Petani garam/Foto: Wajibbaca.com

Kita pasti memiliki harta. Ada harta yang didapatkan dengan halal, ada juga yang diperoleh dengan merugikan orang lain. Kekayaan yang halal merupakan berkat Tuhan. Tapi kekayaan yang didapatkan dengan menindas orang kecil merupakan perampasan. Hal itu menimbulkan keluh kesah dari mereka yang tertindas. Teriakan mereka sampai ke telinga Tuhan.


Menolong orang miskin sama dengan menolong Kristus sendiri. Kristus mengidentikkan diri-Nya dengan orang miskin. Kristus ingin harta dunia dibagikan kepada yang miskin. Jika tidak, kita bersalah kepada Kristus, Tuhan pemilik segala harta. Sebaliknya, bagi yang melakukannya tidak akan kehilangan ganjarannya. Yesus menghendaki setiap pengikutnya untuk saling berbagi. Jika tidak, kita seperti garam yang hambar, yang tiada berguna. Kita menjadi orang Kristen, yang punya nama Kristen, tapi hambar, tidak ada rasa murid Yesus.


Kita pernah mendengar nama Mahatma Gandhi. Dia seorang tokoh spiritual dan salah seorang tokoh penting dalam gerakan kemerdekaan India. Dia tahu dan kagum akan ajaran Yesus, khususnya “Kotbah di Bukit” (Mat. 5-7). Namun, dia tidak mau menjadi Kristen karena melihat perbuatan yang menindas dari tentara-tentara Inggris yang Kristen. Semoga kita bisa memberi kesaksian perihal hidup yang baik.


Tuhan Yesus, semoga aku rela membagi diri dan hartaku kepada orang lain, sebab Engkau sendiri telah membagi diri-Mu kepada kami dalam korban di salib suci-Mu. Amin.

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...