Rasakan Kekhawatiranmu dan Jadilah Merdeka!

Rasakan Kekhawatiranmu dan Jadilah Merdeka! Tano Shirani Self Management, Faith and Spirituality

Kamu sedang berjalan di dalam rumah. Tiba-tiba listrik padam. Kamu berhenti. Seluruh kepastian yang sebelumnya ada langsung lenyap. Tidak tahu ke mana harus menggerakkan kaki. Lalu, kamu diam sejenak. Matamu butuh waktu untuk membiasakan diri dengan gelap. Kamu pun berani berjalan lagi. Ini tindakan manusia normal. Jika menutup mata, menanti hingga kembali terang dan terpaku di tempat, kamu bisa menghabiskan waktu sia-sia di situ. Jika kamu tetap tak bereaksi dan terus melangkah dengan gerakan dan kecepatan seperti ketika ada terang, tak lama kemudian akan ada seruan “aduh” dan entah makian apa lagi meluncur dari mulutmu ketika kakimu terantuk sesuatu.

Peringatan dari Tubuhmu

Ada sekumpulan saraf berbentuk seperti kacang almond di bagian lobus temporal medial otak. Namanya amigdala. Salah satu fungsinya adalah memberi peringatan agar kamu merasa takut, cemas, khawatir. Tiga skenario tadi menggambarkan tiga kondisi amigdala. Yang pertama adalah orang dengan amigdala yang berfungsi normal. Yang terpaku diam adalah orang dengan amigdala yang terlalu aktif. Kecemasan menjadi sangat besar, sehingga demi rasa aman, lebih baik tidak melangkah. Yang tetap berjalan adalah orang dengan amigdala yang tidak berfungsi lagi. Sebenarnya ia tak tahu lagi apa bedanya antara yang aman dan yang berbahaya.

Nasihat Yesus

Yesus mengusik dengan pertanyaan retoris, “Siapakah di antara kamu yang karena kekhawatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?” (Matius 6:27). Ini adalah bagian dari nasihat “Jangan khawatir!” Bagi Yesus sangatlah jelas, bahwa manusia perlu bisa merasa khawatir. Rasa khawatir bukanlah sebuah dosa. Ketika Yesus berkata, “Jangan khawatir,” Ia sebenarnya mengatakan, “Jangan biarkan rasa khawatirmu berlebihan sehingga melumpuhkanmu. Jangan biarkan rasa takutmu mendikte tiap keputusan hidupmu.”

Kamu Orang Yang Mana?

Kalau kamu selalu punya kekhawatiran berlebihan, atau kalau kamu sama sekali tidak pernah punya rasa khawatir, segeralah memeriksakan diri ke dokter ahli otak. Mungkin ada sesuatu dengan fungsi amigdala di otakmu, entah terlalu aktif, entah terlalu pasif. Kalau kamu seperti orang tadi, yang hanya butuh diam sejenak dan membiarkan mata terbiasa dalam gelap lalu melangkah lagi, bersyukurlah, karena amigdala di otakmu masih berfungsi normal.

Langkah Praktis Ketika Khawatir

Praktisnya, apa yang bisa kita lakukan ketika kita merasa khawatir? Tiga langkah ini boleh dicoba:

Berhenti: Jangan menolak rasa khawatir itu. Bersyukurlah, karena otak masih berfungsi. Rasakan rasa khawatir itu;Relakan kepastian sebelumnya: Anggap saja listrik hidupmu tiba-tiba padam. Itu di luar kendalimu. Kamu bisa marah-marah kepada Tuhan, tetapi tetap saja kamu tidak bisa mengubah situasi hidupmu seketika secara ajaib;Sambut kepastian baru: Kalau kamu membiasakan dirimu dalam gelap, mata imanmu akan mampu melihat. Meskipun berbeda, itulah kepastian baru. Kepastian tidak terletak pada kemampuanmu melihat seluruhnya secara jelas, tetapi pada kemampuanmu untuk mengayunkan kaki secara benar.

Maka, awalilah dengan merasakan sungguh-sungguh rasa khawatirmu, dan perlahan-lahan kamu menjadi semakin merdeka dari rasa khawatirmu itu, dan perlahan-lahan kamu bisa melangkah. Tidak ada jaminan pasti akan keamanan dan keberhasilan, tetapi ada jaminan pasti bahwa kamu menjaga martabatmu sebagai manusia. Kamu tetap menjadi “majikan” atas rasa khawatirmu, karena kamu telah menolak tegas untuk menjadi “budak” bagi rasa khawatirmu.


Kalau kamu berani berjalan ketika lampu tiba-tiba mati, kamu pasti juga berani berjalan dalam iman ketika lampu hidupmu padam.


Sumber: Inspire.com

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply