Ilustrasi (Ist)

KONON katanya kebiasaan di kampung, jika ada pendatang (orang baru) yang kaya dan sukses, mereka menjadi bak dewa. Penduduk kampung terangguk-angguk  ketika melihatt-mendengar mereka berbicara. Benar atau tidaknya perkataan mereka, tidak menjadi persoalan. Yang jelas, ketika itu diucapkan oleh orang baru, yang kaya/tampak sukses, patut dipertimbangkan dan cenderung dianggap benar semuanya. Banyak orangtua menjadikan perkataan meraka teverensi kalau menasihati anak-anaknya.


Namun, hal itu berbeda dengan cara orang kampung memandang sesama. Misalnya, terhadap mereka yang tiba-tiba bisa bangun rumah, beli motor baru, dll; mereka acap mengecap mereka “menggunakan ilmu pesugihan, pelihara tuyul, dll.” Orang seperti itu akan dijauhkan, bahkan kerap dijadikan kambing hitam pada setiap pengalaman kehilangan. Sebagus apa pun hal yang mereka perbincangkan, akan dipandang sebelah mata. Hal serupa itulah yang dialami Yesus.


Rekan beriman yang terkasih, setiap pribadi manusia menyajikan Misteri Allah. Kita tidak akan mampu menangkap misteri Allah itu kalau kita hanya berfokus pada sisi kemanusiaannya. Cara Allah menyelenggarakan hidup kita, juga ditentukan oleh kualitas pandangan kita akan sesama. Jika kita lebih sering ‘menolak-menyingkirkan-menjauhi-berpikir negatif-memusuhi,’ maka rahmat Allah pun bekerja secara terbatas untuk diri kita. Itulah mengapa Yesus tidak membuat mukjizat pada orang-orang itu, kecuali (secara terbatas) menyembuhkan beberapa orang sakit. Sebaliknya, rahmat Allah akan bekerja (dengan sangat leluasa) pada mereka yang memiliki hati yang terbuka pada sesamanya.


Ya Allah, ajaralah aku selalu agar mampu melihat aspek ilahi dalam diri setiap orang yang aku jumpai. Amin.

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...