Renungan Harian, Selasa: 13 Februari 2-18, Mrk.8:14-21


Kepura-puraan orang Farisi


Aku udah nggak sanggup lagi, ini terlalu berat bagiku.” Bisa dikatakan bahwa sebagian besar orang pernah mengucapkan kata-kata seperti itu ketika sedang mengalami persoalan hidup yang berat. Bahkan jika menjadi semakin rumit dan tidak bisa menyelesaikannya, seseorang bisa frustrasi dan jatuh dalam perbuatan dosa. Yakobus berkata: “bertahanlah dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barangsiapa yang mengasihi dia” (Yak. 1:12). Kehidupan manusia tak lepas dari pencobaan. Berat tidak suatu pencobaan sebenarnya bergantung pada bagaiman cara kita menyikapi dan memandangnya. Jadi, apakah yang perlu kita perhatikan? Penguasaan diri menjadi kunci dalam menyikapi setiap persoalan. Sebab akar dari pencobaan sering terjadi karena keinginan kita yang tak terkontrol.


Yesus mengajar para murid-Nya tentang ragi orang Farisi dan Herodes. Dalam perjumpaan ini Yesus menggunakan kata ragi karena sifat kepura-puraan orang Farisi. Mereka sangat memerhatikan hal-hal lahiriah dalam agama, tetapi mengabaikan hal-hal rohaniah yang justru lebih mendasar dan penting. Sedangkan Ragi Herodes adalah semangat keduniawiaan yang dikuasai kesenangan dan ambisi politik yang tak terkendali. Dengan perumpamaan tersebut sesungguhnya Yesus berbicara mengenai kemunafikan orang Farisi dan Herodes karena mereka tidak pernah sungguh-sungguh melakukan apa yang telah mereka ajarkan. Yesus memperingatkan para murid-Nya supaya waspada terhadap cara hidup yang munafik dan sok suci. Kita pun diundang untuk menjadi seorang murid yang sejati, yang tumbuh dalam kejujuran dan bukannya kemunafikan.


Ya Allah, berilah aku hati yang murni dan sederhana supaya aku dapat memahami ajaran-Mu dan melakukannya dalam kehidupan sehari-hari.


Sumber: Ziarah Batin 2018, Penerbit Obor, Jakarta

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply