Refleksi Tahun Iman: Hak Kebebasan Beragama (6)

DALAM Dignitatis Humanae, Vatikan II mengajarkan, “Kebebasan beragama berarti bahwa semua orang harus kebal terhadap paksaan dari pihak orang-orang perorangan maupun kelompok-kelompok sosial dan kuasa manusiawi mana pun juga, sedemikian rupa, sehingga dalam hal keagamaan tak seorang pun dipaksa untuk bertindak melawan suara hatinya, atau dihalang-halangi untuk dalam batas-batas yang wajar bertindak menurut suara hatinya, baik sebagai perorangan maupun di muka umum, baik sendiri maupun bersama dengan orang-orang lain. Hak pribadi manusia atas kebebasan beragama itu harus diakui dalam tata hukum masyarakat sedemikian rupa, sehingga menjadi hak sipil.” (DH no. 2).

Kebebasan yang dijamin oleh hak ini adalah:

  • Setiap orang kebal terhadap paksaan dari siapa pun bila menyangkut keyakinan. Itu berarti bahwa setiap orang berhak untuk mengikuti suara hatinya dalam hal keyakinan. Namun dalam konteks Indonesia masih belum jelas apakah hak itu termasuk kebebasan orang untuk memilih menjadi ateis? Kalau seseorang merasa yakin di dalam hatinya bahwa Tuhan itu tidak ada, apakah ia berhak untuk memiliki keyakinan itu? Atau yang lebih sopan sedikit, orang memiliki keyakinan bukan aheis, melainkan aliran sesat (lebih tepat aliran yang dianggap sesat oleh kelompok lain). Mereka bukanlah orang ateis, namun percaya kepada Allah atas cara yang berbeda dan kemudian disebut sesat.
  • Dalam hal keagamaan tak seorang pun dipaksa untuk bertindak melawan suara hatinya, atau dihalang-halangi untuk dalam batas-batas yang wajar bertindak menurut suara hatinya, baik sebagai perorangan maupun di muka umum, baik sendiri maupun bersama dengan orang-orang lain. Hak pribadi manusia atas kebebasan beragama itu harus diakui dalam tata hukum masyarakat sedemikian rupa, sehingga menjadi hak sipil. Jadi selama pelaksanaan suatu keyakinan tidak mengganggu ketertiban umum, maka polisi tidak boleh membubarkan mereka, apalagi ormas-ormas ekstrimis. Di masyarakat Indonesia kebebasan mengikuti keyakinan suara hati seperti ini masih jauh panggang dari api.

Photo credit: Ilustrasi, Ibadat Jalan Salib di Melbourne, Australia (Royani Lim)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: