Rajin-Rajin Mengevaluasi Diri

Ayat bacaan: Efesus 5:15
===================
“Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif”

Sebuah perusahaan yang baik memerlukan evaluasi secara berkala. Sangatlah penting untuk melihat apa yang sudah dicapai, apakah sudah sesuai target, dan apa rencana jangka pendek dan jangka panjang ke depannya. Penetapan target ke depan, pencapaian yang ingin diraih, apa yang menjadi kekuatan yang harus dipertahankan dan ditingkatkan perlu untuk diperhatikan. Lantas apabila ada yang masih belum baik, perlu pula dipikirkan bagaimana cara memperbaikinya. Meningkatkan kinerja, konsolidasi ke dalam dan penguatan dari berbagai sisi akan sangat menentukan kemana nantinya perusahaan tersebut akan berada. Bukan saja perusahaan, tetapi lembaga lainnya seperti komunitas, organisasi dan sebagainya juga seharusnya memikirkan hal ini. Bahkan secara individu kita pun secara berkala butuh evaluasi, introspeksi atau mengambil waktu-waktu perenungan secara khusus agar kita bisa menjadi lebih baik lagi ke depannya.

Secara berkala saya rutin untuk melakukan introspeksi, mengevaluasi seperti apa saya saat ini sebagai seorang suami, sahabat, dan dalam pekerjaan dan pelayanan yang saya lakukan. Saya ingin menjadi suami yang terbaik bagi istri saya, menjadi kepala rumah tangga yang bertanggungjawab dan bisa memimpin dengan cinta. Saya ingin menjadi sahabat yang peduli yang mengenal mereka dengan baik. Saya ingin berhasil dalam pekerjaan dan ingin terus melayani dengan baik. Semua adalah titipan Tuhan yang harus saya kerjakan dan pertanggungjawabkan dengan semaksimal mungkin dengan talenta-talenta yang telah Dia berikan. I want to do my best in every aspects of life, itu intinya, semoga apapun yang saya lakukan bisa terus memuliakan Tuhan. Ada banyak kelemahan yang masih harus diperbaiki, itu pasti. Semua itu tidaklah mungkin jika saya terlalu santai dan tidak pernah mengevaluasi dan mengintrospeksi diri. Kesuksesan bisa membuat orang jatuh pada dosa kesombongan, ketamakan, lupa diri dan sebagainya. Sebaliknya kegagalan bisa membuat patah semangat bahkan kepahitan. Lengah sedikit, kita bisa terpeleset jatuh ke salah satunya. Maka itu bagi saya adalah sangat penting untuk terus melakukan introspeksi dan evaluasi.

Kepada jemaat Efesus, Paulus memberi pesan agar mereka tetap memperhatikan bagaimana hidup mereka. “Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif”. (Efesus 5:15). Ini adalah sebuah pesan penting agar tidak lupa diri, jangan menyia-nyiakan waktu dan agar bisa tetap bijaksana. Paulus melanjutkan pula, “dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat.” (ay 16). Jika hari-hari pada jaman itu dikatakan jahat, sekarang pun tidak ada bedanya. Mungkin malah lebih parah. Dosa mengintip dari segala aspek kehidupan kita. Hiburan, lingkungan rumah/pekerjaan/pendidikan, di mana-mana kita bisa setiap saat tersandung dalam dosa. Seringkali dosa-dosa ini dibungkus dengan kemasan yang sepintas terlihat baik, padahal di dalamnya ada bahaya yang mengintai. Paulus menggambarkan celah masuknya dosa-dosa ini lewat tiga hal yang saling berhubungan, yaitu dunia, kedagingan dan iblis. (Efesus 2:1-3). Keterkaitan ketiga aspek ini bagaikan pusaran air yang bisa menyeret kita untuk masuk ke dalamnya jika tidak hati-hati. Yesus pun mengajarkan agar kita senantiasa berjaga-jaga dan berdoa untuk mencegah masuknya pencobaan lewat kelemahan daging kita. “Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah.” (Matius 26:41).

Semua usaha keras kita dan pencapaian-pencapaian yang sudah kita raih bisa sia-sia dalam sekejap kalau kita membiarkan diri kita jatuh dalam dosa. Sangat ironis ketika kita telah mulai dengan Roh, namun berakhir dalam daging dan kehilangan janji-janji Tuhan. Itulah yang juga disinggung oleh Paulus dalam suratnya kepada jemaat Galatia. “Adakah kamu sebodoh itu? Kamu telah mulai dengan Roh, maukah kamu sekarang mengakhirinya di dalam daging? Sia-siakah semua yang telah kamu alami sebanyak itu? Masakan sia-sia!” (Galatia 3:3-4).

Sering mengevaluasi diri dan melakukan introspeksi akan membuat kita lebih awas dan waspada dalam berbagai kejatuhan itu, karena ada kalanya kita lemah terhadap berbagai godaan yang ada di sekeliling kita. Disamping itu, tekunlah berdoa dengan kerinduan akan Tuhan. Biarkan Roh Tuhan bekerja dan memimpin langkah-langkah kita, sehingga kita bisa terhindar dari jebakan yang mengarah kepada maut. Marilah kita senantiasa menjaga keberadaan diri kita agar tetap hidup bijaksana, bertumbuh lebih baik dari waktu ke waktu, dan tetap memuliakan Tuhan dalam setiap langkah.

Rajinlah mengevaluasi diri agar tidak mudah disesatkan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: