Refan dan Pieta

pieta 2PAGI INI TIDAK SESEJUK PAGI KEMARIN. Udara cukup panas. Misa pagi baru saja usai. Pastor dan putra altar sudah meninggalkan sakristi. Beberapa umat masih duduk menghadap altar. Mereka berdoa dengan khusuk. Beberapa umat lagi mengelilingi Pieta. Mereka pun berdoa secara khusuk. Ada yang berdiri, ada yang berlutut. Ada yang menunduk, ada yang menengadah dan menatap tajam ke arah wajah Bunda Maria yang sedang memangku Yesus. Ada yang menyentuh kaki Yesus. Ada pula yang meletakkan tangkai-tangkai bunga mawar di tempat bunga-bunga yang terletak persis di bawah Pieta. Di antara umat yang mengelilingi Pieta yang terletak di samping pintu utama Gereja Katedral itu, tampak Refan berdiri tegak menghadap ke Pieta. Matanya menatap tajam pada wajah Yesus yang dipangku Bunda Maria. Sorot matanya menantang Yesus yang sedang terbaring. Sekitar tiga puluh menit ia menatap wajah Yesus tanpa mengalihkan pandangannya ke tempat lain. Matanya tak berkedip sekalipun. Seiring dengan seorang umat paling akhir meninggalkan Pieta, Refan mendekati patung. Tangannya menggenggam erat-erat kaki Yesus. Bahkan genggamannya sangat erat. Ia meluapkan semua gundah-gulana dalam benaknya dengan menancapkan kuku-kuku tangannya pada kaki Yesus. Sudah berkali-kali Refan menancapkan kuku-kuku tangannya pada kaki Yesus yang putih itu. Ia lakukan setiap usai misa pagi. Tarikan nafasnya yang amat cepat menandakan bahwa Refan sangat marah. Refan marah pada Tuhan. Refan marah pada Yesus. Ia marah karena dipermainkan oleh Tuhan, dilecehkan oleh Yesus, dan diabaikan oleh Bunda Maria. ”Tuhan, Engkau tidak lebih dari seorang pemain dadu yang seenaknya memainkan anak dadu. Engkau pemain dadu, sedangkan aku anak dadu. Di tanganMu, aku engkau permainkan. Jika Engkau ingin angka enam, aku yang adalah angka dua entah menurut siapa, Engkau lemparkan lagi berkali-kali supaya Engkau mendapat angka enam. Engkau tidak pernah memberi pilihan kepadaku untuk menjadi angka nol sesuai kemauanku. Aku tidak mau jadi angka satu, dua, tiga, empat, lima, atau enam. Aku hanya mau jadi angka nol,” demikian protes Refan setiap kali berdiri di depan Patung Pieta seusai misa pagi. Protes Refan terhadap Yesus pagi ini kian kencang saat kata-kata orang tuanya melintas dalam pikirannya. Kata-kata orang tuanya diterima usai ia menceritakan ejekan teman-temannya. ”Teman-teman bilang aku perempuan. Tapi aku bukan perempuan. Aku laki-laki tulen,” ucap Refan kepada ibu dan ayahnya suatu siang. ”Kamu bukan laki-laki. Kamu memang perempuan. Kalau laki-laki kamu mestinya punya titit. Tapi kamu tidak punya titit,” ayahnya meneguhkan ejekan teman-teman Refan. Ibunya mengangguk tanda setuju dengan ayahnya. Setip kali mendapat jawaban dari ayah dan ibu yang mendukung teman-temannya, Refan lalu lari ke kamar dan menangis sesunggukkan. ”Aku laki-lakiiiiiiiiiiiii….!!!!!!!!!” teriak Refan keras. Kuku-kuku tangan Refan kian dalam menancap ke dalam betis Yesus. Darah mulai keluar dari betis Yesus. Kian lama kian deras. Semakin darah mengucur deras, Refan kian keras dan kencang menancapkan kuku-kukunya. Sementara itu Bunda Maria yang sedang memangku Yesus terus mengucurkan air mata. Kian lama kian deras. Air mata Bunda Maria dan darah Yesus mengalir ke bawah. Aliran air mata dan darah itu mengelilingi kaki Refan yang kali ini tidak saja kian kencang mencengkramkan kuku-kukunya tetapi juga menghentak-hentakkan kakinya. Dalam suasana batin yang tidak menentu itu, Refan diacak-acak lagi oleh kata-kata Pastor Carvallo saat ia mencurahkan isi hatinya pada suatu senja, yang muncul lagi dalam ingatannya, “Tuhan tidak menciptakan manusia dengan kelamin ganda. Tuhan hanya menciptakan laki-laki dan perempuan. Tuhan tidak menciptakan manusia sebagai laki-laki sekaligus perempuan. Maka terimalah kenyataan bahwa kamu adalah perempuan.” Air mata Bunda Maria dan darah Yesus terpercik ke sekeliling Pieta karena hentakan-hentakan kaki Refan. Bunyi cipratan dan hentakan kaki mengundang koster yang sedang membersihkan lantai tak jauh dari Pieta menghampiri Refan. Melihat Refan seperti orang kesurupan, koster berlari keluar gereja sambil berteriak-teriak. ”Ada orang gila dalam gereja! Orang gila… Orang gila… Orang gila… Ada orang gila mau bunuh Yesus dalam gereja.” Mendengar teriakan koster, satpam yang sedang memarkir sebuah mobil sedan berlari ke arah koster. Koster terus berteriak. Dalam sekejab orang-orang yang berada di halaman gereja berhamburan ke dalam gereja. Tukang masak yang sedang masak di pastoran pun tidak ketinggalan. Sambil membawa pisau dapur ia berteriak kesetanan, ”Siapa yang bunuh Yesus… Siapa yang berani bunuh Yesus!! Saya habisin sekalian orang yang mau bunuh Yesus!!!” tukang masak berlari ke arah Pieta yang sudah dikelilingi banyak orang. Seorang yang bertubuh kekar segera memeluk tukang masak dan menggiring secara paksa keluar gereja. Bersamaan dengan itu, sepuluh orang polisi bersenjata lengkap masuk ke dalam gereja. Dengan sigap mereka memborgol Refan, menodongkan moncong senapan ke kepalanya, dan menggelandangnya ke Kantor Polisi yang terletak tidak jauh dari pintu gerbang Gereja Katedral. Beberapa saksi mata, termasuk koster diikutsertakan ke Kantor Polisi untuk dimintai keterangannya. Pastor Kepala Paroki yang baru saja pulang dari pemberian Sakramen Orang Sakit diarahkan supaya ke Kantor Polisi. Refan duduk di sebuah kursi. Seorang polisi mengajukan banyak pertanyaan. Pertanyaan-pertanyaan menjurus pada tindakan penodaan agama. Seorang polisi lagi mengetik pertanyaan-pertanyaan polisi dan jawaban-jawaban Refan. Usai memeriksa Refan, polisi meminta keterangan dari koster, Pastor Kepala Paroki, satpam, dan beberapa orang lagi yang menyaksikan tindakan Refan terhadap Pieta. Jawaban-jawaban yang mereka berikan pun mengarah pada upaya penodaan agama oleh Refan. Refan lalu dikurung di ruang tahanan di Kantor Polisi itu sebelum dibawa ke rumah tahanan untuk para narapidana. Kepada mereka yang sudah diminta keterangannya, polisi mengharapkan agar mereka tetap mau datang ke Kantor Polisi jika dibutuhkan keterangannya lagi, sebelum Refan diajukan ke meja hijau. Refan duduk di lantai di ruang tahanan. Badannya disandarkan ke dinding yang lembab. Ia menarik nafas dalam-dalam. Matanya menikam ventilasi udara. Seorang polisi menggembok pintu teralis dengan gembok besar berwarna perak sebelum meninggalkan Refan. Refan tidak menghiraukan suara benturan gembok dan pintu teralis. Udara sangat panas. Refan membuka bajunya. Ia hanya mengenakan kaos kutang. Lengannya berotot. Dadanya juga berotot serta membusung sehingga tampak seperti berpayudara sebagaimana dimiliki perempuan. Seraya mengibas-ngibaskan baju untuk mengundang kesejukan, Refan mengeluarkan dari dalam kantong celananya catatan hasil pemeriksaan forensik dokter sebuah rumah sakit negeri atas dirinya. Dalam catatan itu tertulis, Refan adalah laki-laki yang memiliki kromosom XXY. Refan dinyatakan sebagai laki-laki klinefelter. Ia mengalami kelainan genetik. Kelainan itu terjadi ketika kromosom seks ekstra dari salah satu orang tua diturunkan pada bayi laki-laki semasa pembentukan embrio. Penurunan kromosom ekstra terjadi secara acak dan kebetulan. ”Tuhan, kalau Engkau hanya menciptakan laki-laki dan perempuan seperti kata Pastor Carvallo, kenapa Engkau tidak campur tangan saat pembentukan embrio, supaya aku ini sungguh-sungguh laki-laki atau perempuan? Kalau betul bahwa Engkau hanya menciptakan laki-laki dan perempuan, kenapa orang tua dan teman-teman saya bilang kalau saya perempuan. Padahal sangat jelas bahwa aku ini laki-laki. Bukti ilmiah kedokteran pun menunjukkan bahwa aku laki-laki sejati. Aku sendiri mengalami diriku sebagai laki-laki sungguhan,” Refan melancarkan protesnya lagi di tengah suhu udara kian panas. Pagi sekitar pukul 10.00 keesokannya. Di dampingi pengacara yang diajukan oleh kekasihnya yang cantik dan seksi, Refan diperiksa polisi lagi. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan tidak jauh berbeda dengan pemeriksaan pertama. Pemeriksaan kali ini kian menjurus ke tindakan penodaan agama. Usai pemeriksaan polisi, Refan mencurahkan isi hatinya kepada pengacara yang mendampinginya, ”Bagaimana mungkin saya menodai agamaku sendiri. Aku dilahirkan, dibesarkan, dan dididik secara Katolik. Maka tidak mungkin aku menodai agamaku sendiri. Apa yang kulakukan terhadap Pieta semata-mata protes kepada Tuhan karena Ia tidak campur tangan saat pembentukan embrio sehingga aku lahir dengan membawa kelainan genetik. Aku protes kepada Tuhan karena memang Ia layak diprotes. Ia tidak memberiku kesempatan untuk memilih lahir sebagai laki-laki atau perempuan tulen tanpa membawa kelainan genetik. Tuhan juga membiarkan aku sendirian ketika aku berjuang meyakinkan orang tua dan teman-teman bahwa aku laki-laki tulen dengan bukti pemeriksaan dokter. Kenapa Tuhan tidak mengubah pikiran orang-orang yang masih menganggapku perempuan, padahal aku laki-laki sejati!?” Mendengar curahan isi hati Refan, pengacara menepuk bahu Refan dan berkata, ”Tuhan ada dipihakmu. Kita buktikan di pengadilan nanti bahwa kamu tidak punya niat menodai agama.” Suhu udara terasa sejuk di ujung perbincangan itu meskipun matahari bersinar terang. Desa Sukaragam, Bekasi, 23 Juni 2010, pkl. 11.14 WIB.

pieta 2

PAGI INI TIDAK SESEJUK PAGI KEMARIN. Udara cukup panas. Misa pagi baru saja usai. Pastor dan putra altar sudah meninggalkan sakristi. Beberapa umat masih duduk menghadap altar. Mereka berdoa dengan khusuk. Beberapa umat lagi mengelilingi Pieta. Mereka pun berdoa secara khusuk. Ada yang berdiri, ada yang berlutut. Ada yang menunduk, ada yang menengadah dan menatap tajam ke arah wajah Bunda Maria yang sedang memangku Yesus. Ada yang menyentuh kaki Yesus. Ada pula yang meletakkan tangkai-tangkai bunga mawar di tempat bunga-bunga yang terletak persis di bawah Pieta.

Di antara umat yang mengelilingi Pieta yang terletak di samping pintu utama Gereja Katedral itu, tampak Refan berdiri tegak menghadap ke Pieta. Matanya menatap tajam pada wajah Yesus yang dipangku Bunda Maria. Sorot matanya menantang Yesus yang sedang terbaring. Sekitar tiga puluh menit ia menatap wajah Yesus tanpa mengalihkan pandangannya ke tempat lain. Matanya tak berkedip sekalipun.

Seiring dengan seorang umat paling akhir meninggalkan Pieta, Refan mendekati patung. Tangannya menggenggam erat-erat kaki Yesus. Bahkan genggamannya sangat erat. Ia meluapkan semua gundah-gulana dalam benaknya dengan menancapkan kuku-kuku tangannya pada kaki Yesus. Sudah berkali-kali Refan menancapkan kuku-kuku tangannya pada kaki Yesus yang putih itu. Ia lakukan setiap usai misa pagi.

Tarikan nafasnya yang amat cepat menandakan bahwa Refan sangat marah. Refan marah pada Tuhan. Refan marah pada Yesus. Ia marah karena dipermainkan oleh Tuhan, dilecehkan oleh Yesus, dan diabaikan oleh Bunda Maria. ”Tuhan, Engkau tidak lebih dari seorang pemain dadu yang seenaknya memainkan anak dadu. Engkau pemain dadu, sedangkan aku anak dadu. Di tanganMu, aku engkau permainkan. Jika Engkau ingin angka enam, aku yang adalah angka dua entah menurut siapa, Engkau lemparkan lagi berkali-kali supaya Engkau mendapat angka enam. Engkau tidak pernah memberi pilihan kepadaku untuk menjadi angka nol sesuai kemauanku. Aku tidak mau jadi angka satu, dua, tiga, empat, lima, atau enam. Aku hanya mau jadi angka nol,” demikian protes Refan setiap kali berdiri di depan Patung Pieta seusai misa pagi.

Protes Refan terhadap Yesus pagi ini kian kencang saat kata-kata orang tuanya melintas dalam pikirannya. Kata-kata orang tuanya diterima usai ia menceritakan ejekan teman-temannya.
”Teman-teman bilang aku perempuan. Tapi aku bukan perempuan. Aku laki-laki tulen,” ucap Refan kepada ibu dan ayahnya suatu siang.

”Kamu bukan laki-laki. Kamu memang perempuan. Kalau laki-laki kamu mestinya punya titit. Tapi kamu tidak punya titit,” ayahnya meneguhkan ejekan teman-teman Refan. Ibunya mengangguk tanda setuju dengan ayahnya.

Setip kali mendapat jawaban dari ayah dan ibu yang mendukung teman-temannya, Refan lalu lari ke kamar dan menangis sesunggukkan. ”Aku laki-lakiiiiiiiiiiiii….!!!!!!!!!” teriak Refan keras.
Kuku-kuku tangan Refan kian dalam menancap ke dalam betis Yesus. Darah mulai keluar dari betis Yesus. Kian lama kian deras. Semakin darah mengucur deras, Refan kian keras dan kencang menancapkan kuku-kukunya. Sementara itu Bunda Maria yang sedang memangku Yesus terus mengucurkan air mata. Kian lama kian deras. Air mata Bunda Maria dan darah Yesus mengalir ke bawah. Aliran air mata dan darah itu mengelilingi kaki Refan yang kali ini tidak saja kian kencang mencengkramkan kuku-kukunya tetapi juga menghentak-hentakkan kakinya.

Dalam suasana batin yang tidak menentu itu, Refan diacak-acak lagi oleh kata-kata Pastor Carvallo saat ia mencurahkan isi hatinya pada suatu senja, yang muncul lagi dalam ingatannya, “Tuhan tidak menciptakan manusia dengan kelamin ganda. Tuhan hanya menciptakan laki-laki dan perempuan. Tuhan tidak menciptakan manusia sebagai laki-laki sekaligus perempuan. Maka terimalah kenyataan bahwa kamu adalah perempuan.”
Air mata Bunda Maria dan darah Yesus terpercik ke sekeliling Pieta karena hentakan-hentakan kaki Refan. Bunyi cipratan dan hentakan kaki mengundang koster yang sedang membersihkan lantai tak jauh dari Pieta menghampiri Refan. Melihat Refan seperti orang kesurupan, koster berlari keluar gereja sambil berteriak-teriak. ”Ada orang gila dalam gereja! Orang gila… Orang gila… Orang gila… Ada orang gila mau bunuh Yesus dalam gereja.”

Mendengar teriakan koster, satpam yang sedang memarkir sebuah mobil sedan berlari ke arah koster. Koster terus berteriak. Dalam sekejab orang-orang yang berada di halaman gereja berhamburan ke dalam gereja.

Tukang masak yang sedang masak di pastoran pun tidak ketinggalan. Sambil membawa pisau dapur ia berteriak kesetanan, ”Siapa yang bunuh Yesus… Siapa yang berani bunuh Yesus!! Saya habisin sekalian orang yang mau bunuh Yesus!!!” tukang masak berlari ke arah Pieta yang sudah dikelilingi banyak orang.

Seorang yang bertubuh kekar segera memeluk tukang masak dan menggiring secara paksa keluar gereja. Bersamaan dengan itu, sepuluh orang polisi bersenjata lengkap masuk ke dalam gereja. Dengan sigap mereka memborgol Refan, menodongkan moncong senapan ke kepalanya, dan menggelandangnya ke Kantor Polisi yang terletak tidak jauh dari pintu gerbang Gereja Katedral. Beberapa saksi mata, termasuk koster diikutsertakan ke Kantor Polisi untuk dimintai keterangannya. Pastor Kepala Paroki yang baru saja pulang dari pemberian Sakramen Orang Sakit diarahkan supaya ke Kantor Polisi.

Refan duduk di sebuah kursi. Seorang polisi mengajukan banyak pertanyaan. Pertanyaan-pertanyaan menjurus pada tindakan penodaan agama. Seorang polisi lagi mengetik pertanyaan-pertanyaan polisi dan jawaban-jawaban Refan.
Usai memeriksa Refan, polisi meminta keterangan dari koster, Pastor Kepala Paroki, satpam, dan beberapa orang lagi yang menyaksikan tindakan Refan terhadap Pieta. Jawaban-jawaban yang mereka berikan pun mengarah pada upaya penodaan agama oleh Refan.

Refan lalu dikurung di ruang tahanan di Kantor Polisi itu sebelum dibawa ke rumah tahanan untuk para narapidana. Kepada mereka yang sudah diminta keterangannya, polisi mengharapkan agar mereka tetap mau datang ke Kantor Polisi jika dibutuhkan keterangannya lagi, sebelum Refan diajukan ke meja hijau.
Refan duduk di lantai di ruang tahanan. Badannya disandarkan ke dinding yang lembab. Ia menarik nafas dalam-dalam. Matanya menikam ventilasi udara. Seorang polisi menggembok pintu teralis dengan gembok besar berwarna perak sebelum meninggalkan Refan. Refan tidak menghiraukan suara benturan gembok dan pintu teralis.

Udara sangat panas. Refan membuka bajunya. Ia hanya mengenakan kaos kutang. Lengannya berotot. Dadanya juga berotot serta membusung sehingga tampak seperti berpayudara sebagaimana dimiliki perempuan. Seraya mengibas-ngibaskan baju untuk mengundang kesejukan, Refan mengeluarkan dari dalam kantong celananya catatan hasil pemeriksaan forensik dokter sebuah rumah sakit negeri atas dirinya. Dalam catatan itu tertulis, Refan adalah laki-laki yang memiliki kromosom XXY. Refan dinyatakan sebagai laki-laki klinefelter. Ia mengalami kelainan genetik. Kelainan itu terjadi ketika kromosom seks ekstra dari salah satu orang tua diturunkan pada bayi laki-laki semasa pembentukan embrio. Penurunan kromosom ekstra terjadi secara acak dan kebetulan.

”Tuhan, kalau Engkau hanya menciptakan laki-laki dan perempuan seperti kata Pastor Carvallo, kenapa Engkau tidak campur tangan saat pembentukan embrio, supaya aku ini sungguh-sungguh laki-laki atau perempuan? Kalau betul bahwa Engkau hanya menciptakan laki-laki dan perempuan, kenapa orang tua dan teman-teman saya bilang kalau saya perempuan. Padahal sangat jelas bahwa aku ini laki-laki. Bukti ilmiah kedokteran pun menunjukkan bahwa aku laki-laki sejati. Aku sendiri mengalami diriku sebagai laki-laki sungguhan,” Refan melancarkan protesnya lagi di tengah suhu udara kian panas.
Pagi sekitar pukul 10.00 keesokannya. Di dampingi pengacara yang diajukan oleh kekasihnya yang cantik dan seksi, Refan diperiksa polisi lagi. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan tidak jauh berbeda dengan pemeriksaan pertama. Pemeriksaan kali ini kian menjurus ke tindakan penodaan agama.

Usai pemeriksaan polisi, Refan mencurahkan isi hatinya kepada pengacara yang mendampinginya, ”Bagaimana mungkin saya menodai agamaku sendiri. Aku dilahirkan, dibesarkan, dan dididik secara Katolik. Maka tidak mungkin aku menodai agamaku sendiri. Apa yang kulakukan terhadap Pieta semata-mata protes kepada Tuhan karena Ia tidak campur tangan saat pembentukan embrio sehingga aku lahir dengan membawa kelainan genetik. Aku protes kepada Tuhan karena memang Ia layak diprotes. Ia tidak memberiku kesempatan untuk memilih lahir sebagai laki-laki atau perempuan tulen tanpa membawa kelainan genetik. Tuhan juga membiarkan aku sendirian ketika aku berjuang meyakinkan orang tua dan teman-teman bahwa aku laki-laki tulen dengan bukti pemeriksaan dokter. Kenapa Tuhan tidak mengubah pikiran orang-orang yang masih menganggapku perempuan, padahal aku laki-laki sejati!?”
Mendengar curahan isi hati Refan, pengacara menepuk bahu Refan dan berkata, ”Tuhan ada dipihakmu. Kita buktikan di pengadilan nanti bahwa kamu tidak punya niat menodai agama.”
Suhu udara terasa sejuk di ujung perbincangan itu meskipun matahari bersinar terang.
Desa Sukaragam, Bekasi, 23 Juni 2010, pkl. 11.14 WIB.

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply