Renungan Harian, Rabu 30 Maret 2016

Rabu Oktaf Paskah

Injil: Lukas 24:13-35

24:30 Waktu Ia duduk makan dengan mereka, Ia mengambil roti, mengucap berkat, lalu memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka. 24:31 Ketika itu terbukalah mata mereka dan merekapun mengenal Dia, tetapi Ia lenyap dari tengah-tengah mereka. 24:32 Kata mereka seorang kepada yang lain: “Bukankah hati kita berkobar-kobar, ketika Ia berbicara dengan kita di tengah jalan dan ketika Ia menerangkan Kitab Suci kepada kita?” 24:33 Lalu bangunlah mereka dan terus kembali ke Yerusalem. Di situ mereka mendapati kesebelas murid itu. Mereka sedang berkumpul bersama-sama dengan teman-teman mereka. 24:34 Kata mereka itu: “Sesungguhnya Tuhan telah bangkit dan telah menampakkan diri kepada Simon.” 24:35 Lalu kedua orang itupun menceriterakan apa yang terjadi di tengah jalan dan bagaimana mereka mengenal Dia pada waktu Ia memecah-mecahkan roti.

Renungan

Kebangkitan Yesus dari mati semakin mendapat peneguhan dalam pengalaman perjumpaan dua murid yang menuju Emaus. Kubur kosong tidak menjadi bukti otentik tentang Yesus yang bangkit. Perjumpaan para murid dengan Yesus yang bangkitlah yang menjadi kesaksian bukti otentik bahwa Yesus yang disalibkan dan dimakamkan, sekarang telah bangkit. Yesus yang bangkit menjumpai para murid yang sedang dalam keadaan bertanya-tanya tentang berita dari para wanita yang mengatakan batu kubur telang terangkat dan makam kosong. Para murid belum percaya dengan pemberitaan para wanita, mereka justru menganggap omongan mereka omong kosong belaka.

Makam kosong tidak membuat Maria Magdalena begitu saja percaya Yesus telah bangkit. Demikian juga dengan Petrus, makam kosong tidak membuktikan apa-apa tentang kebangkitan Yesus. Petrus justru setelah melihat makam yang kosong, pulang ke rumah dengan bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi. Para murid perlu diyakinkan beberapa kali berkaitan dengan kebangkitan Yesus. Yesus yang bangkit sendirilah yang menjumpai dan menyapa mereka. Yesus yang bangkit hari ini menyertai perjalanan dua murid menuju Emaus.

Dua murid yang menuju ke Emaus menunjukkan secara jelas bahwa memang para murid sedang dalam kondisi tercerai berai, mereka bubar setelah peristiwa salib. Para murid kembali pada rutinitas dan kegiatan lama mereka. Dengan kata lain, mereka kembali kepada kehidupan yang lama. Para murid belum mengalami kebangkitan sehingga mereka seperti kehilangan harapan akan masa depan.

Para murid yang menuju Emaus dengan kondisi kecewa dan bingung, disertai oleh Yesus sepanjang perjalanan mereka. Bahkan Yesus juga menuntun pengalaman mereka akan kitab suci. Yesus mengarahkan hati dan pemikiran mereka berkaitan dengan Mesias yang bangkit dari kubur. Tetapi seperti yang terjadi, mereka tidak segera mengerti, mereka tidak segera melihat bahwa Yesus lah yang berbicara, mengajar, dan menutuk mereka. Yesus lah yang menyertai perjalanan mereka sampai ke Emaus.

Apa yang menyadarkan mereka? Pemecahan roti dan ucapan syukur atas roti itu. Itulah ‘moment klik’ dua murid atas apa yang pernah mereka alami ketika bersama dengan Yesus sebelum peristiwa salib. Saat mereka mengalami moment klik itu, mereka ingat semuanya, mata mereka terbuka, hati mereka berdebar-debar, jiwa mereka bersukacita. Seketika itu juga mereka menyadari kehadiran Yesus. Mereka juga menyadari bahwa perjalanan mereka sudah dituntun oleh Yesus yang bangkit. Mereka menjadi percaya akan berita kebangkitan Yesus karena mereka mengalami sendiri perjumpaan dengan Yesus.

Moment ‘klik’ menjadi saat titik balik dua murid Emaus. Mereka yang tadinya meninggalkan Yerusalem dengan nada gusar, moment ‘klik’ mengembalikan arah mereka menuju Yerusalem dengan nada penuh sukacita yang tak terlukiskan dengan kata-kata. Rasa lelah dalam perjalanan dan dimensi waktu yang sudah malam tidak mereka lihat lagi. Yesus yang bangkit membuat mereka lupa akan bahaya yang mungkin mereka hadapi dalam perjalanan. Yesus yang bangkit membuat mereka lupa bahwa mereka tidak mengerti kitab suci sebelumnya.

Bagi kita, perjalanan yang panjang sering kali menutup mata iman kita. Seperti dua murid emaus, tidak jarang kita merasa apa yang selama ini kita perjuangkan nampaknya sia-sia, tidak ada buahnya, tidak ada untungnya. Sudah bekerja habis-habisan, namun tetap saja disalahkan oleh atasan. Sudah menjadi orang katolik sekian puluh tahun, namun hidup tetap begini-begini saja. Sia-sialah semuanya.

Kita perlu menemukan ‘moment klik’ untuk mampu kembali ke Yerusalem seperti dua murid emaus. Masing-masing dari kita pasti mempunyai moment itu, hanya saja mungkin setiap orang berbeda. Maria Magdalena mempunyai moment ‘klik’ ketika disapa dengan khas; murid yang lain mempunyai moment itu ketika melihat kain kafan tergeletak, ia melihat dan percaya, Paulus mempunyai pengalaman cahaya yang membutakan. Masing-masing mempunyainya.

Mari kita mohon rahmat Tuhan agar kita juga mempunayi moment istimewa itu sehingga kita berani kembali ke Yerusalem dengan berkobar-kobar seperti dua murid. Semoga pengalaman perjumpaan dengan Yesus yang bangkit senantiasa membarui hidup kita.

Doa

Ya Tuhan, bantulah kami masing-masing untuk seperti dua murid Emaus yang kembali ke Yerusalem dengan berkobar-kobar karena iman mereka dipulihkan. Semoga kami mampu untuk membarui hidup dan perjuangan kami karena kami yakin dan percaya akan karunia penyelamatan yang Engkau anugerahkan kepada kami. Semoga kami tidak takut untuk membawa kabar sukacita dalam kehidupan kami. Amin.

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: