Rebutan

kucing-ninja-1“Tetapi penggarap-penggarap itu berkata seorang kepada yang lain: Ia adalah ahli waris, mari kita bunuh dia, maka warisan ini menjadi milik kita.” (Mrk 12, 7) ‘REBUTAN’ merupakan satu istilah yang tidak asing di telinga dan juga merupakan kenyataan yang sering terjadi di banyak tempat. Seorang anak menangis, karena mainannya direbut temannya. Kaka dan adik cekcok dan berantem, karena berebut warisan. Masyarakat berebut gunungan di alun-alun, saat ada perayaan garebeg. Tukang parkir berantem, karena berebut lahan parkir. Para politisi juga sering berebut kedudukan, kantor atau keabsahan kepengurusan mereka. Para pedagang rebutan kios yang selesai dibangun. Para misdinar pun rebutan untuk bertugas saat misa besar. Lektor dan pemazmur pun juga sering berebut tugas, agar bisa tampil di mimbar. ‘Rebutan’ bisa terjadi di dalam keluarga, di tempat bekerja, di pasar, di kantor, di tempat ibadat dan juga di tengah masyarakat. Hal ini juag sering terjadi di dalam dunia politik, ekonomi, pendidikan, budaya dan keagamaan. Ada banyak hal yang sering diperebutkan, mulai dari permainan, makanan, pakaian, tempat atau lokasi, harta dan warisan, pangkat dan kedudukan, peran atau fungsi. Banyak orang sering terlibat dalam suatu peristiwa perebutan, mulai dari anak-anak, remaja, orang muda sampai dewasa; orang sederhana sampai orang yang berpangkat dan punya derajat. Para penggarap berusaha merebut kebun anggur dari ahli warisnya. Merebut sering berkaitan dengan tindakan kekerasan terhadap orang lain; kekerasan lewat sikap, kata dan tindakan lain. Merebut menunjuk pada keinginan dan sikap serta perilaku untuk memiliki sesuatu yang sebetulnya bukan menjadi haknya. Banyak orang sering mendapat tugas atau tanggung jawab untuk ‘menggarap atau mengolah’ sesuatu dalam waktu lama, bahkan sampai turun temurun. Akhirnya mereka lupa akan statusnya sebagai penggarap dan cenderung bersikap sebagai ‘pemilik’, sehingga mereka tidak mudah untuk mengembalikan ‘lahan’ garapannya. Bahkan mereka sering menuntut ganti rugi atas lahan yang bukan menjadi miliknya. Sejauh mana dan dalam hal apa, kecenderungan untuk ‘merebut atau memiliki’ sering nampak dalam diriku, khususnya terhadap hal-hal yang diserahkan kepadaku untuk digarap atau dikelola? Teman-teman selamat malam dan selamat beristirahat. Berkah Dalem.

kucing-ninja-1

“Tetapi penggarap-penggarap itu berkata seorang kepada yang lain: Ia adalah ahli waris, mari kita bunuh dia, maka warisan ini menjadi milik kita.” (Mrk 12, 7)

‘REBUTAN’ merupakan satu istilah yang tidak asing di telinga dan juga merupakan kenyataan yang sering terjadi di banyak tempat. Seorang anak menangis, karena mainannya direbut temannya. Kaka dan adik cekcok dan berantem, karena berebut warisan. Masyarakat berebut gunungan di alun-alun, saat ada perayaan garebeg.

Tukang parkir berantem, karena berebut lahan parkir. Para politisi juga sering berebut kedudukan, kantor atau keabsahan kepengurusan mereka. Para pedagang rebutan kios yang selesai dibangun. Para misdinar pun rebutan untuk bertugas saat misa besar.

Lektor dan pemazmur pun juga sering berebut tugas, agar bisa tampil di mimbar.

‘Rebutan’ bisa terjadi di dalam keluarga, di tempat bekerja, di pasar, di kantor, di tempat ibadat dan juga di tengah masyarakat. Hal ini juag sering terjadi di dalam dunia politik, ekonomi, pendidikan, budaya dan keagamaan.

Ada banyak hal yang sering diperebutkan, mulai dari permainan, makanan, pakaian, tempat atau lokasi, harta dan warisan, pangkat dan kedudukan, peran atau fungsi. Banyak orang sering terlibat dalam suatu peristiwa perebutan, mulai dari anak-anak, remaja, orang muda sampai dewasa; orang sederhana sampai orang yang berpangkat dan punya derajat.

Para penggarap berusaha merebut kebun anggur dari ahli warisnya. Merebut sering berkaitan dengan tindakan kekerasan terhadap orang lain; kekerasan lewat sikap, kata dan tindakan lain. Merebut menunjuk pada keinginan dan sikap serta perilaku untuk memiliki sesuatu yang sebetulnya bukan menjadi haknya.

Banyak orang sering mendapat tugas atau tanggung jawab untuk ‘menggarap atau mengolah’ sesuatu dalam waktu lama, bahkan sampai turun temurun. Akhirnya mereka lupa akan statusnya sebagai penggarap dan cenderung bersikap sebagai ‘pemilik’, sehingga mereka tidak mudah untuk mengembalikan ‘lahan’ garapannya.

Bahkan mereka sering menuntut ganti rugi atas lahan yang bukan menjadi miliknya. Sejauh mana dan dalam hal apa, kecenderungan untuk ‘merebut atau memiliki’ sering nampak dalam diriku, khususnya terhadap hal-hal yang diserahkan kepadaku untuk digarap atau dikelola?

Teman-teman selamat malam dan selamat beristirahat. Berkah Dalem.

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply