Rela Repot

Ayat bacaan: Kejadian 6:22
=======================
“Lalu Nuh melakukan semuanya itu; tepat seperti yang diperintahkan Allah kepadanya, demikianlah dilakukannya.”

rela repot

Menyusun perencanaan sebuah pabrik tidaklah gampang. Itu kalau kita mau mendesain sebuah pabrik yang baik. Seperti itulah pelajaran yang saya dapat dulu ketika masih kuliah. Berbagai bagian yang ada dalam sebuah pabrik harus didesain tata letaknya sedemikian rupa dengan memikirkan efisiensi, kemudahan, kesehatan dan sebagainya. Ada banyak faktor yang harus diperhatikan dan itu tidak mudah, karena ada bagian yang harus berdekatan sebaliknya ada pula yang harus berjauhan. Faktor kemungkinan pengembangan pabrik pun harus dipikirkan ketika menyusun tata letak ini. Bisa saja pabrik itu dibangun asal-asalan, namun untuk ke depannya tentu akan menyusahkan dan merugikan. Dalam banyak aspek kehidupan kita pun demikian. Seringkali kita harus repot terlebih dahulu untuk bisa memperoleh hasil yang terbaik. Akan selalu ada perbedaan antara sesuatu yang dilakukan seadanya dengan sesuatu yang dibuat dengan pertimbangan matang dan serius. Keinginan manusia tentu bisa mendapatkan yang sebaik-baiknya dengan kerepotan yang seminim-minimnya, tetapi hidup tidaklah seperti itu dan dari segi kerohanian pun tidak demikian.

Meski Tuhan bisa memberi kita segala sesuatu dengan instan, Tuhan sering menunjukkan bahwa Dia tidaklah suka dengan hal yang demikian. Mengapa? Sebab biasanya sesuatu yang instan itu biasanya tidak mendidik. Easy come, easy go, begitu biasanya kita menggambarkannya. Apa yang direncanakan Tuhan bagi kita adalah yang terindah baik buat hidup saat ini hingga kehidupan kekal kelak, semua sudah Dia sediakan buat kita. Tetapi untuk mencapainya kita harus berusaha sungguh-sungguh terlebih dahulu. Rela repot untuk mencapai sebuah tujuan yang terbaik, untuk memperoleh apa yang telah direncanakan Tuhan buat kita. Paulus mengingatkan kita “Latihlah dirimu beribadah.” (1 Timotius 4:7). Latihan. Itu adalah sebuah proses yang memakan waktu dan memerlukan usaha serta ketekunan. Kita perlu melatih diri agar disiplin beribadah. Untuk bisa taat pun kita memerlukan latihan. Dengan kata lain kita seringkali harus repot terlebih dahulu untuk mencapai tujuan. Berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian, bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian. Itu kata pepatah.

Mari kita lihat sejenak kisah mengenai Nuh. Tuhan memerintahkan Nuh untuk membuat bahtera alias kapal besar dengan ukuran yang Dia berikan secara rinci seperti yang bisa kita lihat dalam Kejadian 6:14-16. Itu tidak gampang, apalagi sepertinya tidak seorang pun pada masa itu yang pernah melihat sebuah kapal besar. Nuh membangunnya di atas bukit bukan di pantai, itu artinya dia pun harus siap menanggung ejekan, tertawaan atau cemoohan dari orang-orang yang melihatnya membangun sesuatu yang sangat aneh. Jika sampai di situ saja sudah berat, tengoklah perintah Tuhan lainnya. “Dan dari segala yang hidup, dari segala makhluk, dari semuanya haruslah engkau bawa satu pasang ke dalam bahtera itu, supaya terpelihara hidupnya bersama-sama dengan engkau; jantan dan betina harus kaubawa. Dari segala jenis burung dan dari segala jenis hewan, dari segala jenis binatang melata di muka bumi, dari semuanya itu harus datang satu pasang kepadamu, supaya terpelihara hidupnya. Dan engkau, bawalah bagimu segala apa yang dapat dimakan; kumpulkanlah itu padamu untuk menjadi makanan bagimu dan bagi mereka.” (ay 19-21). Nuh harus mengumpulkan sepasang dari segala jenis hewan yang ada di bumi, memasukkan semuanya ke dalam bahtera, serta mengumpulkan makanan yang cukup untuk dia beserta keluarganya dan untuk semua hewan-hewan dalam kapal. Bisakah anda bayangkan bagaimana repotnya semua ini untuk dilakukan? Ini sebuah pekerjaan yang rasanya mustahil untuk bisa kita lakukan. Tapi lihatlah ketaatan Nuh. Jelas dikatakan dalam alkitab: “Lalu Nuh melakukan semuanya itu; tepat seperti yang diperintahkan Allah kepadanya, demikianlah dilakukannya.” (ay 22). Nuh melakukan semuanya TEPAT seperti yang diperintahkan Allah. Tidak peduli bagaimana sulitnya, tidak peduli bagaimana beratnya, Nuh tidak bersungut-sungut atau mengeluh. Dia melakukan tepat seperti apa yang digariskan Tuhan. Luar biasa. Tidaklah heran jika Nuh dinyatakan sebagai seorang yang “mendapat kasih karunia di mata Tuhan” (ay 8) dan disebut sebagai “seorang yang benar dan tidak bercela di antara orang-orang sezamannya; dan Nuh itu hidup bergaul dengan Allah.” (ay 9).

