Renungan Harian, Kamis: 29 Maret, Yoh. 13: 1-15

0
2

Share Facebook Twitter Google+ LinkedIn StumbleUpon WhatsApp

ARISAN Yesus yang paling utama adalah KASIH. Ia memeteraikan kasih itu dengan Ekaristi. Ekaristi itulah yang terus menghidupi Gereja, termasuk kita, sampai saat ini. Namun, Ekaristi kerap dimaknai secara beragam dan terkadang kita pun kurang peduli menggali maknanya bagi kehidupan. Ekaristi pun menjadi sebatas suatu kewajiban rutin belaka..

Penginjil Yohanes menulis kisah Perjamuan Malam Terakhir yang menjadi penetapan Ekaristi, dengan cara yang berbeda dengan ketiga Injil lain. Yohanes tidak merekam kata-kata konsekrasi yang sering kali begitu kita agungkan sebagai saat perubahan roti anggur menjadi Tubuh Darah Tuhan. Kiranya Yohanes hendak menekankan makna kata-kata konsekrasi sebagai sebuah pemberian diri, bukan pengudusan. “Inilah Tubuh-Ku….Inilah Darah-Ku yang diserahkan bagimu….” Pengudusan Yesus adalah pemberian diri-Nya bagi kita!

Dasar dari pemberian diri itu adalah cinta kasih yang diungkapkan secara nyata melalui pembasuhan kaki murid-murid-Nya. Yesus melakukan itu bukan untuk menciptakan rasa haru, tetapi sebagai teladan kasih yang patut diikuti oleh pengikut-Nya. Bersama Yesus kita mau menguduskan diri dan sesame dengan tindakan pemberian diri demi kasih dan pelayanan. Ada baiknya kita membangun niat untuk membaharui pemberian diri yang nyata bagi pasangan kita, anak dan orang tua kita, sahabat kita, rekan sekomunitas kita, rekan kerja dan orang yang seharusnya kita layani.

Tuhan Yesus, semoga aku setia mengasihi orang-orang yang Kaupercayakan kepadaku dengan pemberian diri dan pengurbanan, sebgaimana Kauteladankan bagiku setiap kali merayakan Ekaristi. Amin.

Sumber: Ziarah Batin 2018

Loading...

Tulis gagasan

Please enter your comment!
Please enter your name here