Relativisme dan Fundamentalisme dari Kacamata Jesuit (3)

PEMBICARAAN tentang fundamentalisme dan relativisme ditanggapi  Romo Sunu Hardiyanta SJ sebagai berikut:

Damai Kristus, Mgr. Puja dan para Romo KAS yang terkasih. Saya Romo Sunu Hardiyanta SJ. Sejak ikut retret para imam KAS saya dimasukkan dalam mailist PastorParoki_KAS. Saya senang diikutkan dalam mailist ini.  Saat ini saya bertugas di Universitas Sanata Dharma, di Fakultas Farmasi dan banyak menemani mahasiswa di Pendidikan Biologi. Saya sendiri mendalami ilmu Ekologi. Saat ini saya sedang di Amsterdam untuk 3 bulan menganalisis dan menulis hasil penelitian yang saya kerjakan di hutan mangrove Segara Anakan Cilacap.

Saya tertarik dengan refleksi Bapak Uskup mengenai gejala Fundamentalisme dan Relativisme yang sebenarnya sudah menyapu seluruh benua dan semakin terasa di Indonesia. Saya mencoba mengamati bagaimana orang-orang di Belanda menghadapi dunia saat ini, khususnya dalam hal fundamentalisme dan relativisme nilai-nilai.

Dalam beberapa tahun terakhir ada kecenderungan muncul semacam gerakan anti imigran atau anti Islam dalam politik. Gerakan yang muncul dari rasa kawatir akan banyaknya pendatang dari Asia dan Afrika  yang masuk Eropa. Kampanye yang memanfaatkan rasa kawatir ini memang cukup mujarab. Contohnya di Perancis dan di Belanda, gerakan ini mendapat banyak dukungan.  Tetapi kalau saya perhatikan lebih dalam, yang hidup di kebanyakan teman-teman Belanda ternyata bukan itu. Anak-anak Belanda, meski kadang nakal, tetapi mereka itu tahu pasti mana yang boleh, mana yang tidak boleh dan mana yang bisa didiskusikan.

Niet is niet, Ja is ja

Dua tahun yang lalu profesor saya Peter van Bodegom mengunjungi tempat penelitian saya di Segara Anakan. Dia sekaligus liburan bersama istri dan dua anaknya Chris dan Stella yang masih kecil. Stella baru 2 tahun. Dalam perjalanan ke Cilacap, naik mobil Sanata Dharma, Stella yang duduk di bangku belakang ingin main-main dengan buku yang ada di jok mobil. Peter bilang kepada Stella.

“Stella, Niet doen” (Stella, jangan lakukan itu).  Stella diam. Kemudian dia mencoba lagi untuk main-main dengan buku. Peter bilang “Nee Stella”. “Niet is Niet” (Tidak artinya Tidak) Waktu itu saya bilang pada Peter, Peter kalau dia mau main dengan buku itu tidak apa-apa.

Tetapi reaksi Peter luar biasa. Peter bilang: “Sunu, aku ingin mengajari Stela untuk tidak melakukan apa yang tidak boleh dilakukan”.

Dalam dunia pendidikan ini yang disebut ‘Setting the boundary”. Sejak kecil anak-anak di negara yang maju ini sudah dibiasakan dengan pendidikan yang tidak mentolerir relativisme. Ya, ya Ya. Tidak ya Tidak.

Saya menyadari…. Betapa akar dari relativisme yang kualami di  Indonesia ini berakar dari pendidikan di keluarga.  Betapa kita ini sejak kecil berada dalam ketidakpastian nilai. Bapak bilang “tidak”, nenek diam-diam mengiyakan. Ibu bilang tidak boleh… diam-diam bapak
memberi izin.

Dari pengalaman di atas, saya bisa membayangkan, bagaimana situasi batin orang Eropa (bukan imigran) pada umumnya. Mereka diajari “Niet is Niet”, “Ja is Ja”.

Bapak Uskup, ini refleksi kecil yang saya dapat dari Peter, dosen saya, mengenai pentingnya pendidikan nilai yang bisa membantu orang berdiri di tengah ketidakpastian nilai. Betapa pentingnya tugas membantu keluarga-keluarga mendampingi anak-anak secara lebih jeli lagi. (Bersambung)

Artikel terkait:

Temu Akrab Para Romo, Bruder Sepuh di Sangkal Putung Klaten (1)

Sosialisasi Budaya Kehidupan pada Para Romo, Bruder Sepuh (2)

Pendidikan Nilai Gaya Jawa (4)

Kisah-kisah Perjalanan yang Mengesankan (5)

 

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply