Renungan Secangkir Kopi

kopiBAGI penikmat kopi, minum kopi luwak liar yang dilakukan dalam jangka waktu 4 jam atau minum segelas kopi untuk sehari, dari pukul 7 pagi sampai pukul 3 sore, tentu berbeda dengan peminum kopi biasa yang menikmati kopi luwak liar yang hanya dalam jangka waktu 1 jam atau kurang. Keduanya merupakan penikmat kopi dengan cangkir kopi […]

kopi

BAGI penikmat kopi, minum kopi luwak liar yang dilakukan dalam jangka waktu 4 jam atau minum segelas kopi untuk sehari, dari pukul 7 pagi sampai pukul 3 sore, tentu berbeda dengan peminum kopi biasa yang menikmati kopi luwak liar yang hanya dalam jangka waktu 1 jam atau kurang.

Keduanya merupakan penikmat kopi dengan cangkir kopi berukuran sama, 150cc black coffee atau Americano coffee. Bedanya, yang pertama lebih menjadikan kopi luwak liar sebagai pendamping pekerjaan seperti menulis dan pekerjaan di belakang meja lainnya. Yang kedua, menjadikan kopi sebagai minuman yang harus dinikmati saat itu juga tanpa peduli dengan pekerjaan lain.

Artinya, yang pertama lebih memfokuskan pekerjaan lain (bukan kopinya), yang kedua fokus pada kopi luwak liarnya. Keuntungannya, yang pertama sambil minum kopi bisa menyelesaikan pekerjaan  sambil berbagi dengan yang lainnya. Yang kedua mendapatkan keuntungan kenikmatan kopi yang bisa dicecap-cecap  dan dirasai sensasinya.

Yesus memberikan perumpaan tentang Kerajaan Allah seperti pemilik kebun anggur yang mencari pekerja dari pagi sampai sore. Ketika pukul 7 pagi, dia menemukan pekerja yang bekerja mulai pukul 7 sampai sore pukul 5 dengan upah 1 dinar. Pukul 9 dia menemukan pekerja dan menyewanya hingga pukul 5 sore dengan upah sama, 1 dinar.

Pukul 3 sore dia menemukan lagi pekerja untuk bekerja di ladangnya dan pukul 4 sore, dia menemukan lagi pekerja untuk dikaryakan di kebunnya. Yang datang belakangan juga mendapat upah 1 dinar. Setelah jam kerja selesai, yaitu pukul 5 sore, pemilik kebun anggur memberi upah masing-masing sama sesuai kesepakatan, yaitu 1 dinar. Tentu yang bekerja mulai pagi dan bekerja jauh lebih lama akan protes pada pemilik kebun anggur itu dengan membandingkan jam kerja pekerja yang lain (Mat. 20:1-16).

Yang ada dalam benak mereka adalah tentang keadilan. Mereka menganggap bahwa pemilik kebun anggur tidak adil karena menyamakan upah pekerja yang bekerja lama (10 jam) dan yang sebentar (hanya 1 jam).

Pada zaman itu, pekerja di kebun anggur rata-rata bekerja 10 jam sehari. Upah ditentukan berdasarkan kesepakatan. Tentu pemilik kebun anggur sudah memaklumi bila para pekerja itu pun mengambil anggurnya.

Menurut manajemen modern, kehilangan 3 persen anggur akan lebih menguntungkan dibandingkan keterlambatan memanen. Keterlambatan pemanenan akan menaikkan kadar gula anggur, dan ini akan menurunkan mutu dan tentu akan memengaruhi harga.

Lepas dari hitungan manajemen kebun anggur, kenyataannya, pemilik kebun anggur menginginkan pemanenan segera dan ada kesepakatan dengan para pekerja tanpa melihat jumlah jam kerja masing-masing.  Kita sering melihat keadilan hanya dari perspektif kita yang mengalami keuntungan dan ketidakadilan dari persepektif kita yang mengalami kerugian.

Dalam konteks inilah, keuntungan didapat dari buruh yang bekerja 1 jam, namun mendapatkan hasil yang sama dengan yang bekerja 10 jam. Keuntungan dan kerugian ini hanya dilihat sepintas dari hasil 1 dinnar. Mereka tidak melihat pengalaman yang lain. Yang bekerja 1 jam, tentu hanya mendapatkan pertemanan dan saling berbagi hanya dalam waktu 1 jam saja, sedangkan yang bekerja lebih lama akan mendapatkan pengalaman berkomunikasi dengan yang lain lebih lama juga.

Demikian juga, minum kopi satu cangkir selama 1 jam tentu pengalamannya akan berbeda dengan minum kopi selama 4 jam atau 10 jam. Masing-masing pekerja atau penikmat kopi, apa pun caranya dan berapa pun lama waktu yang digunakan, tetap memberikan pengalaman yang berharga.

Setiap saat, Allah memberikan pengajaran bagi kita dari pengalaman kita sehari-hari tergantung dari kita yang merefleksikannya. Kualitas hidup kita akan semakin berkembang dalam bentukan Allah, entah melalui pertemuan dengan orang lain selama 1 jam atau 4 jam atau 10 jam. Allah hadir dalam kehidupan kita melalui kehadiranNya dalam diri orang lain.

D. Prihamangku S
amangcoffee.weebly.com

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply