Sukacita iman di dalam Kristus/Foto: Ilustrasi (Ist)


Dari manakah datangnya sukacita? “Dari iman akan kebangkitan Kristus,” demikian kata Rasul Petrus (bdk. 1 Ptr. 1:3-9). Berkat baptisan, kita lahir untuk hidup penuh pengharapan, untuk memperoleh warisan yang tak dapat binasa, yang tak dapat cemar dan tak dapat layu. Namun, hal itu tidak berarti kita tidak pernah mengalami kesulitan dan dukacita. Kita akan mengalaminya untuk memurnikan iman kita.


Kekayaan dan harta benda sering menggoda kita untuk lepas dari ajaran Yesus. Orang kaya dalam Injil hari ini telah melakukan perintah hukum Taurat: dia tidak membunuh, tidak berzinah, tidak mencuri, tidak berdusta, dan menghormati ibu-bapanya. Tak ada kekurangannnya dari 10 perintah Allah. Namun, ketika Yesus minta agar dia meninggalkan hartanya dan membagikannya kepada orang miskin, dia kecewa dan pergi. Yesus menghendaki agar setiap orang yang hendak mengikuti-Nya berani untuk bersikap ‘lepas-bebas’, tak terikat dengan gemerlap dunia.


Memiliki sikap ‘lepas-bebas’ itu tak tergantung dari kekayaan. Tidak semua orang kaya bersikap materialis. Ada juga yang sangat murah hati. Sebaliknya, tidak semua orang miskin itu hatinya baik, sebab ada juga yang sombong dan gengsi. Yesus menghendaki pengikut-Nya agar tidak mendewakan harta benda. Dengan bantuan rahmat Tuhan, kita mampu melaksanakannya.


Tuhan Yesus, sekalipun kaya, Engkau telah menjadi miskin agar kami menjadi kaya. Semoga akupun mau membagikan apa yang kupunya kepada orang lain, terutama yang miskin dan membutuhkan. Amin.

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...