya.” (Ibrani 14:2). Dikalangan orang percaya sekalipun, jika hidup tidak dengan iman yang taat dan percaya, mereka tidak akan bisa mencapainya. (ay 6). Bagaimana cara kita hidup saat ini akan sangat menentukan kemana kita akan masuk seterusnya. Apakah ke tempat perhentian yang penuh damai sukacita tanpa ratap tangis penderitaan, sakit penyakit dan sebagainya, atau ke tempat dimana penderitaan tak terperi akan berlipat kali  lebih parah. Oleh karena itu Penulis Ibrani mengingatkan: “Pada hari ini, jika kamu mendengar suara-Nya, janganlah keraskan hatimu!” (ay 7)

Tempat perhentian telah disediakan bagi kita sejak semula. Tapi hanya orang-orang yang memiliki iman teguh hingga akhirlah yang bisa mendapatkannya. Jika hidup ini diibaratkan sebagai perlombaan, mari kita semua berlomba dengan baik untuk mencapai garis akhir sebagai pemenang (Ibrani 12:1). Tidak semua orang bisa keluar sebagai pemenang, semua tergantung dari keseriusan, ketekunan dan kesungguhan kita dalam mengikuti perlombaan itu. Anda merindukan tempat peristirahatan seperti resor yang penuh nyiur melambai, angin sepoi-sepoi, langit biru berawan dan lautan yang jernih seperti kaca? Apa yang disediakan Tuhan jauh lebih indah dari itu, bahkan kekal sifatnya. Hiduplah dengan iman dan ketaatan penuh hingga akhir, agar tempat perhentian itu kelak menjadi milik anda.

Tuhan menyediakan tempat perhentian yang penuh sukacita kepada orang percaya yang terus menjaga imannya sampai garis akhir

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply