Remaja Childfun Atambua Latihan Membuat Buletin

Para peserta pelatihan jurnalistik. Foto oleh Fransiskus Pongky Seran

20 remaja mengikuti kegiatan pelatihan jurnalistik selama 2 hari di Hotel Nusanatara 2 Atambua, Nusa Tenggara Timur. Kegiatan pelatihan tahap 2 ini difasilitasi oleh Lembaga Perlindungan dan Pengembangan Anak (LPPA) Mitra Childfund Belu TTU.

Para peserta tergabung dalam asosiasi remaja yang tersebar pada 17 desa dampingan LPPA Mitra Childfund yang terletak di 2 kabupaten yakni Kabupaten Belu dan Kabupaten Timor Tengah Utara dengan pembagiannya, kabupaten Belu terdapat 13 desa dan kabupaten TTU 4 desa dampingan.

Pelatihan yang merupakan tindak lanjut kegiatan pelatihan tahap perdana tahun 2011 lebih diarahkan untuk merancang sebuah buletin. Karena itu, dari pelatihan ini terbentuklah buletin perdana yang diberi nama ASMARA atau asosiasi remaja bersuara yang akan terbit perdana pada Januari 2013.

Ke depannya, buletin ini akan terbit 4 kali dalam setahun untuk mengakomodasi setiap kegiatan yang terjadi dalam LPPA terutama pada wilayah desa-desa dampingan tempat para peserta berkarya.

Selama 2 hari penuh para peserta dibimbing oleh Rm. Herminus Bere Pr dan Fransiskus Pongky Seran. Para peserta juga didampingi staf Childfund, Carolus Tae selaku ketua LPPA, Petrus Seran dan Kanisius Blupur.

Para peserta dituntun untuk membedah isi sebuah buletin yang dihasilkan mulai dari pemilihan nama, logo, staf redaksi hingga pemilihan rubrik yang akan diisi dalam buletin yang tetap mengangkat tema seputar kegiatan Childfund.

“Program ini mau menunjukan kepada dunia bahwa kalian bisa berbuat sesuatu terutama dalam hal menulis. Pengalaman jatuh dalam menulis haruslah bangkit kembali. Janganlah Anda jatuh terus tetapi cobalah untuk bangkit kembali” ujar Carolus Tae.

Carolus mengatakan bahwa LPPA akan senantiasa mendukung secara penuh program-program  pengembangan kepribadian dan ketrampilan dan salah satunya adalah jurnalistik .

Frederikus Meol, ketua asosiasi remaja dalam pesan dan kesannya mengungkapkan “Ilmu yang didapat dalam pelatihan  ini sangat mahal. Orang yang menjadi jurnalis atau yang berkarya di bidang komunikasi perlu sekolah tinggi tetapi kita yang hadir di sini tidak. Melalui pelatihan ini kita mendapat banyak tentang ilmu jurnalistik” ungkapnya.

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: