Harmoni alam/Foto: John Laba

UMI semua diciptakan baik adanya telah diperbudak dosa. Namun, Allah memperbaharuinya. Nuh dan keluarganya serta segala binatang yang ada dalam bahtera terpilih untuk memulai kehidupan baru. Setelah peristiwa air bah, Allah tidak lagi membinasakan umat manusia tetapi menyelamatkannya. Ketidaksetiaan manusia pun tidak lagi menghalangi kasih karunia Allah. Ia selalu memberi kesempatan kepada manusia untuk bertobat. Allah berfirman: “Kuadakan perjanjian-Ku dengan kamu, bahwa sejak ini tidak ada yang hidup yang akan dilenyapkan oleh air bah lagi, dan tidak akan ada lagi ari bah untuk memusnahkan bumi” (Kej. 9:11). Perjanjian pada umumnya kita pahami sebagai keterlibatan antara dua pihak yang mengadakan ikatan kerja sama yang disertai dengan syarat atau sangsi yang harus dipenuhi oleh kedua belah pihak. Jika salah satu pihak melanggar maka sangsi diberlakukan atau perjanjian dibatalkan. Namun, tidaklah demikian dengan perjanjian Allah.


Sebab inti dari pernjanjian Allah adalah penyaluran kasih karunia dan keselamatan.

Dalam bacaan Injil hari ini, Markus menyampaikan supaya kita lebih mengenal siapa Yesus itu. Kita diajak agar semakin mendengarkan dan memercayai kabar gembira yang diwartakan-Nya, yakni Kerajaan Allah sudah dekat. Godaan yang dialami dalam karya pelayanan semakin menunjukkan kuasa dan identitas-Nya yang sesungguhnya. Sikap Yesus dalam menyikapi cobaan tersebut menginspirasi kita dalam menghadapi setiap godaan yang kita alami. Intinya, pertobatan hidup dan percaya kepada janji Allah. Apakah kita mau berpegang pada kekuatan ilahi atau harus mengandalkan kekuatan sendiri? Perwujudan Kerajaan Allah akan tampak pada kesediaan untuk bertobat dan dibimbing oleh Roh Kudus.


Ya Allah, aku bersyukur karena Engkau telah memberi kesempatan bagiku untuk mengubah diri agar aku dapat mengalami Kerajaan-Mu. Aku mohon anugerahkanlah kerendahan hati supaya aku terbuka pada bimbingan-Mu. Amin.


Sumber: Ziarah Batin 2018, Penerbit Obor, Jakarta

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...