Mungkin mustahil bagi kita, tetapi ternyata tidak bagi Nuh. Dia tahu ada sebuah agenda penting yang disediakan Tuhan baginya, sebuah misi besar, dan dia pun tahu bahwa dalam segala kerepotan yang ia hadapi selama menunaikan perintah itu Tuhan pun akan selalu menyertai dia. Maka Nuh pun melakukan semuanya tepat seperti yang diperintahkan Allah kepadanya. Pada akhirnya kita tahu bagaimana ia dan keluarganya diselamatkan dari air bah yang menelan habis semua yang hidup dan bernyawa di kolong langit. Kelak Penulis Ibrani pun mencatat ketaatan Nuh ini sebagai sebuah keteladanan iman. “Karena iman, maka Nuh–dengan petunjuk Allah tentang sesuatu yang belum kelihatan–dengan taat mempersiapkan bahtera untuk menyelamatkan keluarganya; dan karena iman itu ia menghukum dunia, dan ia ditentukan untuk menerima kebenaran, sesuai dengan imannya.” (Ibrani 11:7).

Seringkali kita hanya ingin mendapatkan sesuatu dengan instan tanpa perlu berusaha apa-apa. Sangat sulit bagi kita untuk keluar dari comfort zone alias zona kenyamanan kita tetapi kita mau memperoleh segala sesuatu yang terbaik. Kita berkata mau mengikuti keinginan dan rencana Tuhan, tapi kita tidak mau repot. Tidak bisa demikian. Jika kita terus mengembangkan sikap seperti ini kita tidak akan pernah bisa menjadi seorang yang memperoleh kasih karunia di mata Tuhan seperti halnya Nuh. Kita pun tidak akan bisa mendapatkan penggenapan janji-janji dan rencana besar yang telah Tuhan sediakan bagi kita masing-masing. Untuk mengikuti perintah Tuhan kita harus rela repot. Tetapi ingatlah bahwa apa yang Dia sediakan di depan itu pastinya jauh lebih besar nilainya ketimbang segala usaha yang harus kita lakukan terlebih dahulu. Bukan hanya Nuh, tetapi Musa dan bangsa Israel, Abraham dan banyak nabi-nabi lainnya pernah mengalami tempaan Tuhan seperti ini. Harus rela repot dan keluar dari zona nyaman untuk menerima janji Tuhan. Bahkan misi yang dijalankan Yesus sesuai kehendak Allah pun sama sekali tidak mudah bukan? Tapi Yesus taat menjalankan semuanya tepat seperti apa yang dikehendaki Allah, meski sangat berat, dan lewat itulah kita bisa menjadi siapa diri kita hari ini.

Apakah anda sedang menghadapi sesuatu yang sangat merepotkan hari ini demi memenuhi sebuah panggilan dari Tuhan? Jika ya, bersyukurlah karena itu artinya ada sesuatu yang besar sedang menanti anda di depan. Jalani semuanya dengan ketaatan dan kepercayaan penuh, dan jangan bersungut-sungut atau mengeluh. Pakai masa-masa repot itu untuk belajar banyak hal. Lakukanlah TEPAT seperti apa yang digariskan Tuhan kepada anda, dan kelak dapatkan berkat TEPAT seperti apa yang direncanakan Tuhan untuk anda sejak semula. “Hiduplah sebagai anak-anak yang taat..” (1 Petrus 1:14). Ketaatan tidak akan pernah sia-sia, segala upaya dan kesulitan yang kita tempuh saat ini tidak akan pernah sia-sia. Dengarkan jelas suaraNya, pahami panggilanNya dan percayalah dengan melakukan segalanya seperti yang telah Dia perintahkan. Kelak anda akan bersyukur karena telah taat melakukan tepat seperti apa yang Tuhan perintahkan.

Kita harus rela repot jika mau mengikuti kehendak Tuhan

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: