Ayat bacaan: Yohanes 6:20 (BIS)
====================
“Tetapi Yesus berkata kepada mereka, “Jangan takut, ini Aku!”

Belum lama ini salah seorang teman di jejaring sosial menuliskan status “rasa takut ini membunuhku.” Setelah saya tanya apa yang ia takutkan, ia ternyata terlalu takut kehilangan orang yang dicintainya. Bagi yang tengah berpacaran, ternyata bukan saja rasa terlalu cinta yang bisa membunuh, tapi rasa takut ditinggalkan atau diputus juga bisa membunuh juga. Mari kita tinggalkan soal bunuh membunuh dan fokus kepada kata ‘takut’. Seperti yang saya sampaikan dalam ilustrasi renungan kemarin, ada banyak bentuk rasa takut yang setiap hari mendera kita. Begitu sering, begitu banyak ragamnya, sehingga kalau satu hari saja kita bisa hidup tanpa rasa takut itu sudah seperti sebuah pencapaian besar. Ada sebuah pemikiran menarik dari teman saya mengenai rasa takut. Katanya kira-kira demikian. “Kalau kita dibilang jangan membunuh, itu tentu mudah. Dibilang jangan mencuri, itu pun tidak sulit. Tapi kenapa begitu sulit ketika disuruh jangan takut? Bukankah itu harusnya sama saja tidak bolehnya? Kata-katanya ini membuat saya tersenyum karena memang ada benarnya.  Membiarkan rasa takut terus berkecamuk dalam diri kita seringkali tidak membantu menyelesaikan masalah tetapi malah menambah lebih banyak lagi masalah. Kita bisa stres, depresi, kehilangan sukacita dan semakin lupa kepada siapa kita seharusnya menggantungkan keamanan kita.

Tampaknya mengatasi rasa takut manusia menjadi salah satu fokus kedatangan Yesus selain menggenapi rencana Allah untuk menganugerahkan kita dengan keselamatan kekal. Mengapa saya katakan demikian? Karena dari keempat injil saja catatan mengenai teguran Yesus agar kita jangan takut tercatat ada begitu banyak. Salah satunya sudah sangat kita kenal yaitu ketika murid-murid Yesus yang didera angin kencang ketika tengah berada di tengah danau di malam hari yang tertulis dalam 3 Injil, misalnya dalam Yohanes 6:16-21. Ditengah kepanikan takut kapal mereka tenggelam, Yesus datang dengan cara yang tidak terduga, yaitu berjalan di atas air. Reaksi mereka bukannya senang tetapi malah takut. Bukankah ini yang sering terjadi pada kita? Kita sulit berpikir jernih saat tengah panik, dan yang lebih parah lagi, kita tidak bisa lagi melihat atau menyadari Tuhan di saat kita tengah dilanda ketakutan. Tapi lihatlah apa kata Yesus kepada mereka. “Tetapi Ia berkata kepada mereka: “Aku ini, jangan takut!” Dalam versi Bahas Indonesia Sehari-hari (BIS) dikatakan “Tetapi Yesus berkata kepada mereka, “Jangan takut, ini Aku!” Jangan takut, kata Yesus. “Fear not, be not afraid. Stop being frightened!” Sekencang-kencangnya angin pada saat itu, Yesus berhasil meredakannya dan merekapun sampai ke tempat yang dituju dengan selamat.

Apa yang seringkali menjadi penyebab utama rasa takut terus tumbuh pada kita ada pada masalah iman. Banyak orang percaya yang masih bertingkahlaku tidak percaya, atau kalau tidak separah itu imannya kurang alias kurang percaya. Dan akan hal ini Yesus mengatakan hal yang sama. Lihatlah apa kata Yesus saat meredakan angin ribut saat berlayar pada kesempatan lain. “Ia berkata kepada mereka: “Mengapa kamu takut, kamu yang kurang percaya?” (Matius 8:26a). Dalam bahasa Inggris Amplified Yesus berkata demikian: “Why are you timid and afraid, O you of little faith?” Orang yang kurang percaya, kurang iman. Sudah punya iman tapi masih kurang. Itupun ternyata masih membuka pintu bagi masuknya rasa takut ke dalam diri kita. Lantas sebesar apa iman yang harus kita miliki? Apakah harus sebesar gunung? Kalau mengacu kepada ucapan Yesus sendiri, ukuran besar iman yang bisa membuat kita mampu melakukan hal-hal yang mustahil sekalipun hanyalah sebesar biji sesawi saja (Matius 17:20). Kalau untuk mengusir setan yang menjadi konteks ayat ini saja kita mampu, mengapa tidak untuk mengatasi rasa takut akan hal apapun yang tengah mengganggu kita? Lantas dari mana iman tumbuh? Firman Tuhan jelas berkata: “iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.” (Roma 10:17). Jelas, untuk bisa sampai kepada iman yang seukuran biji sesawi saja, kita harus terus menghidupi firmanNya. Itulah yang akan menumbuhkan iman kita agar rasa takut tidak lagi menjadi penghambat untuk maju.

Rasa takut ini membunuhku, kata teman saya tadi. Mungkin tidak berarti langsung membunuh, tapi yang pasti hidup dengan rasa takut sama sekali tidak enak. Tidak ada selera makan, tidak ada semangat, tidak ada gairah, tidak ada ketenangan, tidak ada kenyamanan dan tidak lagi ada rasa damai dan sukacita. Perasaan seperti ini jika dibiarkan berlarut-larut tentu akan mendatangkan berbagai penyakit dan gangguan-gangguan lain. Kalaupun bukan penyakit, kerugian yang tidak sedikit bisa kita derita. Oleh sebab itu kita harus ingat seruan Yesus untuk jangan takut. Bahkan dalam sebuah ayat dengan tegas Yesus berkata “Jangan takut, percaya saja!” (Markus 5:36). Jangan kurang percayanya, apalagi sampai tidak percaya. Itu memang bisa merugikan, membuat kita menderita bahkan membunuh pelan-pelan. Dari pada habis energi memupuk rasa takut, mengapa tidak mempergunakannya untuk terus bersama Tuhan lebih dan lebih lagi? Itu akan membuat kita mampu berjejak mengatasi segala sesuatu yang bisa membuat kita kuatir, cemas atau takut dan tidak harus kehilangan damai sukacita yang berasal daripadaNya.

Bebaskan diri dari rasa takut, karena kalau dibiarkan lama-lama bisa membunuh

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.