Renungan Adorasi Harian: Berbahagialah Engkau

joie de vivre by SempereyKamis 07 Agustus 2014 Hari Biasa Pekan XVIII Yeremia 31:31-34; Mazmur 51:12-15.18-19; Matius 16:13-23 YESUS bertanya kepada para murid-Nya, “Menurut kamu, siapakah Aku ini?” (Matius 16:15). Atas pertanyaan itu, Simon bin Yunus menjawab, “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!” (Matius 16:16). Yesus pun berkata kepadanya, “Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang […]

joie de vivre by Semperey

Kamis 07 Agustus 2014
Hari Biasa Pekan XVIII
Yeremia 31:31-34; Mazmur 51:12-15.18-19; Matius 16:13-23

YESUS bertanya kepada para murid-Nya, “Menurut kamu, siapakah Aku ini?” (Matius 16:15). Atas pertanyaan itu, Simon bin Yunus menjawab, “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!” (Matius 16:16). Yesus pun berkata kepadanya, “Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga.” (Matius 16:17). Tak hanya itu, kepada Simon bin Yunus Yesus juga bersabda, “Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya” (Matius 16:18).

Hal yang bisa kita renungkan dari warta Injil ini adalah: Pertama, apa jawaban kita sekiranya Yesus juga bertanya kepada kita, “Menurutmu, siapakah Aku?” Siapakah Yesus bagimu?

Jawaban banyak orang pada masa Yesus atas pertanyaan itu beragam. Ada yang mengatakan, Yesus adalah Yohanes Pembaptis. Ada yang bilang Yesus adalah Nabi Elia, atau nabi-nabi besar lain yang hidup kembali. Yesus dianggap reinkarnasi tokoh-tokoh besar dan hebat di masa lalu.

Simon bin Yunus – salah seorang dari dua belas murid Yesus – dengan antusias menjawab, “Engkaulah Mesias! Anak Allah yang hidup.” Bagi Simon bin Yunus, Yesus bukanlah reinkarnasi para tokoh besar di masa lalu, melainkan sosok pribadi yang unik yakni Sang Mesias, Anak Allah yang hidup!

Hal pertama yang penting di sini adalah kebahagiaan karna iman kepada Yesus sebagai Sang Mesias, Anak Allah yang hidup. Iman itu mendatangkan kebahagiaan. Maka, atas iman yang diungkapkan Simon bin Yunus, Yesus bersabda, “Berbahagialah engkau…”

Kedua, selain iman akan Yesus sebagai Sang Mesias, Anak Allah yang hidup mendatangkan kebahagiaan, iman itu membawa konsekuensi keselamatan. Buah keselamatan itu ditegaskan Yesus melalui tanda perubahan nama Simon bin Yunus menjadi Simon Petrus. Simon disebut Petrus. Petrus dalam bahasa Aram dan Yunani berarti batu karang. Seorang Rabbi Kuno menyebutkan, Allah pun memandang Abraham sebagai batu karang. Padanyalah akan dibangun bangsa terpilih dengan janji keselamatan.

Melalui Abraham Allah telah menetapkan umat pilihan-Nya, bangsa yang ditandai keselamatan. Sejalan dengan pandangan itu, demikianlah pula saat Yesus menyebut Simon bin Yunus sebagai Simon Petrus, adalah Batu Karang. Di atas batu karang ini Yesus akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya” (Matius 16:18). Inilah tanda keselamatan: alam maut tidak akan menguasainya.

Ketiga, siapa pun yang bersama Simon Petrus menerima Yesus sebagai Sang Mesias (Al-Masih = Kristus), dimasukkan ke dalam (rumah) keselamatan yang dibangun di atas batu karang (Petrus). Dari sinilah kiranya, kita mempunyai gambaran dan paham mengenai Gereja sebagai rumah spiritual, bukan hanya bangunan material. Kita semua, umat pilihan Allah berperan sebagai batu-batu yang hidup. St. Petrus dalam surat yang ditulisnya mengatakan, “Dan biarlah kamu juga dipergunakan sebagai batu hidup untuk pembangunan suatu rumah rohani, bagi suatu imamat kudus, untuk mempersembahkan persembahan rohani yang karena Yesus Kristus berkenan kepada Allah” (1 Petrus 2:5).

Iman kepada Yesus Kristus membuat kita digabungkan dalam batu karang-batu karang rohani. Kita pun diundang untuk bahagia setelah menjawab pertanyaan-Nya, “Menurut kamu, siapakah Aku?” dan kita menjawab, “Engkaulah Mesias (Kristus-Al Masih)!”

Adorasi Ekaristi Abadi merupakan jawaban kita atas pertanyaan Yesus, “Menurut kamu, siapakah Aku ini?” Kita menjawab, “Engkau adalah Mesias, Kristus!” Dengan jawaban itu kita diundang untuk bahagia.

Sejauh saya mengalami dan menerima sharing dari banyak adorator tetap yang tekun setia dalam Adorasi Ekaristi Abadi, mereka mengalami kebahagiaan yang unik dan istimewa karena mereka boleh “bermesraan” dengan Yesus yang hadir dalam Sakramen Mahakudus. Kemesraan itu membuat mereka bersemangat dalam mengarungi kehidupan ini. Mereka juga kian digerakkan untuk terlibat dalam hidup menggereja dan memasyarakat. Banyak pula yang mengatakan, berkat Adorasi Ekaristi Abadi, hati mereka menjadi lebih peka kepada kebutuhan sesama. Buah-buah Adorasi Abadi juga kami rasakan dengan kian banyaknya umat yang mencintai Ekaristi harian. Umat pun ditopang untuk maju dalam membangun “habitus baru spiritual”, yakni kian tekun dalam sembah sujud pada Kristus yang hadir dalam Sakramen Mahakudus.

“Tuhan Yesus, aku percaya bahwa Engkau adalah Kristus, Putra Allah yang hidup. Engkaulah Juruselamat umat manusia. Buatlah iman kami sekuat Petrus, dengan secara personal mengenal-Mu sebagai Tuhan dan Penyelamat, kini dan sepanjang masa. Amin.”

Girli Kebon Dalem
(rmabudippr)
SALAM TIGA JARI: Persatuan Indonesia dalam Keragaman

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply