Seekor anak anjing/Foto: dogshowpictures.net

DA seorang bijaksana yang memelihara dua ekor anjing warna hitam dan putih. Dua-duanya besar dan kuat. Anjing hitam suka menggigit siapa saja dan buas terhadap mangsanya. Anjing putih memiliki insting jauh lebih baik untuk membedakan mana tamu yang baik dan tidak baik, maka ia menjadi penjaga rumah yang baik. Ketika ditanya kepada pemiliknya, mana yang akan menang jika keduanya berkelahi? Sang pemilik menjawab dengan singkat, “ mana yang aku beri makan lebih banyak, itulah yang menang.”


Kisah ini bisa disandingkan dengan perkembangan diri manusia. Kita memiliki sisi baik dan buruk. Jika kita memelihara sisi baik, kita akan menjadi pribadi yang baik. Sebaliknya juga demikian.Namun, kita acapkali tak memedulikan keduanya demi memenuhi keinginan dan ambisi pribadi. Demi mengejar kekayaan  atau jabatan kita melakukan perbuatan-perbuatan jahat. Situasi seperti inilah yang diingatkan Nabi Yehezkiel supaya kita waspada pada diri sendiri.


Dalam kisah Injil hari ini, Yesus menekankan pentingnya kualitas diri seorang beriman. Kualitas tersebut ditunjukkan dalam penghayatan hidup keagamaan yang radikal. Bahwa menjalin relasi yang baik dengan Tuhan, harus dimulai dengan membetulkan hubungan yang rusak dengan sesama. Karena itu, sebuah ibadat yang punya makna menuntut sebuah sikap hati yang baik. Hati yang dipenuhi kebencian dan cinta diri tidak akan sungguh-sungguh dalam berdoa. Karena itu, Yesus menekankan pentingnya berdamai dengan sesama (dan ciptaan) sebelum berelasi denfan Tuhan. Kita sering kali tak memedulikan hal ini. Kita mungkin amat rajin mengikuti perayaan Ekaristi, meski kita menabung permusuhan dengan sesama.


Ya Allah, aku menyadari bahwa dalam diriku ada kekurangan dan kelebihan,  maka bukalah hatiku agar selalu terbuka pada rencana-Mu. Amin.


Sumber: Ziarah Batin 2018, Penerbit Obor, Jakarta

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...