Renungan Minggu, 26 Oktober 2014: Hukum Terbesar adalah Kasih

orang samaria by emanuelGAGASAN  pokok dari Kitab Suci: “Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?” Jawab Yesus kepadanya: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama.Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.Pada kedua hukum inilah […]

orang samaria by emanuel

GAGASAN  pokok dari Kitab Suci:

“Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?”

Jawab Yesus kepadanya: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama.Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.”( Mat 22: 36-39)

Meresapkan firman

Pertama: Kasihilah Tuhan Allahmu, dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.

Kedua: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Dua perintah ini sebenarnya adalah satu hukum. Cinta pada Tuhan diwujudkan dalam cinta pada sesama dan cinta pada sesama harus mengarahkan orang kepada kasih Tuhan.

Kebanyakan orang mengira bahwa mencintai Tuhan itu sama dengan berdoa Pada hal yang dimaksud dalam perintah ini bahwa mengasihi Tuhan itu menyangkut seluruh hidup manusia: dengan segenap hati. Itu berarti mengakut seluruh sikap hidup kita, arah dan pandangan hidup kita. Karena ada banyak orang berdoa, tetapi hatinya tetap lekat pada yang lain, bukan pada Tuhan. Tuhan Yesus pernah mengatakan: “Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.”(Luk 12:34). Maka memang betul, dimana hati kita kita arahkan, maka itulah yang paling berharga dalam hidup kita. Maka selama Tuhan belum lekat di hati kita, kita belum sungguh mengasihinya.

Pada hal tuntutan kasih pada Tuhan itu juga harus sampai pada jiwa: dengan segenap jiwa mu. Jiwa adalah segi rohani dari hidup kita dan pusat hidup kita. Dengan lain kata cinta kepada Tuhan bukan hanya dengan bibir atau tata-lahir, tetapi dengan segenap jiwa, dengan perasaan dan dengan seluruh hidup kita.

Akhirnya cinta kepada Tuhan itu juga dengan segenap akal budi. Artinya cinta kita kepada Tuhan juga harus dapat kita pertanggung-jawabkan dengan akal budi kita. Ini penting untuk memberikan kesaksian. Cinta kepada Tuhan itu bukan irasional, tetapi rasional (masuk akal).

Namun Tuhan memberikan jalan kepada kita semua, yaitu bahwa kita dapat mengasihi Tuhan juga kalau kita benar-benar mengasihi orang lain seperti diri kita sendiri. Santo Yohanes pernah menuliskan: “Jikalau seorang berkata: “Aku mengasihi Allah,” dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya.”(1 Yoh 4:20).

Dalam hal ini banyak juga orang menyalah tafsirkan, seolah-olah mencintai Tuhan itu dapat diganti hanya dengan perbuatan sosial saja. Ada banyak orang Katolik kalau dimintai dana tidak berkebaratan, tetapi untuk pergi ke Gereja atau melaksanakan kegiatan Gereja mereka tidak mau.

Menyumbang suka rela

Orang Katolik di Eropa sanggup menyumbang dana untuk negara berkembang, khususnya dalam bencana, dapat sampai milyaran atau triliunan, tetapi Gereja mereka kosong, dan hidup mereka tidak kelihatan lagi sebagai pengikut Kristus. Orang-orang kaya dan orang-orang besar di kota-kota besar juga mau menyumbangkan dana bagi Gereja, namun anehnya untuk berbakti kepada Tuhan dan aktif bersama Umat Katolik yang lain tidak mau. Maka kadang lalu timbul pikiran banyak orang, bahwa cinta kepada Tuhan dapat dibeli dengan uang

Maksud Tuhan Yesus mengajarkan bahwa cinta kepada Tuhan dan kepada sesama itu menjadi satu perintah ialah justru supaya cinta pada Tuhan itu yang menjadi dasar umat beriman untuk mengasihi sesama dan cinta kepada sesama akhirnya akan bermuara pada cinta pada Tuhan. Ajaran Ibu Teresa dari Calcutta dan seluruh kongregasinya hingga sekarang masih merawat orang-orang gelandangan yang sakit,terlantar dan yang hampir mati, karena mereka mengimani Sabda Tuhan: “Apa yang kau lalukan untuk salah seorang saudaramu yang paing hina itu kamu lakukan untuk Aku.”

Maka Bunda Teresa dan kawan-kawan yakin bahwa dengan karya sosial ini mereka mengasihi Tuhan sungguh-sungguh. Buktinya kebaktian mereka kepada Tuhan juga luar biasa dan hidup persaudaraan dengan orang lain juga meningkat. Mereka dapat mengasihi orang-orang yang sudah disingkirkan oleh masyarakat, karena mereka yakin bahwa semua manusia dikasihi oleh Allah Bapa dan setiap manusia adalah gambaran Tuhan sendiri.

Dalam hal ini gambaran Tuhan dalam hidup mereka sudah dirusak oleh kekerasan dan penindasan di sekitarnya, sehingga hidup orang menjadi terlantar dan direndahkan martabatnya.

Kesaksian dalam bentuk kepedulian dan persaudaraan yang muncul dari iman akan lebih kuat daripada perkataan, karena akan mudah menentuh hati. Namun kesulitannya saat sekarang ini ada banyak kelompok yang melaksanakan aksi peduli sosial, tetapi bukan faktor kemanusiaan tetapi kadang-kadang politik, yaitu hanya untuk menarik massa atau menarik simpati masyarakat, sehingga makna asli dari kegiatan peduli sosial ini dapat dikaburkan.

Ditolak masyarakat

Pernah ada paroki yang mau melaksanakan aksi peduli kaum miskin dengan berbagai kegiatan sumbangan dan pengobatan, tetapi ditolak oleh masyarakat, karena dicurigai sebagai aksi untuk Kristenisasi. Namun kegigihan Umat yang ingin membantu sesama, mereka tidak takut ancaman itu. Lalu paroki itu mengubah strategi, bukan secara massal, tetapi lalu mendatangi Umat yang memang memerlukan bantuan dengan melibatkan anggota masyarakat serta tetangga, dan akhirnya justru menjadi lebih akrab dan lebih baik hasilnya.

Kalau kita memperhatikan apa yang termuat dalam surat kabar dan apa yang ditayangkan dilayar televisi, banyak suasana yang memperlihatkan gejala bahwa zaman sekarang ini masyarakat kita kekurangan cintakasih: Rasa kemanusiaan sekarang amat merosot, penghargaan terhadap hidup dan martabat pribadi manusia hampir tidak diperhatikan lagi.

Banyak orang semakin tidak peduli akan nasib orang lain, karena hanya memikirkan diri sendiri. Banyak perampokan dengan pembunuhan yang sadis, adanya penindasan dari pihak yang kuat pada pihak yang lemah, ada tawuran dan sengketa yang mengurbankan anggota masyarakat, ada aksi penggusuran semena-mena. Banyak pengemudi yang makin nekat dalam mencari uang.

Dan yang paling memprihatinkan saat sekarang adalah penjualan manusia, mulai dari penjualan bayi, penjualan tenaga kerja, dan penjualan wanita. Maka sungguh-sungguh ini gejala kurangnya cintakasih.

Kredit foto: Ilustrasi Orang Samaria yang Baik (Courtesy of Eugene)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply